Tampilkan postingan dengan label Motivasi penelitian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi penelitian. Tampilkan semua postingan

08 April 2016

Penelitian Skripsi Tertunda

Sulit secara teknis kenapa ada yang skripsi, tesis dan disertasi begitu lama penyelesaiannya. Banyak menyangka pada masalah kesulitan judul semata. Secara kasat mata ternyata banyak hal diluar permasalahan teknis, jadi lebih bersifat non teknis, karena semua kampus tidak ada yang menghalangi kelulusan, bahkan bagi pembimbing skripsi ada beban yang tertunda kalau yang dibimbingnya belum selesai. Bagi kampus pun ada kendala dengan adanya penumpukan mahasiswa lama akan menurunkan trade record kampus itu sendiri yang menunjukan lemahnya struktur pembinaan riset mahasiswa dalam hal memotivasi dan penguatan budaya riset.Bahkan bukan hanya kampus swasta, kampus negeri sendiri dengan program beasiswanya masih menumpuk.

Dari pengalaman bersama ada beberapa masalah penting sampai tertunda skripsi atau tesis antara lain :

MASALAH PERSONAL
Masalah ini lebih diakibatkan masalah personal :
a). Keuangan menempati posisi pertama.
b). Belum siapnya mental mahasiswa untuk mulai riset sehingga menunda-nunda dengan tanpa alasan.
c). Kendala bimbingan dan dosen.
d). Kendala komunikasi
e). Skill methode dan pendekatan yang lemah.
f). Belum memahami dalam penyusunan judul,dll
h). Konsistensi dalam bimbingan lemah ketika mahasiswa menemukan kendala.

MASALAH AKADEMIS
Kendala lain yang klasik adalah dalam perkuliahan, seperti beberapa mata kuliah yang tertinggal, atau ada mata kuliah wajib yang belum lulus seperti metodologi riset, statistika dan seminar judul yang belum diambil jelas menghambat untuk lanjut bimbingan.
Beberapa hal bukan kesalahan mahasiswa lebih pada lemahnya manajemen kampus :
a). Prosedur penelitian yang rumit dalam hal birokrasi.
b). Koordinasi struktur pimpinan kampus dalam hal ini, antara kaprodi dan pembimbing yang belum sesuai.
c). Sikap idealis pimpinan yang jusrtru menyulitkan mahasiswa.
d). Kuantitas mahasiswa yang dibimbing dan waktu yang dimiliki para pembimbing.

MASALAH RISET
a). Terkendala kemampuan mahasiswa dalam menentukan analisis data.
b). Jangka waktu riset dan penjadwalan yang belum teratur
c). Referensi sulit dan langka
d). Penyebaran angket yang terlalu luas
e). Kemampuan pembimbing, ada yang hanya memahami penelitian kualitatif, tapi terkendala dengan riset kuantitatif dengan analisis statitik dan analisis data komputernya (SEM, SPSS, dll) yang lemah sehingga sepenuhnya menyerahkan pada usaha mahasiswa. (bersambung)

09 Desember 2014

Pahit-Manis yang Kamu Hadapi Ketika Sedang Berjuang dengan Skripsi

Oleh :  Pinka Wima
 
Masuk kuliah itu susah, tapi lulusnya lebih susah lagi. Alasannya? Apalagi kalau bukan skripsi. Banyak mahasiswa yang kelulusannya mesti tertunda karena tak kunjung menyelesaikan tanggungan satu ini. Nggak jarang, ada juga yang akhirnya menyerah lalu drop-out alias DO. Duh, sebenarnya semenyeramkan apa sih skripsi itu?

Kalau kamu adalah mahasiswa yang masih belum mencicip pahit-manisnya skripsi, artikel ini mungkin bisa sedikit memberitahumu. Sementara kalau kamu sedang skripsi? Semangaaaat! Kisah hidupmu mungkin tertulis di bawah ini!

1. Skripsi adalah arena pertarungan di mana kapasitas intelektual DAN kecerdasan emosionalmu diuji

Gampang?

Skripsi adalah kenyataan yang harus kamu terima via maharanigoestobangkok.blogspot.com

Sebenarnya skripsi tidaklah menyeramkan. Skripsi hanya salah satu kenyataan yang harus diterima mahasiswa. Cuma memang, kemampuan para mahasiswa untuk menerima kenyataan ini tidaklah sama.

Beberapa mahasiswa menolak menerima kenyataan dengan segera. Mereka memilih bersantai, malas-malasan di kamar kost atau mencari kesibukan baru yang gak ada hubungannya sama skripsi. Nah, karena itu skripsi sebenarnya gak cuma menuntut kapasitas intelektual yang tinggi (ceile). Dibutuhkan juga kecerdasan emosional yang mumpuni. Kamu akan disambut dengan roller coaster emosi yang hanya bisa dihadapi dengan motivasi tinggi dan kepercayaan diri. Sudahkah kamu memiliki kedua hal ini?

2. Mengerjakan skripsi membutuhkan fokus tak terbagi, sementara kamu akan bertemu banyak distraksi

gak mood

                                 Distraksi datang menghadang via pixgood.com

Sebagai mahasiswa tingkat akhir, kamu memang sudah tak diwajibkan untuk memasuki banyak kelas lagi. Bahkan mungkin tanggung jawab akademikmu tinggallah skripsi. Justru ini tantangannya: bisakah kamu fokus mengerjakan SATU HAL sementara di sisi lain kamu punya begitu banyak waktu luang?

Kalau kamu termasuk mahasiswa yang mudah fokus, beruntunglah kamu. Waktu luang ini bisa kamu manfaatkan sepenuhnya untuk skripsi. Cukup setengah atau satu semester, insya Allah skripsimu jadi! Tapi kalau kamu susah fokus? Waaah… bisa-bisa kamu bakal mainan Facebook, Twitter, Youtube. Belom lagi kumpulan film baru dan serial TV yang ada di hardisk dan menunggu untuk ditonton. Makanya, skripsi itu bisa dibilang ujian iman. Apakah imanmu cukup kuat agar tak tergoda oleh distraksi?

3. Supaya bisa lebih fokus, nggak jarang kamu akan mengurung diri di kamar dan banyak menghabiskan waktu sendirian

manusia gua

                                Merawat diri jadi lebih susah via www.wallpaperup.com
“Pin, besok sore ada reuni SMA sekalian buka puasa bareng. Lo ikut?”
“Sori nggak bisa nih, mau ngelarin Bab II dulu.”
“Pin, weekend ini ikut anak-anak ke Semarang ya!”
“Waaa pengeeen… tapi weekend ini aku harus ngetik transkrip wawancara buat skripsi T__T”
“Pin, makan malem aja deh yuk. ”
“Aku tadi udah delivery sih, soalnya harus ngerjain revisi malem ini.”
“AH ELAH! Ya udah, mandi dulu sana! Bau lo udah kayak manusia gua!”

5. Tapi ada juga yang lebih memilih mengerjakan di luar, bareng-bareng teman

Mahasiswa tua sangat bersemangat mengerjakan skripsi
Mahasiswa tua sangat bersemangat mengerjakan skripsi via yudibastian.blogspot.com
Mahasiswa tua /
Mengerjakan skripsi bersama /
Walau lulusnya beda-beda /
Ada juga dari kamu yang gak tahan sendirian di kamar dan lebih memilih meng-skripsi di luar bersama teman-teman. Sebenarnya ada banyak manfaat yang kamu dapat dari mengerjakan skripsi bareng. Kalian bisa saling mengomentari kasus masing-masing, memberi pencerahan dan ide mau dibawa kemana pembahasan skripsi temanmu, hingga membaca draf skripsi temanmu dan memperbaiki typo.

Tapi kamu harus tetap ingat, di akhir hari skripsi adalah kesunyian masing-masing. Maksudnya, yang mengerti skripsimu dan seberapa sulit tantangan yang kamu hadapi ya cuma kamu sendiri. Teman-temanmu hanya bisa membantu menyemangati. Kunci berhasil-tidaknya kamu skripsi tetap ada di tanganmu sendiri.

6. Tantangan mengerjakan skripsi memang tak pernah pasti. Misalnya, dosen pembimbing yang perfeksionis atau sulit ditemui.

hilang sudah moodmu buat ngerjain

                                 “Saya nggak suka kerjaan kamu.” via www.tumblr.com

Tak semua mahasiswa cukup beruntung punya dosen pembimbing yang bisa ditemui setiap saat. Mungkin saja beliau sangat sibuk sehingga hanya ada di kampus satu hari dalam seminggu. Bisa juga dia perfeksionis, dan terus menyuruhmu merevisi draf sampai menurutnya pekerjaanmu sempurna.
Bapak, Ibu, saya ini baru S-1~
Sebaliknya, kamu bisa juga yakin banget sama hasil kerjamu dan ingin buru-buru memperlihatkannya ke beliau. Sayangnya, tanggapan beliau belum tentu sesuai dengan harapan.

Kamu sebelum bimbingan:

tumblr_ma2rxxMkfK1r5pl3ao1_r1_500

Kamu setelah bimbingan:
giphy+(2)


7. Topik skripsi yang kamu garap juga bisa lebih sulit dari yang kamu kira

Ini kamu lagi berpikir keras

                                          berpikir keras via joserizal-ilham.blogspot.com

Kata kakak kelas, cari topik skripsi yang mudah-mudah saja. Tak perlu ngotot menghasilkan sesuatu yang tinggi, karena kamu masih ada di tingkat sarjana.
Karena itu kamu sengaja memilih topik skripsi yang punya banyak data, sudah jelas arahnya seperti apa, dan hipotesisnya pun logis. Sayang beribu sayang, belum tentu ini jaminan skripsimu gampang! Bisa jadi kamu disarankan dipaksa dosen untuk ganti teori, membongkar studi kasus, atau bahkan mengubah arah pertanyaan. Hatimu pun otomatis bergumam…
“Oh Tuhan, kenapa aku kemarin milih topik ini?”

8. Data yang tadinya kamu pikir akan mudah didapatkan juga bisa saja… well… gak tersedia.

Kamu mungkin baru sadar betapa sulit topik ini di tengah jalan
                                Malang melintang mencari data via dailyemerald.com
“Maaf, kami tidak bisa memberikan data yang Anda minta karena beberapa pertimbangan.”
Mungkin kamu pernah mendapat jawaban seperti itu dari narasumber yang kamu incar. Padahal kalau nggak ada data, kamu mau mengolah apa? Setengah panik dan setengah tertekan karena dikejar deadline, kamu pun dipaksa memutar otak dan berburu narasumber atau perusahaan yang lain. Kalau data tetap tak didapat, kamu benar-benar bergantung pada belas kasihan dosen pembimbing atau mukjizat Tuhan supaya skripsimu bisa selesai.

9. Hingga ada suatu masa di mana pertanyaan “Skripsinya udah sampai mana?” membuatmu lelah

Lebih baik pura-pura mati daripada ditanyai
Lebih baik pura-pura mati daripada ditanyai via digali.blogspot.com
Ketemu teman seangkatan di kampus:
"Gimana, udah sampai bab berapa?"
Ditanya Ayah di telepon:"Kapan rencana ketemu dosen pembimbing lagi?"
Di-Whatsapp teman lama: "Woy… bulan apa lo wisuda?"

HAHHH… AKU LELAH, LELAH MENGHADAPI SEMUA INI!

10. Sementara teman-temanmu mulai diwisuda satu per satu…

kamu kapan?
                                   kamu kapan? via ray-march-syahadat.blogspot.com

Ditinggal teman wisuda tidak kalah nyeseknya dibandingkan ditinggal mantan menikah. Kamu berusaha berbesar hati dengan mengucapkan selamat pada mereka. Toh juga kamu bahagia melihat mereka senyuman riang mereka. Di sisi lain, kamu mulai diusik satu pertanyaan nakal: kamu kapan?

12. Semakin lama, semakin kamu ragu. “Bisakah aku melewati semua ini?”

Aku galau, Ibu...
                                               Aku galau… via meefro683.deviantart.com

Semakin lama waktu yang kamu butuhkan untuk menyelesaikan skripsi, semakin rentan kamu galau pada kemampuan diri sendiri. Kamu sudah lelah secara mental, tidak yakin pula pada masa depan.
“Apakah aku bisa sarjana?”
“Aku bakal lulus nggak ya?”
“Gimana kalau ternyata aku DO?”

14. Tapi ingat, kamu sudah sejauh ini. Jangan menghukum dirimu sendiri dengan menyerah lalu berhenti.

Skripsi pasti berakhir
                                      Skripsi pasti berakhir via www.cangcut.net

Ketika kamu merasa lelah, muak, dan tak yakin pada diri sendiri,
Ketika kamu capek mengetik ribuan kata dan revisi,
Ingat, kamu tak sendirian. Penderitaanmu sudah pernah dirasakan semua mahasiswa di Indonesia yang wajib mengerjakan skripsi. Jika mereka berhasil melewatinya, kamu pun juga. Tidak ada alasan untuk berpikir bahwa kamu tidak mampu.
Mungkin sekarang kamu terseok-seok dan pengerjaan skripsimu mentok. Tapi badai ini pasti berakhir. Pasti. Janji.

15. Jangan putus asa, selama kamu memiliki mereka

Mereka yang tulus mendoakanmu
                               Mereka yang tulus mendoakanmu via rahmativation.blogspot.com

Jadi ketika kamu merasa tak semangat, ketika jari-jarimu malas digerakkan dan distraksi terlalu menggiurkan untuk dibiarkan, ingatlah wajah mereka di otakmu dan bayangkan kerja keras mereka untuk membiayai kuliahmu selama ini.

Jangan pernah bilang kamu tak punya motivasi. Bukankah ayah dan ibumu adalah alasan yang sangat kuat untukmu menyelesaikan skripsi? Dan jangan pernah merasa sendiri. Walau tak kamu dengar langsung, doa mereka selalu mengiringi.

16. Karena percayalah… toga wisuda itu sudah tak sabar menunggumu :’)

Toga wisuda itu sudah siap menunggumu

                                Toga wisuda itu sudah siap menunggumu via roscopictura.com

Toga sudah menunggumu. Pahit-manis perjuangannmu mengerjakan skripsi hari ini akan mengajarkanmu makna fokus, ketekunan, dan kesungguhan di masa depan nanti. Segala kerja kerasmu akan terbayarkan ketika melihat senyum orang tua, keluarga, dan teman-teman yang menyayangimu di hari wisuda.

KAMU BISA!

Bagi kamu yang sudah selesai mengerjakan skripsi, selamat, semoga pengalaman itu menempamu menjadi manusia yang lebih baik lagi. Sementara bagimu yang belum: semangat! Nggak usah takut. Skripsi hanyalah kenyataan, bukan momok yang menyeramkan! 


 

12 April 2011

Penelitian Tugas Akhir Itu Mudah

Oleh : Romi Satria Wahono


Puyeng dengan skripsi atau tugas akhir / Skripsi? Jangan kuatir, semua orang memang pernah mengalaminya. Nikmati dan warnai kehidupan akhir kampus dengan membuat tugas akhir / Skripsi yang bagus dan berkualitas. Sayang empat tahun proses pembelajaran kita (Mahasiswa Mahasiswi) kalau diakhiri dengan tugas akhir / Skripsi berkualitas rendah atau bahkan mengotorinya dengan membajak skripsi orang lain. Tugas akhir itu secara umum seharusnya berupa penelitian, meskipun beberapa jurusan ada yang mensyaratkan cukup dengan desain produk. Seri artikel ini sifatnya wajib dibaca  bagi mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir




Hakekat penelitian bagaimanapun juga adalah untuk "memecahkan masalah yang dihadapi". Penelitian adalah terjemahan dari bahasa Inggris "research" yang secara bahasa mengandung makna: re (kembali) dan to search (mencari). T. Hillway merangkumkan definisi penelitian adalah "studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut".

Sebelum melangkah lebih jauh, kita diskusi dulu tentang jenis penelitian. Intinya jenis penelitian bisa dilihat dari beberapa sudut pandang.
  1. Tingkat Penerapan (Penelitian Dasar, Penelitian Terapan)
  2. Jenis Informasi Yang Diolah (Penelitian Kuantitatif, Penelitian Kualitatif)
  3. Perlakuan Terhadap Data (Penelitian Konfirmatori, Penelitian Eksploratori)
  4. Tujuan (Penelitian Deskripsi, Penelitian Korelasi, Penelitian Eksperimen)
Kalau kita gambarkan hubungan dan himpitan antara jenis penelitian, bentuk mudahnya akan seperti dibawah (ditulis ulang dari Ronny Kountur, 2007) . Secara umum, setiap penelitian memberi efek kecenderungan ke jenis dibawahnya. Contoh, penelitan deskripsi itu biasanya kualitatif dan sifatnya eksplanatori. Sebaliknya penelitian eksperimen dan korelasi biasanya pengolahan datanya kuantitatif, dan sifatnya konfirmatori.




Untuk jurusan computing (teknik informatika, sistem informasi, ilmu komputer) biasanya berupa penelitian terapan (bukan penelitian dasar) yang sifat pengolahan datanya kuantitatif. Penelitian lebih banyak ke arah konfirmatori (bukan eksploratori) yaitu dengan melakukan pengujian terhadap hipotesis atau kerangka konsep yang sudah ditentukan. Dan tujuan penelitian biasanya untuk melihat korelasi antar variabel yang diteliti atau melakukan suatu eksperimen.

Tahapan penelitian sebenarnya hanya ada empat:

1. Identifikasi (Penemuan) Masalah
2. Perumusan Hipotesis
3. Pengujian Hipotesis dan Analisis
4. Kesimpulan

Kalau kita konversikan ke dalam struktur susunan tugas akhir mungkin tahapan penelitian itu akan terbagi seperti tabel di bawah:




Perlu diingat, tugas akhir di beberapa bidang ilmu bisa tidak berbentuk penelitian, tapi hanya berupa desain produk. Contoh desain produk misalnya:
  • Desain Bangunan atau Mesin
  • Desain Sistem
  • Pengembangan Sistem Tanpa Didahului Identifikasi Masalah
  • Perencanaan Strategis Bisnis
Jadi implikasi dari hal diatas, beberapa kegiatan di bawah bukan termasuk penelitian.
  • Mengembangkan situs portal
  • Mengembangkan situs web pribadi
  • Mengembangkan sistem informasi
  • Mengembangkan multimedia pembelajaran
Untuk yang lagi bikin skripsi tentang pengembangan sistem informasi atau multimedia pembelajaran, jangan keburu stress dulu. Desain produk bisa menjadi penelitian ketika produk dibuat karena adanya "suatu masalah atau kebutuhan riil". Tapi jangan lupa, produk tersebut juga harus diuji dengan beberapa parameter, dan kemudian dianalisa seberapa jauh terbukti bisa memecahkan masalah yang disetting di awal.

Nah contoh pengembangan situs portal yang termasuk penelitian misalnya dibawah:
  • Judul: Mengembangkan Situs Portal Traffic Tinggi dengan Teknik Search Engine Optimization (SEO)
  • Identifikasi Masalah: Situs portal sepi pengunjung
  • Perumusan Hipotesis: Teknik SEO dapat meningkatkan traffic situs
  • Buat Model atau Kerangka Konsep: Lakukan studi literatur tentang SEO dan rumuskan model serta teknik SEO yang tepat untuk situs portal yang sedang dibangun
  • Pengujian Hipotesis: Terapkan model SEO yang sudah dibuat. Uji parameter dalam model SEO
  • Analisa Hasil Pengujian: Terbukti bahwa model SEO kita kembangkan dapat meningkatkan traffic situs portal
  • Pengembangan multimedia pembelajaran yang berbasis penelitian, misalnya:
      Judul: Multimedia pembelajaran Berbasis "Real Constructivisme" untuk Mata Kuliah Bahasa Formal dan Automata
    • Identifikasi Masalah: Mata Kuliah Bahasa Formal dan Automata sulit dipahamkan ke siswa dengan sistem kuliah konvensional, harus ditempuh teknik baru untuk memahamkan ke siswa
    • Perumusan Hipotesis: Multimedia pembelajaran harus dibuat berdasarkan teoi "real constructivisme" untuk mempermudah pemahaman siswa
    • Buat Model atau Kerangka Konsep: Lakukan studi literatur tentang "real construtivisme" dan rumuskan model khusus untuk multimedia pembelajaran tersebut
    • Pengujian Hipotesis: Terapkan dengan penelitian tindakan kelas (action research)
    • Analisa Hasil Pengujian: Terbukti multimedia berbasis "real constructivisme" dapat meningkatkan pemahaman siswa
    Perlu dicatat bahwa penelitian itu berawal di masalah dan berakhir di pemecahan masalah. Kualitas penelitian ditentukan oleh kualitas "masalah" yang diteliti, bukan karena ketinggian teknologi yang digunakan. Reviewer jurnal internasional menjadikan "masalah penelitian" sebagai parameter utama proses review. Usahakan memilih "masalah penelitian" yang orisinil kita temukan. Meneliti masalah yang sudah diteliti orang lain membuat kita harus melakukan komparasi dengan approach orang lain tersebut Ok sudah mulai paham? Sekarang gimana sih sebenarnya cara menemukan atau mengidentifikasi masalah itu? Masalah bisa kita temukan lewat studi literatur, baik dari paper-paper di jurnal ilmiah atau proceedings conference. Untuk level D3 dan S1, bisa juga identifikasi masalah ini dari artikel di buku text book, majalah ilmiah, proceedings seminar atau surat kabar. Cara menemukan masalah yang kedua dan sebenarnya cara terbaik adalah lewat pengamatan lapangan. Nggak usah terlalu rumit-rumit, cukup fokuskan ke masalah yang ada di sekitar kita. Kalau kita mahasiswa mahasiswi ya sekarang perhatikan, mahasiswa mahasiswi , dosen atau kampus itu punya masalah apa yang belum dipecahkan dan kira-kira bisa dipecahkan dengan teknologi informasi. Ini kalau kita di jurusan computing, lain jurusan masalahnya bisa lain lagi. Pengamatan lapangan ini bisa juga dilakukan dengan menghadiri pameran industri, bedah buku, dsb. Intinya kejar masalah penelitian ini dari manapun, dan jangan lupa bahwa masalah penelitian ini benar-benar menjadi masalah yang harus dipecahkan, bukan masalah yang kita ada-adakan.Oh ya, masalah yang kita bidik bisa datang dari 3 hal:
  • Masalah yang ada di manusianya sendiri (People and Problem)
  • Masalah di cara dan struktur kerja (Program)
  • Fenomena yang terjadi (Phenomenon)
    Ok sudah semakin paham? Terus gimana kita bisa menentukan mana referensi untuk penelitian yang shahih? Khususnya untuk tinjauan pustaka (studi literatur) pada saat menyusun hipotesis dan kerangka konsep atau model, usahakan untuk menggunakan jurnal ilmiah (internasional). Urutan dari yang terbaik untuk bidang computing adalah:
  1. Jurnal ilmiah yang diterbitkan IEEE dan ACM
  2. Jurnal ilmiah yang diterbitkan asosiasi ilmiah Lain. Biasanya bisa didapatkan dari elsevier.Com
  3. EBSCOhost.Com atau sciencedirect.com
  4. Proceedings Conference (utamakan yang diterbitkan oleh IEEE Computer dan ACM)
    Apabila kita punya rencana untuk bermain di level internasional, usahakan tidak menggunakan jurnal ilmiah Indonesia, meskipun sudah diakreditasi oleh Dikti. Nggak ada uang untuk langganan jurnal ilmiah? Atau di kampus juga tidak tersedia jurnal online? Nggak perlu khawatir, bisa gunakan salah satu dari banyak jurnal ilmiah gratis. Paling tidak yang wajib dikunjungi oleh mahasiswa miskin tapi punya semangat penelitian seperti profesor  adalah: Masih belum nyantol juga? Lebih paham kalau saya ceritakan dengan satu contoh tugas akhir? Ikuti seri tulisan ini berikutnya  
     REFERENSI
    1. Ronny Kountur, Metode Penelitan, Penerbit PPM, 2007.
    2. Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kencana Prenada Media Group, 2005.
    3. Moh. Nazir, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Agustus 2003.
    4. Sulistyo-Basuki, Metode Penelitian, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, April 2006.

    03 April 2010

    Beberapa kesalahan dalam penyusunan skripsi

    Baru-baru ini, saya diminta mencarikan judul Skripsi Psikologi. Saya jadi teringat saat saya masih berjuang menyelesaikan skripsi dulu. Jujur, saya justru lebih faham bagaimana meneliti dengan baik dan benar setelah selesai ujian pendadaran serta melihat kawan-kawan saya yang lulus ujian. Ternyata, banyak mahasiswa (termasuk saya dulu) melakukan beberapa kesalahan mendasar dalam menyusun skripsi. Di antaranya adalah sebagai berikut:

    1. Tidak tahu tujuan, judul dan fokus penelitiannya.

    Banyak mahasiswa yang tidak tahu tujuan penelitian. Yang mereka tahu hanya lulus dan jadi sarjana saja Tapi bukan itu yang saya maksud. Tujuan di sini berarti: Untuk apa Anda meneliti persoalan ini? Selain itu, fokus yang diteliti apa? Batasannya seperti apa? Kalau penelitiannya kuantitatif, variabelnya apa saja? Aspek-aspek dari variabelnya apa? Kalau kualitatif, pertanyaan penelitiannya apa? Metodenya bagaimana? Nah, dari sini sebetulnya judul skripsi sudah dapat dibuat. Kalau masih bingung, kita dapat mencari fokus dan judul dari rekomendasi (saran) penelitian/skripsi yang sudah selesai (biasanya di bab terakhir).
    2. Bingung permasalahannya sendiri.
    Permasalahan yang hendak diteliti adalah latar belakang untuk memulai. Rumus sederhana dari “membuat” masalah adalah: menentukan das sein dengan das solen. Kemudian, memperkuat das sein dan das solen dengan bukti-bukti maupun dasar yang kuat. Das Sein adalah apa yang terjadi sesungguhnya (fakta di lapangan). Das solen adalah apa yang seharusnya terjadi (ideal). Keduanya harus bertentangan (dipertentangkan) karena masalah adalah kesenjangan antara das sein dengan das solen.
    3. Pola pikir tidak ilmiah.
    Pola pikir ilmiah itu sederhana kok. Anda mengungkapkan argumentasi dengan dasar. Atau dengan kata lain kebenaran akan terungkap jika kita punya dasar empiris yang kuat. Banyak mahasiswa memberikan argumentasi yang cukup baik tapi ternyata tidak punya dasar. Termasuk tulisan ini.  Tidak ada dasarnya. Kalau ini ilmiah, saya akan menyebutkan dasar-dasarnya. Misalkan hasil observasi atau wawancara dari para mahasiswa yang mengalami kesalahan dalam menyusun skripsi. Tapi ini hanya sharing pengalaman saja dan bukan tulisan ilmiah. Jadi, saya tidak akan menguatkannya dengan dasar-dasar tersebut. Oh ya, dasar dalam skripsi dapat dicari dari hasil penelitian, jurnal, teori, berita media dan lain sebagainya.

    4. Sok pintar

    Maksudnya banyak memasukkan kata-kata yang tidak dimengerti atau konsep-konsep yang tidak dipahami. Sikap sok pintar lainnya adalah membuat paragraf yang tidak sederhana. Terlalu banyak dan berbelit-belit. Kadang berfikir supaya halamannya banyak. Biar dosennya pusing bacanya. Sayangnya, justru dia sendiri yang bingung dengan maksud dari apa yang dia tulis.  Padahal, teori yang lebih sederhanalah yang akan digunakan. Bahasa yang lebih sederhanalah yang mudah diterima. Einstein pun bisa hebat karena dia mampu menyederhanakan teori relativitas.
    5. Asal Copy Paste
    Biasanya di Bab 2 atau Tinjauan Pustaka. Padahal, peneliti harus faham dan harus tahu kutipan itu untuk apa. Kalau tidak perlu ya jangan asal memasukkan kutipan.
    6. Tidak faham metode.
    Biasanya menggunakan metode A tapi ditulis menggunakan metode B. Metode itu sebetulnya mirip sekali dengan cara memasak. Kalau kita punya bahan telur maka metodenya bisa direbus atau digoreng. Nah, kalau kita tidak faham metode, bisa jadi kita akan merebus telur (yang sudah dibuang kulit luarnya) bersama-sama dengan minyak goreng. 
    7. Tidak ditulis penjelasannya.
    Mahasiswa harus menulis semua yang berkaitan dengan penelitian secara lengkap. Kalau ada pernyataan atau kalimat yang tidak jelas dan ditanyakan dosen waktu ujian, biasanya mahasiswa mampu menjawab. Namun, jawaban itu tidak ditulis atau tidak ada di naskah skripsi. Ini adalah kesalahan. Dalam ujian pendadaran, jawaban dari pertanyaan dosen seyogyanya sudah ada di naskah skripsi.
    8. Terlalu memikirkan EYD
    Menulis skripsi itu jangan terlalu fokus pada EYD. Tulis dulu dengan jelas dan logis substansinya. Baru setelah selesai, edit dan benarkan EYD serta aturan lainnya. Toh kalau ada yang terlewat akan dibantu dosen untuk memperbaikinya. 
    9. Ditunda dan ganti judul terus.
    Dalam proses penulisan skripsi, penyakit ini banyak membuat mahasiswa nggak selesai-selesai nulis skripsi. Alasan berganti adalah karena kesalahan konsep, kurang sempurna, nggak cocok, susah menelitinya, rekomendasi dosen dan lain sebagainya. Sebaiknya mahasiswa fokus pada satu konsep saja dan menerima kekurangan ataupun kelemahan dari fokus yang sudah dipilihnya. Sebab, dengan berganti-ganti konsep sama saja dengan terus menerus memulai skripsi dari awal lagi.
    Oke. itu saja dulu. Semoga pengalaman saya dapat membantu. Jangan pernah menyerah ya! Semoga cepat selesai skripsinya. Sukses selalu. Lebih baik jadi sarjana pengangguran daripada jadi mahasiswa pengangguran.

    Sumber : http://nafismudrika.wordpress.com

    03 Februari 2010

    Full Tips dan Trik Membuat Skripsi yang Efektif (Lengkap)

    Apa itu Skripsi

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), skripsi diartikan sebagai karangan ilmiah yang diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis. Buat sebagian mahasiswa, skripsi adalah sesuatu yang lumrah. Tetapi buat sebagian mahasiswa yang lain, skripsi bisa jadi momok yang terus menghantui dan menjadi mimpi buruk. Banyak juga yang berujar "lebih baik sakit gigi daripada bikin skripsi".

    skripsi adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi sebagai bagian untuk mendapatkan gelar sarjana (S1). Skripsi inilah yang juga menjadi salah satu pembeda antara jenjang pendidikan sarjana (S1) dan diploma (D3).

    Ada beberapa syarat yang musti dipenuhi sebelum seorang mahasiswa bisa menulis skripsi. Tiap universitas/fakultas memang mempunyai kebijakan tersendiri, tetapi umumnya persyaratan yang harus dipenuhi hampir sama. Misalnya, mahasiswa harus sudah memenuhi sejumlah SKS, tidak boleh ada nilai D atau E, IP Kumulatif semester tersebut minimal 2.00, dan seterusnya. Anda mungkin saat ini belum "berhak" untuk menulis skripsi, akan tetapi tidak ada salahnya untuk mempersiapkan segalanya sejak awal.

    Skripsi tersebut akan ditulis dan direvisi hingga mendapat persetujuan dosen pembimbing. Setelah itu, Anda harus mempertahankan skripsi Anda di hadapan penguji dalam ujian skripsi nantinya. Nilai Anda bisa bervariasi, dan terkadang, bisa saja Anda harus mengulang skripsi Anda (tidak lulus).

    Skripsi juga berbeda dari tesis (S2) dan disertasi (S3). Untuk disertasi, mahasiswa S3 memang diharuskan untuk menemukan dan
    menjelaskan teori baru. Sementara untuk tesis, mahasiswa bisa menemukan teori baru atau memverikasi teori yang sudah ada dan menjelaskan dengan teori yang sudah ada. Sementara untuk mahasiswa S1, skripsi adalah "belajar meneliti".

    Jadi, skripsi memang perlu disiapkan secara serius. Akan tetapi, juga nggak perlu disikapi sebagai mimpi buruk atau beban yang maha berat.

    Miskonsepsi tentang Skripsi

    Banyak mahasiswa yang merasa bahwa skripsi hanya "ditujukan" untuk mahasiswa-mahasiswa dengan kecerdasan di atas rata-rata. Menurut saya pribadi, penulisan skripsi adalah kombinasi antara kemauan, kerja keras, dan relationships yang baik. Kesuksesan dalam menulis skripsi tidak selalu sejalan dengan tingkat kepintaran atau tinggi/rendahnya IPK mahasiswa yang bersangkutan. Seringkali terjadi mahasiswa dengan kecerdasan rata-rata air lebih cepat menyelesaikan skripsinya daripada mahasiswa yang di atas rata-rata.

    Masalah yang juga sering terjadi adalah seringkali mahasiswa datang berbicara ngalor ngidul dan membawa topik skripsi yang terlalu muluk. Padahal, untuk tataran mahasiswa S1, skripsi sejatinya adalah belajar melakukan penelitian dan menyusun laporan menurut kaidah keilmiahan yang baku. Skripsi bukan untuk menemukan teori baru atau memberikan kontribusi ilmiah. Karenanya, untuk mahasiswa S1 sebenarnya replikasi adalah sudah cukup.

    Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa penelitian, secara umum, terbagi dalam dua pendekatan yang berbeda: pendekatan saintifik dan pendekatan naturalis. Pendekatan saintifik (scientific approach) biasanya mempunyai struktur teori yang jelas, ada pengujian kuantitif (statistik), dan juga menolak grounded theory. Sebaliknya, pendekatan naturalis (naturalist approach) umumnya tidak menggunakan struktur karena bertujuan untuk menemukan teori, hipotesis dijelaskan hanya secara implisit, lebih banyak menggunakan metode eksploratori, dan sejalan dengan grounded theory.

    Mana yang lebih baik antara kedua pendekatan tersebut? Sama saja. Pendekatan satu dengan pendekatan lain bersifat saling melengkapi satu sama lain (komplementer). Jadi, tidak perlu minder jika Anda mengacu pada pendekatan yang satu, sementara teman Anda menggunakan pendekatan yang lain. Juga, tidak perlu kuatir jika menggunakan pendekatan tertentu akan menghasilkan nilai yang lebih baik/buruk daripada menggunakan pendekatan yang lain.

    Kiat Memilih Dosen Pembimbing

    Dosen pembimbing (academic advisor) adalah vital karena nasib Anda benar-benar berada di tangannya. Memang benar bahwa dosen pembimbing bertugas mendampingi Anda selama penulisan skripsi. Akan tetapi, pada prakteknya ada dosen pembimbing yang "benar-benar membimbing" skripsi Anda dengan intens. Ada pula yang membimbing Anda dengan "melepas" dan memberi Anda kebebasan. Mempelajari dan menyesuaikan diri dengan dosen pembimbing adalah salah satu elemen penting yang mendukung kesuksesan Anda dalam menyusun skripsi.

    Tiap universitas/fakultas mempunyai kebijakan tersendiri soal dosen pembimbing ini. Anda bisa memilih sendiri dosen pembimbing yang Anda inginkan. Tapi ada juga universitas/fakultas yang memilihkan dosen pembimbing buat Anda. Tentu saja lebih "enak" kalau Anda bisa memilih sendiri dosen pembimbing untuk skripsi Anda.

    Lalu, bagaimana memilih dosen pembimbing yang benar-benar tepat?

    Secara garis besar, dosen bisa dikategorikan sebagai: (1) Dosen senior, dan (2) Dosen junior. Dosen senior umumnya berusia di atas 40-an tahun, setidaknya bergelar doktor (atau professor), dengan jam terbang yang cukup tinggi. Sebaliknya, dosen junior biasanya berusia di bawah 40 tahun, umumnya masih bergelar master, dan masih gampang dijumpai di lingkungan kampus.

    Tentu saja, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagai contoh, kalau Anda memilih dosen pembimbing senior, biasanya Anda akan mengalami kesulitan sebagai berikut:
    • Proses bimbingan cukup sulit, karena umumnya dosen senior sangat perfeksionis.
    • Anda akan kesulitan untuk bertemu muka karena umumnya dosen senior memiliki jam terbang tinggi dan jadwal yang sangat padat.
    Tapi, keuntungannya:
    • Kualitas skripsi Anda, secara umum, akan lebih memukau daripada rekan Anda.
    • Anda akan "tertolong" saat ujian skripsi/pendadaran, karena dosen penguji lain (yang kemungkinan masih junior/baru bergelar master) akan merasa sungkan untuk "membantai" Anda.
    • Dalam beberapa kasus, bisa dipastikan Anda akan mendapat nilai A.
    Sebaliknya, kalau Anda memilih dosen pembimbing junior, maka Anda akan lebih mudah selama proses bimbingan. Dosen Anda akan mudah dijumpai di lingkungan kampus karena jam terbangnya belum terlalu tinggi. Dosen muda umumnya juga tidak "jaim" dan "tidak sok" kepada mahasiswanya.

    Tapi, kerugiannya, Anda akan agak "sendirian" ketika menghadapi ujian skripsi. Kalau dosen penguji lain lebih senior daripada dosen pembimbing Anda, bisa dipastikan Anda akan "dihajar" cukup telak. Dan dosen pembimbing Anda tidak berada dalam posisi yang bisa membantu/membela Anda.

    Jadi, hati-hati juga dalam memilih dosen pembimbing.

    Tahap-tahap Persiapan dalam menyusun skripsi

    Kalau Anda beruntung, bisa saja dosen pembimbing sudah memiliki topik dan menawarkan judul skripsi ke Anda. Biasanya, dalam hal ini dosen pembimbing sedang terlibat dalam proyek penelitian dan Anda akan "ditarik" masuk ke dalamnya. Kalau sudah begini, penulisan skripsi jauh lebih mudah dan (dijamin) lancar karena segalanya akan dibantu dan disiapkan oleh dosen pembimbing.

    Sayangnya, kebanyakan mahasiswa tidak memiliki keberuntungan semacam itu. Mayoritas mahasiswa, seperti ditulis sebelumnya, harus bersikap proaktif sedari awal. Jadi, persiapan sedari awal adalah sesuatu yang mutlak diperlukan.

    Idealnya, skripsi disiapkan satu-dua semester sebelum waktu terjadwal. Satu semester tersebut bisa dilakukan untuk mencari referensi, mengumpulkan bahan, memilih topik dan alternatif topik, hingga menyusun proposal dan melakukan bimbingan informal.

    Dalam mencari referensi/bahan acuan, pilih jurnal/paper yang mengandung unsur kekinian dan diterbitkan oleh jurnal yang terakreditasi. Jurnal-jurnal top berbahasa asing juga bisa menjadi pilihan. Kalau Anda mereplikasi jurnal/paper yang berkelas, maka bisa dipastikan skripsi Anda pun akan cukup berkualitas.

    Unsur kekinian juga perlu diperhatikan. Pertama, topik-topik baru lebih disukai dan lebih menarik, bahkan bagi dosen pembimbing/penguji. Kalau Anda mereplikasi topik-topik lawas, penguji biasanya sudah "hafal di luar kepala" sehingga akan sangat mudah untuk menjatuhkan Anda pada ujian skripsi nantinya.

    Kedua, jurnal/paper yang terbit dalam waktu 10 tahun terakhir, biasanya mengacu pada referensi yang terbit 5-10 tahun sebelumnya. Percayalah bahwa mencari dan menelusur referensi yang terbit tahun sepuluh-dua puluh tahun terakhir jauh lebih mudah daripada melacak referensi yang bertahun 1970-1980.

    Salah satu tahap persiapan yang penting adalah penulisan proposal. Tentu saja proposal tidak selalu harus ditulis secara "baku". Bisa saja ditulis secara garis besar (pointer) saja untuk direvisi kemudian. Proposal ini akan menjadi guidance Anda selama penulisan skripsi agar tidak terlalu keluar jalur nantinya. Proposal juga bisa menjadi alat bantu yang akan digunakan ketika Anda mengajukan topik/judul kepada dosen pembimbing Anda. Proposal yang bagus bisa menjadi indikator yang baik bahwa Anda adalah mahasiswa yang serius dan benar-benar berkomitmen untuk menyelesaikan skripsi dengan baik.

    Hal-hal yang Perlu Dilakukan dalam menyusun skripsi

    Siapkan Diri. Hal pertama yang wajib dilakukan adalah persiapan dari diri Anda sendiri. Niatkan kepada Tuhan bahwa Anda ingin menulis skripsi. Persiapkan segalanya dengan baik. Lakukan dengan penuh kesungguhan dan harus ada kesediaan untuk menghadapi tantangan/hambatan seberat apapun.

    Minta Doa Restu. Saya percaya bahwa doa restu orang tua adalah tiada duanya. Kalau Anda tinggal bersama orang tua, mintalah pengertian kepada mereka dan anggota keluarga lainnya bahwa selama beberapa waktu ke depan Anda akan konsentrasi untuk menulis skripsi. Kalau Anda tinggal di kos, minta pengertian dengan teman-teman lain. Jangan lupa juga untuk membuat komitmen dengan pacar. Berantem dengan pacar (walau sepele) bisa menjatuhkan semangat untuk menyelesaikan skripsi.

    Buat Time Table. Ini penting agar penulisan skripsi tidak telalu time-consuming. Buat planning yang jelas mengenai kapan Anda mencari referensi, kapan Anda harus mendapatkan judul, kapan Anda melakukan bimbingan/konsultasi, juga target waktu kapan skripsi harus sudah benar-benar selesai.

    Berdayakan Internet. Internet memang membuat kita lebih produktif. Manfaatkan untuk mencari referensi secara cepat dan tepat untuk mendukung skripsi Anda. Bahan-bahan aktual bisa ditemukan lewat Google Scholar atau melalui provider-provider komersial seperti EBSCO atau ProQuest.

    Jadilah Proaktif. Dosen pembimbing memang "bertugas" membimbing Anda. Akan tetapi, Anda tidak selalu bisa menggantungkan segalanya pada dosen pembimbing. Selalu bersikaplah proaktif. Mulai dari mencari topik, mengumpulkan bahan, "mengejar" untuk bimbingan, dan seterusnya.

    Be Flexible. Skripsi mempunyai tingkat "ketidakpastian" tinggi. Bisa saja skripsi anda sudah setengah jalan tetapi dosen pembimbing meminta Anda untuk mengganti topik. Tidak jarang dosen Anda tiba-tiba membatalkan janji untuk bimbingan pada waktu yang sudah disepakati sebelumnya. Terkadang Anda merasa bahwa kesimpulan/penelitian Anda sudah benar, tetapi dosen Anda merasa sebaliknya. Jadi, tetaplah fleksibel dan tidak usah merasa sakit hati dengan hal-hal yang demikian itu.

    Jujur. Sebaiknya jangan menggunakan jasa "pihak ketiga" yang akan membantu membuatkan skripsi untuk Anda atau menolong dalam mengolah data. Skripsi adalah buah tangan Anda sendiri. Kalau dalam perjalanannya Anda benar-benar tidak tahu atau menghadapi kesulitan besar, sampaikan saja kepada dosen pembimbing Anda. Kalau disampaikan dengan tulus, pastilah dengan senang hati ia akan membantu Anda.

    Siapkan Duit. Skripsi jelas menghabiskan dana yang cukup lumayan (dengan asumsi tidak ada sponsorships). Mulai dari akses internet, biaya cetak mencetak, ongkos kirim kuesioner, ongkos untuk membeli suvenir bagi responden penelitian, biaya transportasi menuju tempat responden, dan sebagainya. Jangan sampai penulisan skripsi macet hanya karena kehabisan dana. Ironis kan?

    Format Skripsi yang Benar

    Biasanya, setiap fakultas/universitas sudah menerbitkan acuan/pedoman penulisan hasil penelitian yang baku. Mulai dari penyusunan konten, tebal halaman, jenis kertas dan sampul, hingga ukuran/jenis huruf dan spasi yang digunakan. Akan tetapi, secara umum format hasil penelitian dibagi ke dalam beberapa bagian sebagai berikut.

    Pendahuluan. Bagian pertama ini menjelaskan tentang isu penelitian, motivasi yang melandasi penelitian tersebut dilakukan, tujuan yang diharapkan dapat tercapai melalui penelitian ini, dan kontribusi yang akan diberikan dari penelitian ini.

    Pengkajian Teori & Pengembangan Hipotesis. Setelah latar belakang penelitian dipaparkan jelas di bab pertama, kemudian dilanjutkan dengan kaji teori dan pengembangan hipotesis. Pastikan bahwa bagian ini align juga dengan bagian sebelumnya. Mengingat banyak juga mahasiswa yang “gagal” menyusun alignment ini. Akibatnya, skripsinya terasa kurang make sense dan nggak nyambung.

    Metodologi Penelitian. Berisi penjelasan tentang data yang digunakan, pemodelan empiris yang dipakai, tipe dan rancangan sampel, bagaimana menyeleksi data dan karakter data yang digunakan, model penelitian yang diacu, dan sebagainya.

    Hasil Penelitian. Bagian ini memaparkan hasil pengujian hipotesis, biasanya meliputi hasil pengolahan secara statistik, pengujian validitas dan reliabilitas, dan diterima/tidaknya hipotesis yang diajukan.

    Penutup. Berisi ringkasan, simpulan, diskusi, keterbatasan, dan saran. Hasil penelitian harus disarikan dan didiskusikan mengapa hasil yang diperoleh begini dan begitu. Anda juga harus menyimpulkan keberhasilan tujuan riset yang dapat dicapai, manakah hipotesis yang didukung/ditolak, keterbatasan apa saja yang mengganggu, juga saran-saran untuk penelitian mendatang akibat dari keterbatasan yang dijumpai pada penelitian ini.

    Jangan lupa untuk melakukan proof-reading dan peer-review. Proof-reading dilakukan untuk memastikan tidak ada kesalahan tulis (typo) maupun ketidaksesuaian tata letak penulisan skripsi. Peer-review dilakukan untuk mendapatkan second opinion dari pihak lain yang kompeten. Bisa melalui dosen yang Anda kenal baik (meski bukan dosen pembimbing Anda), kakak kelas/senior Anda, teman-teman Anda yang dirasa kompeten, atau keluarga/orang tua (apabila latar belakang pendidikannya serupa dengan Anda).


    Beberapa Kesalahan Pemula dalam membuat Skripsi

    Ketidakjelasan Isu. Isu adalah titik awal sebelum melakukan penelitian. Isu seharusnya singkat, jelas, padat, dan mudah dipahami. Isu harus menjelaskan tentang permasalahan, peluang, dan fenomena yang diuji. Faktanya, banyak mahasiswa yang menuliskan isu (atau latar belakang) berlembar-lembar, tetapi sama sekali sulit untuk dipahami.

    Tujuan Riset & Tujuan Periset. Tidak jarang mahasiswa menulis “sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar kesarjanaan” sebagai tujuan risetnya. Hal ini adalah kesalahan fatal. Tujuan riset adalah menguji, mengobservasi, atau meneliti fenomena dan permasalahan yang terjadi, bukan untuk mendapatkan gelar S1.

    Bab I : Bagian Terpenting. Banyak mahasiswa yang mengira bahwa bagian terpenting dari sebuah skripsi adalah bagian pengujian hipotesis. Banyak yang menderita sindrom ketakutan jika nantinya hipotesis yang diajukan ternyata salah atau ditolak. Padahal, menurut saya, bagian terpenting skripsi adalah Bab I. Logikanya, kalau isu, motivasi, tujuan, dan kontribusi riset bisa dijelaskan secara runtut, biasanya bab-bab berikutnya akan mengikuti dengan sendirinya. (baca juga: Joint Hypotheses)

    Padding. Ini adalah fenomena yang sangat sering terjadi. Banyak mahasiswa yang menuliskan terlalu banyak sumber acuan dalam daftar pustaka, walaupun sebenarnya mahasiswa yang bersangkutan hanya menggunakan satu-dua sumber saja. Sebaliknya, banyak juga mahasiswa yang menggunakan beragam acuan dalam skripsinya, tetapi ketika ditelusur ternyata tidak ditemukan dalam daftar acuan.

    Joint Hypotheses. Menurut pendekatan saintifik, pengujian hipotesis adalah kombinasi antara fenomena yang diuji dan metode yang digunakan. Dalam melakukan penelitian ingatlah selalu bahwa fenomena yang diuji adalah sesuatu yang menarik dan memungkinkan untuk diuji. Begitu pula dengan metode yang digunakan, haruslah metode yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kalau keduanya terpenuhi, yakinlah bahwa skripsi Anda akan outstanding. Sebaliknya, kalau Anda gagal memenuhi salah satu (atau keduanya), bersiaplah untuk dibantai dan dicecar habis-habisan.

    Keterbatasan & Kemalasan. Mahasiswa sering tidak bisa membedakan antara keterbatasan riset dan “kemalasan riset”. Keterbatasan adalah sesuatu hal yang terpaksa tidak dapat terpenuhi (atau tidak dapat dilakukan) karena situasi dan kondisi yang ada. Bukan karena kemalasan periset, ketiadaan dana, atau sempitnya waktu.

    Kontribusi Riset. Ini penting (terutama) jika penelitian Anda ditujukan untuk menarik sponsor atau dibiayai dengan dana pihak sponsor. Kontribusi riset selayaknya dijelaskan dengan lugas dan gamblang, termasuk pihak mana saja yang akan mendapatkan manfaat dari penelitian ini, apa korelasinya dengan penelitian yang sedang dilakukan, dan seterusnya. Kegagalan dalam menjelaskan kontribusi riset akan berujung pada kegagalan mendapatkan dana sponsor.

    Menghadapi Ujian Skripsi

    Benar. Banyak mahasiswa yang benar-benar takut menghadapi ujian skripsi (oral examination). Terlebih lagi, banyak mahasiswa terpilih yang jenius tetapi ternyata gagal dalam menghadapi ujian pendadaran. Di dalam ruang ujian sendiri tidak jarang mahasiswa mengalami ketakutan, grogi, gemetar, berkeringat, yang pada akhirnya menggagalkan ujian yang harus dihadapi.

    Setelah menulis skripsi, Anda memang harus mempertahankannya di hadapan dewan penguji. Biasanya dewan penguji terdiri dari satu ketua penguji dan beberapa anggota penguji. Lulus tidaknya Anda dan berapa nilai yang akan Anda peroleh adalah akumulasi dari skor yang diberikan oleh masing-masing penguji. Tiap penguji secara bergantian (terkadang juga keroyokan) akan menanyai Anda tentang skripsi yang sudah Anda buat. Waktu yang diberikan biasanya berkisar antara 30 menit hingga 1 jam.

    Ujian skripsi kadang diikuti juga dengan ujian komprehensif yang akan menguji sejauh mana pemahaman Anda akan bidang yang selama ini Anda pelajari. Tentu saja tidak semua mata kuliah diujikan, melainkan hanya mata kuliah inti (core courses) saja dengan beberapa pertanyaan yang spesifik, baik konseptual maupun teknis.

    Grogi, cemas, kuatir itu wajar dan manusiawi. Akan tetapi, ujian skripsi sebaiknya tidak perlu disikapi sebagai sesuatu yang terlalu menakutkan. Ujian skripsi adalah "konfirmasi" atas apa yang sudah Anda lakukan. Kalau Anda melakukan sendiri penelitian Anda, tahu betul apa yang Anda lakukan, dan tidak grogi di ruang ujian, bisa dipastikan Anda akan perform well.

    Cara terbaik untuk menghadapi ujian skripsi adalah Anda harus tahu betul apa yang Anda lakukan dan apa yang Anda teliti. Siapkan untuk melakukan presentasi. Akan tetapi, tidak perlu Anda paparkan semuanya secara lengkap. Buatlah “lubang jebakan” agar penguji nantinya akan menanyakan pada titik tersebut. Tentu saja, Anda harus siapkan jawabannya dengan baik. Dengan begitu Anda akan tampak outstanding di hadapan dewan penguji.

    Juga, ada baiknya beberapa malam sebelum ujian, digiatkan untuk berdoa atau menjalankan sholat tahajud di malam hari. Klise memang. Tapi benar-benar sangat membantu.

    Jujur saja, saya (dulu) menyelesaikan skripsi dalam tempo 4 minggu tanpa ada kendala dan kesulitan yang berarti. Dosen pembimbing saya adalah seorang professor dengan jam terbang sangat tinggi. Selama berada dalam ruang ujian, kami lebih banyak berbicara santai sembari sesekali tertawa. Dan Alhamdulillah saya mendapat nilai A.

    Bukan. Bukan saya bermaksud sombong, tetapi hanya untuk memotivasi Anda. Kalau saya bisa, seharusnya Anda sekalian pun bisa.

    Pasca Ujian Skripsi

    Banyak yang mengira, setelah ujian skripsi segalanya selesai. Tinggal revisi, bawa ke tukang jilid/fotokopi, urus administrasi, daftar wisuda, lalu traktir makan teman-teman. Memang benar. Setelah Anda dinyatakan lulus ujian skripsi, Anda sudah berhak menyandang gelar sarjana yang selama ini Anda inginkan.

    Faktanya, lulus ujian skripsi saja sebenarnya belum terlalu cukup. Sebenarnya Anda bisa melakukan lebih jauh lagi dengan skripsi Anda. Caranya?

    Cara paling gampang adalah memodifikasi dan memperbaiki skripsi Anda untuk kemudian dikirimkan pada media/jurnal publikasi. Cara lain, kalau Anda memang ingin serius terjun di dunia ilmiah, lanjutkan dan kembangkan saja penelitian/skripsi Anda untuk jenjang S2 atau S3. Dengan demikian, kelak akan semakin banyak penelitian dan publikasi yang mudah-mudahan bisa memberi manfaat bagi bangsa ini.

    Bukan apa-apa, saya cuma ingin agar bangsa ini bisa lebih cerdas dan arif dalam menciptakan serta mengelola pengetahuan. Sekarang mungkin kita memang tertinggal dari bangsa lain. Akan tetapi, dengan melakukan penelitian, membuat publikasi, dan seterusnya, bangsa ini bisa cepat bangkit mengejar ketertinggalan.

    Jadi, menyusun skripsi itu sebenarnya mudah kan?




    Sumber : BaliVisual di http://gudangskripsi.wordpress.com

    Tips Sukses Ujian Skripsi, Ujian Lisan dan Sidang Karya Tulis

    Tips Ujian Skripsi 1

    "mampus deh gue, baru pertanyaan pertama aja, udah ngga bisa jawab" mungkin itu kalimat yang diucapan dalam hati, oleh mahasiswa yang lagi ujian lisan atau sidang, ketika kick off ujian sudah dimulai dan mulut terkunci ngga bisa jawab pertanyan pertama dari penguji. Keringat dingin pasti keluar, dan perasaan pasrah biasanya segera mengikuti. Agar kejadian ini tidak menimpa anda yang mau sidang, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh anda pada saat sebelum, ketika sidang berlangsung, dan pada saat pasca sidang, yaitu:
    1. siapkan ppt presentasi sebaik mungkin, dan praktekan terlebih dahulu dirumah, presentasilah didepan cermin, dan hitung waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan semua presentasi. segera kurangi slide yang tidak penting jika waktu presentasi terlalu panjang dibandingkan durasi yang diijinkan
    2. pakai baju yang bikin anda Pede. untuk wanita sebaiknya pakai baju yang sopan yang ngga banyak buka-bukaannya. penampilan rapi akan membantu memberikan hallo effect yang baik. penguji juga akan mengapresiasi anda secara positif.
    3. datang 1 jam - 30 menit sebelumnya, untuk mempelajari situasi dan mencoba peralatan audio visual, termasuk multi media projector yang akan digunakan. siapa tau format file dan komputer anda tidak cocok dengan format multi media proyektornya.
    4. siapkan file presentasi cadangan di flash disk anda, minimal dalam 2 format, ppt 2003 dan ppt 2007, sebagai back up siapa tahu komputer anda ngadat. atau file presentasi tiba-tiba diganggu virus atau makhluk halus lainnya.
    5. siapkan hardcopy ppt anda untuk sejumlah penguji dan anda sendiri, siapa tahun mati aliran listrik secara tiba-tiba. tahu sendiri kan, gimana PLN sekarang ini. kalau ada hard copy anda masih bisa berpresentasi dengan bantuan semua audiens membaca hard copu ppt anda.
    6. pilih posisi presentasi yang nyaman, dan tidak perpotensi untuk membelakangi audience. upayakan anda ada dalam posisi berhadapan (face to face) secara firm dengan audience.
    7. presentasi dengan tenang. jaga kontak mata dengan audiens, hindari membaca tulisan yang ada di layar secara kaku, seperti pembaca berita TVRI. tulisan di ppt sebaiknya pointer saja, dan kalimat presentasi anda improvisasi sesuai dengan karakter anda.
    8. jangan meniru gaya presentasi, cara bicara, dan bahasa tubuh orang lain. meskipun anda pengagum salah seorang tokoh populer dan terkenal, sebaiknya tidak meniru gaya mereka. Be Yourself.
    9. tidak perlu panik dalam menjawab pertanyaan penguji. jangan langsung menjawab tapi konfirmasikan terlebih dahulu maksud pertanyaan dari si penguji. Yang harus dilakukan mahasiswa sebelum menjawab pertanyaan, adalah harus bertanya kembali. "Pak, apakah hal ini yang bapak maksud dalam pertanyaan itu?" jadi tugas mahasiswa sebelum menjawab pertanyaan ujian adalah mengkonfirmasi terlebih dahulu maksud dari pertanyaan si penguji.
    10. jangan ngotot jika memang salah atau tidak bisa menjawab. lebih baik mengakomodasi kritik dan keberatan para penguji. jika sudah diakomodasi si penanya biasanya akan mati kutu, tidak bertanya lagi. ngotot akan membuat perdebatan menjadi tidak terkendali.
    11. rekam semua presentasi dan tanya-jawab yang terjadi sebagai bahan untuk mengklarifikasi perbaikan dan saran-saran penyempurnaan.
    12. segera menghadap pembimbing setelah ada selesai sidang, dan segera perbaiki naskan tulisan anda, sebelum momentum dan rasa malah menyerang anda.
    13. selamat belajar dan berjuang!
    Tips Ujian Skripsi 2

    Benar. Banyak mahasiswa yang benar-benar takut menghadapi ujian skripsi (oral examination). Terlebih lagi, banyak mahasiswa terpilih yang jenius tetapi ternyata gagal dalam menghadapi ujian pendadaran. Di dalam ruang ujian sendiri tidak jarang mahasiswa mengalami ketakutan, grogi, gemetar, berkeringat, yang pada akhirnya menggagalkan ujian yang harus dihadapi.

    Setelah menulis skripsi, Anda memang harus mempertahankannya di hadapan dewan penguji. Biasanya dewan penguji terdiri dari satu ketua penguji dan beberapa anggota penguji. Lulus tidaknya Anda dan berapa nilai yang akan Anda peroleh adalah akumulasi dari skor yang diberikan oleh masing-masing penguji. Tiap penguji secara bergantian (terkadang juga keroyokan) akan menanyai Anda tentang skripsi yang sudah Anda buat. Waktu yang diberikan biasanya berkisar antara 30 menit hingga 1 jam.

    Ujian skripsi kadang diikuti juga dengan ujian komprehensif yang akan menguji sejauh mana pemahaman Anda akan bidang yang selama ini Anda pelajari. Tentu saja tidak semua mata kuliah diujikan, melainkan hanya mata kuliah inti (core courses) saja dengan beberapa pertanyaan yang spesifik, baik konseptual maupun teknis.

    Grogi, cemas, kuatir itu wajar dan manusiawi. Akan tetapi, ujian skripsi sebaiknya tidak perlu disikapi sebagai sesuatu yang terlalu menakutkan. Ujian skripsi adalah "konfirmasi" atas apa yang sudah Anda lakukan. Kalau Anda melakukan sendiri penelitian Anda, tahu betul apa yang Anda lakukan, dan tidak grogi di ruang ujian, bisa dipastikan Anda akan perform well.

    Cara terbaik untuk menghadapi ujian skripsi adalah Anda harus tahu betul apa yang Anda lakukan dan apa yang Anda teliti. Siapkan untuk melakukan presentasi. Akan tetapi, tidak perlu Anda paparkan semuanya secara lengkap. Buatlah "lubang jebakan" agar penguji nantinya akan menanyakan pada titik tersebut. Tentu saja, Anda harus siapkan jawabannya dengan baik. Dengan begitu Anda akan tampak outstanding di hadapan dewan penguji.

    Juga, ada baiknya beberapa malam sebelum ujian, digiatkan untuk berdoa atau menjalankan sholat tahajud di malam hari. Klise memang. Tapi benar-benar sangat membantu.

    Jujur saja, saya (dulu) menyelesaikan skripsi dalam tempo 4 minggu tanpa ada kendala dan kesulitan yang berarti. Dosen pembimbing saya adalah seorang professor dengan jam terbang sangat tinggi. Selama berada dalam ruang ujian, kami lebih banyak berbicara santai sembari sesekali tertawa. Dan Alhamdulillah saya mendapat nilai A.

    Bukan. Bukan saya bermaksud sombong, tetapi hanya untuk memotivasi Anda. Kalau saya bisa, seharusnya Anda sekalian pun bisa.





    Sumber : DR. Yudi Pramudiana di http://yudipram.wordpress.com

    12 Januari 2010

    Kenapa menunda skripsi

    Banyak orang yang sering menunda-nunda rencananya. Dan banyak alasan bisa melatarbelakanginya, baik itu menunggu saat yang tepat, atau merasa kurang mantap. Namun procrastination atau menunda-nunda adalah salah satu gejala yang cenderung merugikan.

    Sebab saya pun adalah orang yang senang menunda-nunda pekerjaan. Seringkali saya baru akan memulai mengerjakan tugas diakhir batas tenggat waktu. Sebab rasa-rasanya saya baru dapat berpikir jernih ketika under preasure mengejar deadline. Memang sepertinya tidak ada masalah dengan menunda-nunda sebab toh pada akhirnya tugas selesai juga.
    Kadang-kadang menunda-nunda sesuatu itu dapat menjadi hal yang positif. Sebab sesuatu yang akan berakibat buruk menjadi tertunda pula.
    Sebagai contoh: saya mencintai seorang perempuan yg sangat saya kagumi, akan tetapi rasa-rasanya saya tidak dapat berbuat apa-apasebagai berikut jika saya menyampaikannya bahwa saya sayang dia mungkin dia akan menjawab: maaf saya telah punya pacar! AAA TIIDAAAK! Lebih baik saya tunda-tunda sampai situasi aman dan terkendali istilah ABRI-nyamah. Tetapi tidak semua penundaan membawa maslahat malah seringkali banyak mudharatnya.
    Akan tetapi mengapa manusia sering menunda-nunda sesuatu?
    Mari kita lihat pendapat psikolog Dr. Lenora M. Yuen, dari California University.
    Perfeksionis
    Pefeksionis adalah salah-satu penyebab utama penundaan, yaitu sikap yang disebabkan oleh pikiran yang tidak realistis. Dosen saya bercerita tentang seorang mahasiswa yang belum juga menyelesaikan sekripsinya selama 1 tahun. “Padahal dia itu telah mempunyai segudang catatan, tetapi itu tidak akan membuatnya lebih baik,” sebab menurut dosen saya. “Itu terlalu banyak, lebih dari yang dia butuhkan.”
    Takut Salah
    Penundaan sering kali datang dari ketakutan, lebih tepatnya rasa takut salah. Orang yang seperti ini tidak akan pernah mengetahui kemampuan mereka yang sesungguhnya karena sifatnya yang sering menunda-nunda sesuatu.
    Cepat Frustasi
    Setiap manusia pada umumnya dapat memahami betapa menyenangkannya dapat menyelesaikan tugas. Tetapi memikirkan pekerjaan bisa sangat tidak tertahankan. Sehingga berakhir tanpa tindakan dan malah Frustasi.
    Pemarah
    Beberapa orang seringkali menunda-nunda sesuatu ketika mereka marah kepada orang lain (atau lembaga yang bersangkutan). Orang sering marah apabila memilki terlalu banyak hal yang harus dikerjakan, sehingga menunda-nunda adalah jalan untuk mengatakan, “Ini terlalu banyak.”
    Tidak Dapat Mengatakan Tidak
    Ketika teman mengatakan “Main yu?” maka seorang procrastinatior cenderung untuk tdk bisa mengetakan tidak. Atau mereka mengalami kesulitan untuk mengatakan: “Jika saya main nanti skripsi saya tertunda…” (Oh no. belagu bgt.)
    Lebih Senang Bekerja Dalam Tekanan
    Orang seperti ini biasanya mengaku akan lebih baik bekerja di dalam tekanan, atau mereka lebih menyukai saat-saat akhir. Namun hal ini bisa manjadikan banyak masalah. (Efek dari interaksi kita dengan orang lain)
    Tidak Memiliki Batas Waktu
    Ketika kita berkerja tanpa batas waktu, kita bisa mengatakan pada diri kita sendiri “Nanti ajalah dipikir dulu caranya.” Maka mungkin kita tidak akan pernah dapat menyelesaikannya dengan cara hanya memikirkannya.
    Memiliki Hal Kecil yang Harus Dilakukan
    Hal-hal kecil merupakan penyebab banyaknya penundaan. Hal itu membuat kita sulit bekerja.
    Maka apa yang harus dilakukan?
    Mengindentifikasi Masalah
    Jika Anda seorang procrastinator atau takut akan salah. Maka temukanlah pola kenapa Anda menunda-nunda suatu pekerjaan. Sehingga Anda dapat mengungkap pekerjaan apa yang selalu Anda tunda. Atau memerlukan keterampilan baru (penguasaan materi) guna terbebas dari rasa takut. Atau Anda dapat tidak mengambil pekerjaan yang dapat membuat Anda marah jika mengerjakannya. (Tapi skripasimah wajib!)
    Membuat Komitmen
    Buatlah komitmen untuk berubah. (Siap. Grak.)
    Atur Waktu Memulai
    Jika kebanyakan orang menandai batas akhir waktu skripsi. Maka bagi seorang procrastinator menjadwalkan waktu untuk memulai sesuatu sangatlah penting. Hal ini berguna untuk mengetahui lama (atau pendeknya) waktu yang diperlukan untuk menyusun skripsi. Agar tdk berlarut-larut. (Sip lah!)
    Menjadwalkan Batas Akhir Kerja
    Buatlah potongan ditengah jadwal yang panjang dlm menyelesaikan tugas Anda, misal: enam bulan untuk menyelesaikan skripsi Anda; satu hari khusus untuk main PS! (Yes.)
    Mengatur Jadwal
    Atur secara teliti berapa waktu yang diperlukan setiap harinya untuk mengerjakan skripsi. Tuliskan janji di kalendar Anda. Lakukan apa yang telah Anda janjikan guna memberikan rasa berhasil terhadap Anda.
    Hentikan Pekerjaan Besar Guna Melakukan Hal Kecil
    Jika tujuan Anda menyusun sebuah skripsi, maka jangan berfikir harus menyelesaikan 200 halaman, akan tetapi paragraf demi paragraf, satu kata setiap kali.
    Berpikir Terlebih Dahulu
    Jika Anda memiliki prioritas hal penting dan hal sepele untuk dikerjakan. Maka kerjakanlah hal-hal yang dianggap sepele terlebih dahulu, guna selanjutnya hanya mengerjakan hal yang penting dan mengesampingkan yang sepele. Save file skripsi Anda jika terasa lelah, atau matikan komputer, atau diamlah jika jika tidak ada hal yang lebih baik untuk dikerjakan.
    Kerjakan Hal yang Terburuk Terlebih Dahulu
    Buatlah jadwal mingguan pertama Anda untuk mengerjakan hal yang paling dibenci oleh Anda. Sehingga akan terlihat lebih mudah selanjutnya. (Siap grak!)
    Perbaiki Lingkungan Anda
    Buatlah sesuatu yang membosankan terasa lebih menyenangkan. Misalanya dengan memutar musik atau mengundang teman untuk berdiskusi dan berkerjasama. Musik dan percakapan dapat membantu memudahkan pekerjaan Anda, namun demikian akan sedikit memperlambat kinarja Anda. Atau pergilah ke tempat yang sunyi.
    Berikan Diri Anda Hadiah
    Berikan diri Anda hadiah bagaimanapun jalannya. Si Unyil mengaku hanya karena ia akan menghadiahi dirinya sendiri ia dapat menyelesaikan skripsi sarjananya dengan makanan favoritnya setiap kali ia menyelesaikan beberapa paragraf. (Yes lintuh atuh uy!)
    Berkelompok dan Minta Dukungan Teman
    Beritahu teman-temanmu apa yang menjadi tujuanmu. Hal ini akan menjadi tekanan yang positif dan dengan berkelompok Anda mungkin akan mendapat bantuan.
    Menjaga dan Mencatat Setiap Saat yang Tepat
    Catat berapa banyak waktu yang dihabiskan selama Anda melakukan penundaan, berapa banyak Anda menelepon, berapa kali Anda duduk di pertemuan. Dengan demikian Anda dapat melihat berapa banyak waktu yang telah Anda habiskan untuk hal-hal yang kurang berguna.
    Buatlah permainan guna mengalahkan sifat menunda-nunda. Biasakan diri Anda untuk tidak hanya memandang hasil akhir tetapi lebih pada sebuah proses keberhasilan kecil yang berturut-turut. Ini adalah ringkasan guna menolong Anda untuk mengalahkan sifat menunda-nunda:
    1. Menyatakan tujuan.
    2. Atur waktu yang rasional untuk menyelesaikannya.
    3. Beri tanda deadline di jadwal Anda.
    4. Temukan seseorang yang dapat memberikanmu saran dan motifasi.
    5. Berjanjilah pada diri sendiri untuk memberikan hadiah setiap kali Anda menyelesaikan tiap bagian selama proses pengerjaan.
    Maka kapan Anda akan memulai skripsi?

    Tulisan Lainnya:

    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

    Formulir Kontak

    Nama

    Email *

    Pesan *