16 Desember 2011

Teknik Notasi Ilmiah

Dalam bagian ini akan menguraikan hal-hal yang bersifat pokok dari salah satu teknik notasi ilmiah yang mempergunakan catatan kaki. Tidak semua aspek dari teknik notasi ilmiah tersebut akan dibahas di sini melainkan bagian-bagian yang penting saja. Diharapkan dengan menguasai aspek-aspek yang bersifat esensial maka seseorang akan mampu mengkomunikasikan gagasannya secara ilmiah, atau paling tidak mampu memahami sebuah karya ilmiah.  
A.     Kutipan
Karya ilmiah dapat mengutip pendapat, konsep dan teori dari sumber lain dengan menyebutkan sumbernya sesuai dengan notasi yang diacu oleh penulis. Ada dua cara mengutip pendapat, konsep dan teori yaitu kutipan langsung dan tak langsung.
1.         Kutipan Langsung
            Kutipan langsung adalah pengambilan bagian tertentu dari tulisan orang lain tanpa melakukan perubahan ke dalam tulisan kita.
Syarat kutipan langsung adalah sebagai berikut:
  1. Tidak boleh melakukan perubahan terhadap teks asli yang dikutip
  2. Menggunakan tiga titik berspasi [. . . ]jika ada bagian yang dikutip dihilangkan
  3. Menyebutkan sumber sesuai dengan teknik notasi yang digunakan.
  4. Bila kutipan langsung pendek (tidak lebih empat baris) dilakukan dengan cara:
  •  Integrasikan langsung dalam tubuh teks
  •  Diberi jarak antarbaris yang sama dengan teks
  • Diapit oleh tanda kutip
Bila kutipan langsung panjang (lebih dari empat baris) dilakukan dengan cara:
§  Dipisahkan dengan spasi (jarak antarbaris) lebih dari teks
§  Diberi jarak rapat antarbaris dalam kutipan
Kecerdasan emosi merupakan kemampuan memantau dan  mengendalikan  perasaan  sendiri  dan  orang lain, serta menggunakan  perasaan-perasaan itu untuk “memandu pikiran dan tindakan”.1

1 Joseph LeDoux, The Emotional Brain (New York: Simon & Schuster, 1996), h. 143.
Contoh Kutipan Langsung Pendek (kurang dari tiga baris)
Kecerdasan emosi merupakan kemampuan memantau dan  mengendalikan  perasaan  sendiri  dan  orang lain, serta menggunakan  perasaan-perasaan itu untuk “memandu pikiran dan tindakan”.1

1 Joseph LeDoux, The Emotional Brain (New York: Simon & Schuster, 1996), h. 143.
 
Mayer dan Salovey mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai berikut:
Emotional intelligence involves the ability to perceive accurately, appraise, and express emotion; the ability to understand emotion and emotional knowledg; and ability to regulate emotions to promote emotional and intellectual growth.1

2 Peter Salovey & D.J. Sulyster,  Emotional Develompment and Emotional Inteligence (New York: Basic Books, 1997), hal. 10.
Contoh Kutipan Langsung Panjang lebih dari tiga baris
Mayer dan Salovey mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai berikut:
Emotional intelligence involves the ability to perceive accurately, appraise, and express emotion; the ability to understand emotion and emotional knowledg; and ability to regulate emotions to promote emotional and intellectual growth.1

2 Peter Salovey & D.J. Sulyster,  Emotional Develompment and Emotional Inteligence (New York: Basic Books, 1997), hal. 10.

1.                                     Kutipan Tak Langsung
      Kutipan tak lansung adalah kutipan yang menuliskan kembali dengan kata-kata sendiri. Kutipan ini dapat dibuat panjang atau pendek dengan cara mengintegrasikan dalam teks, tidak diapit dengan kata kutip dan menyebutkan sumbernya sesuai dengan teknik notasi yang dijadikan pedoman dalam menulis karya ilmiah.

Modernisasi sangat berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, yang merupakan salah satu dari ketiga kesatuan kebudayaan modern, yaitu perkembangan ilmu pengetahuan, perkembangan ekonomi kapitalis, dan berkembangnya masyarakat borjuis.[1][1]


1 Slamet Sutrisno, “Budaya Keilmuan dan Situasinya di Indonesia  Moedjanto et al. (ed.) Tantangan Kemanusiaan Universal (Yogyakarta: Kanisius, 1993), hal 145
Contoh Kutipan Taklangsung
Modernisasi sangat berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, yang merupakan salah satu dari ketiga kesatuan kebudayaan modern, yaitu perkembangan ilmu pengetahuan, perkembangan ekonomi kapitalis, dan berkembangnya masyarakat borjuis.[1][1]


1 Slamet Sutrisno, “Budaya Keilmuan dan Situasinya di Indonesia  Moedjanto et al. (ed.) Tantangan Kemanusiaan Universal (Yogyakarta: Kanisius, 1993), hal 145

Tanda catatan kaki diletakkan di ujung kalimat yang kita kutip dengan mempergunakan angka Arab yang naik diketik setengah spasi. Atau bisa juga  mempergunakan lambang tertentu dengan catatan bahwa lambang yang sama dapat diulangi dalam halaman yang berbeda, namun lambang yang berbeda harus dipergunakan untuk tiap catatan kaki dalam halaman yang sama. Catatan kaki dengan mempergunakan angka diberi nomor mulai dari angka 1 sampai habis catatan kaki dalam satu bab. Untuk bab baru catatan kaki dimulai lagi dengan angka 1 dan seterusnya.
Dalam satu kalimat dapat mengutip lebih dari satu kutipan. Setiap pernyataan atau konsep yang dikutip diberi tanda kutip. Semua tanda kutip disebutkan sumbernya pada catatan kaki.

Contoh kutipan lebih dari satu kutipan dalam satu kalimat.
Emosi adalah persepsi mental  yang merupakan umpan balik dari stimulus1,bila ditinjau dari sudut pandang biologi emosi adalah  ekspresi dan perasaan.yang ada pada cortex 2,  sedangkan emosi dari konteks sosial adalah perasaan pribadi dan pendekatan perilaku sebagai bawaan.3

[1][1]Joseph LeDoux, The Emotional Brain (New York: Simon & Schuster, 1996), h. 143.
2K.T. Strangman, The Psychology of Emotion (New York: Chichester, John Wiley &  Sons, 1996), h. 143.
3Peter Salovey & D.J. Sulyster, Emotional Develompment and Emotional  Inteligence(New York: Basic Books, 1997), h. 13
Sekiranya kalimat di atas yang menggunakan tiga kutipan dalam satu kalimat disusun menjadi  tiga buah kalimat yang masing-masing mengandung satu kutipan maka tanda catatan kaki ditulis sesudah tanda baca penutup: 
Menurut LeDoux, emosi adalah persepsi mental  yang merupakan umpan balik dari stimulus.[1][1]  Berbeda dengan pendapat Strangman, bahwa emosi ditinjau dari sudut pandang biologi adalah  ekspresi dan perasaan. Dalam hal ini ekspresi berada pada hypothalamus, sedangkan perasaan pada ncortex. 2 Salovey & Sulyster mendefinisikan emosi dari konteks sosial adalah perasaan pribadi dan pendekatan perilaku, emosi dipandang sebagai bawaan. 3

[1][1]Joseph LeDoux, The Emotional Brain (New York: Simon & Schuster, 1996), h. 143.
2K.T. Strangman, The Psychology of Emotion (New York: Chichester, John Wiley  &  Sons, 1996), h. 143.
3Peter Salovey & D.J. Sulyster, Emotional Develompment and Emotional Inteligence (New York: Basic Books, 1997), h. h. 13
 
A.       Catatan Kaki
Catatan kaki adalah penyebutan sumber yang dijadikan kutipan. Fungsi catatan kaki adalah memberikan penghargaan terhadap sumber yang dikutip dan aspek ligalitas untuk izin penggunaan karya tulis yang dikutip, serta yang terpenting adalah etika akademik dalam masyarakat ilmiah sebagai wujud kejujuran penulis.
Kalimat yang dikutip tersebut harus dituliskan sumbernya secara tersurat dalam catatan kaki. Kutipan yang diambil dari halaman tertentu harus disebutkan halamannya dengan singkatan hal, h, dan atau p,  umpamanya, hal. 143., h.143. atau p.143. Sekiranya  kutipan itu disarikan dari beberapa halaman maka dituliskan halaman-halaman yang dimaksud, umpamanya, hal. 143., hh. 6-10. atau pp. 6-10.

Contoh:
[1][1]Dali S. Naga, Pengantar Teori Sekor pada Pengukuran Pendidikan (Jakarta: Besbats, 1992), h. 306.


2R. I. Arends, Learning to Teach (Singapore: McGraw-Hill Book Company, 1989), hh.12-16.


Catatan kaki ditulis dalam satu spasi dan dimulai langsung dari pinggir, atau dapat juga dimulai setelah beberapa ketukan ketik dari pinggir, asalkan dilakukan secara konsisten. Nama pengarang yang jumlahnya sampai tiga orang dituliskan lengkap sedangkan jumlah pengarang lebih dari tiga orang hanya dituliskan nama pengarang pertama ditambah kata et al.(et alii, artinya, dan kawan-kawan).

Contoh :
3David L. Goetsch dan Stanley B. Davis,Quality Management: Introduction to Total Quality Management for Production, Processing, and Service (New Jersey:  Prentice-Hall, Inc., 2000), h.
35.

4Ronald K. Hambleton, H. Swaminathan dan H. Jane Rogers,
Fundamentals of Item  Response Theory  (London: Sage 
Publications, 1991), hh.12-13.

5John A. R. Wilson et al., Psychological Foundation of Learning and Teaching(New York: McGraw-Hill Book Company, 2004), h. 406.

Jika nama pengarangnya tidak ada maka langsung saja nama bukunya dituliskan atau dituliskan Anon. (Anonymous) di depan nama buku tersebut. Sebuah buku yang diterjemahkan harus ditulis baik pengarang maupun penterjemah buku, sedangkan sebuah kumpulan karangan cukup disebutkan nama editornya sebagai berikut:
6Rencana Strategi Pendidikan(Jakarta:Kementerian Pendidikan Nasional, 2010).

7Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem  Pendidikan Nasional Pasal 2, ayat 1.

8Peter Lauster, Tes Kepribadian terjemahan D.H. Gulo  (Jakarta: Gramedia: 2007), h. 27.

9K.R. Rose danG. Kasper (Eds). Pragmatics in Language Teaching (Cambridge: Cambridge University Press: 2010), h.13.

Sebuah makalah yang dipublikasikan dalam majalah, koran, kumpulan karangan atau dituliskan dalam forum ilmiah dituliskan dalam tanda kutip disertai informasi mengenai makalah tersebut:
10Defri Werdiono,“Upaya Menyelamatkan Gambut,” Kompas, 10 Agustus 2010, h.16.

11Douglas Koch dan Mark Sanders, “The Effects of Solid Modeling and Visualization on Technical Problem Solving,” Journal of Technology Education, Vol. 22 (2),Spring2011, hh. 1-5.

12H. Diessel dan M. Tomasello, “Why Complement Clauses Do Not Include a That-Coplementizer in Early Child LanguageProceedings of the Berkeley Linguistic Society, 2009, h. 14.

13Jujun S. Suriasumantri,  “Pembangunan Sosial Budaya Secara
Terpadu dalam  Masalah Sosial Budaya Tahun 2000: Sebuah Bunga Rampai  (Eds) Soedjatmoko et. al. (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1986),hh. 10-15.

Pengulangan kutipan dengan sumber yang sama dilakukan dengan memakai notasi op. cit.(opere citato, artinya, dalam karya yang telah dikutip) dan loc. cit. (loco citato, artinya, dalam tempat yang telah dikutip) dan ibid. (ibidem, artinya, dalam tempat yang sama). Pengulangan kutipan dengan sumber yang sama dilakukan dengan pengulangan nama pengarang tidak ditulis lengkap melainkan cukup nama familinya saja. Sekiranya pengulangan dilakukan dengan tidak diselang oleh pengarang lain maka dipergunakan notasi ibid.seperti tampak dalam contoh berikut:

14Ibid., h. 131.
15Ibid.
Artinya, dalam catatan kaki nomor 14  kita mengulangi kutipan dari karangan JujunS. Suriasumantri seperti tercantum dalam catatan kaki nomor 13 dengan nomor halaman yang berbeda. Sementara dalam catatan kaki nomor 15, kita mengulangi kutipan dari karangan JujunS. Suriasumantri seperti tercantum dalam catatan kaki nomor 13 dan tidak diselang oleh pengarang lain dengan nomor halaman yang sama.
Sekiranya kita mengulang karangan H. Diessel & M. Tomasello  dalam catatan kaki nomor 12 yang terhalang oleh karangan Jujun S. Suriasumantri maka kita tidak lagi menggunakan ibid.melainkan loc. cit. seperti contoh di bawah ini:

15Diessel dan Tomasello, loc. cit.

Ulangan halaman yang berbeda dan telah diselang oleh pengarang lain ditulis dengan mempergunakan op. cit. sebagai berikut:

16Diessel dan Tomasello, op.cit.,h.7.

Sekiranya dalam kutipan yang dipergunakan terdapat seorang pengarang yang menulis beberapa karangan maka penggunaan loc. cit.atau op. cit.akan membingungkan. Oleh sebab itu sebagai penggantinya dituliskan nama karangannya. Bila judul itu panjang maka dapat dilakukan  penyingkatan selama  hal  itu mampu  mewakili judul karangan yang dimaksud.

Contoh
17Diessel dan Tomasello, Why complement clauses, h. 9.

Kadang-kadang kita ingin mengutip sebuah pernyataan yang telah dikutip dalam karangan orang lain. Untuk itu maka kedua sumber itu dituliskan sebagai berikut:

18Guilford di dalam Howard Gardner, Frames  of Mind   (New York: Basic Books. Inc.  Publisher, 1983),  hh. 73-75.

Semua kutipan tersebut di atas, baik yang dikutip langsung maupun tidak langsung, sumbernya kemudian disertakan dalam daftar pustaka. Hal ini kita kecualikan untuk kutipan yang didapatkan dari sumber kedua sebagaimana tampak dalam catatan kaki nomor 18. Dalam catatan kaki nama pengarang dituliskan lengkap dengan tidak mengalami perubahan apa-apa, umpamanya, J. LeDoux ditulis lengkap Joseph LeDoux sedangkan dalam daftar pustaka nama pengarang disusun berdasarkan urutan abjad nama huruf awal nama familinya, yakni, LeDoux, Joseph.
Tujuan utama catatan kaki adalah mengidentifikasi lokasi yang spesifik dari karya yang dikutip.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tulisan Lainnya:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *