Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

20 Desember 2015

RESENSI BUKU (NEW)


Buku     : Metodologi Riset
Penulis  : Ahmad Kurnia, SPd, MM.
Penerbit: Reconiascript Publishing
Tahun    : 2015
Hal.       : 212 Hal.
Harga    : Rp. 80.000,-(belum Ongkir)

Sebuah hasil dokumentasi blog sejak tahun 2007 yang disunting penulis sehingga menghasilkan karya yang lebih sederhana mudah dipraktekan dalam penelitian. Secara khusus untuk mahasiswa tingkat akhir jurusan
bahasa yang sebenarnya  tidak begitu jauh berbeda dengan penelitian lainnya seperti pendidikan, manajemen dan komunikasi, tapi lebih dekat pada pola komunikasi dalam berbahasa. Penyajian penelitian lebih bersifat kualitatif, tapi secara umum semua penelitian adalah standar mencari jawaban dari sebuah masalah dan fenomena yang sering terjadi dalam komunikasi bahasa. 

Paradigma penelitian bahasa sebagian ahli beranggapan lebih tepat menggunakan metode kualitatif tapi tidak menutup kemungkinan metode kuantitatif dapat dijadikan sebagai dasar acuan dalam analisa datanya. Dikhotomi ini terjadi sebagai suatu hal yang wajar dalam penelitian, karena mencari kebenaran juga membutuhkan adanya suatu pilihan yang paling mudah, fleksibel dan dapat dianalisis secara transparan.

Begitu juga ketentuan dalam penulisan adalah membuat skema penulisan untuk memudahkan penelitian. Suatu penelitian selalu diawali dengan suatu masalah. Banyak para peneliti yang mengalami hambatan dalam memilih masalah dan merumuskan masalah yang akan diteliti. Bahkan ada yang memulai penelitian dengan mencari judul dulu kemudian dicari masalahnya. Sehingga saat ditanya tentang masalah sebenarnya dari judul tersebut calon peneliti  tidak bisa memahaminya dengan baik. Semoga bermanfaat.

INFO & PESANAN
Ahmad Kurnia
SMS/WA 081314492571
Email : ahmadkurnia@gmail.com

13 September 2015

RESENSI BUKU



Judul buku : Sekolah Saja Tidak Pernah Cukup
Penerbit      : PT. Gramedia Pustaka Utama
Penulis       : Andrias Harefa
Halaman     : xi + 177
Kategori     : perilaku manusia pembelajar.

Semua orang ingin berubah. Ya, kita tentu sangat setuju dengan pernyataan tersebut. Tetapi kita juga tahu bahwa tak banyak orang yang bisa melakukannya, apalagi menyelesaikannya. Selain banyak yang tidak bisa melihat kesempatan itu, sebagian besar lainnya justru tidak bergerak. Jika pun bergerak tetapi gagal menyelesaikan misi mulia itu. Sehingga perubahan itu tak kunjung terjadi.

Menurut versi majalah dan lembaga survei di amerika orang-orang terkaya di dunia  dijadikan tolak ukur untuk membedakan antara mereka (winners?) dengan para pecundang (losers). Tetapi untuk menjadi kaya raya dan sukses dalam bisnis, orang tidak perlu harus memiliki gelar akademis.

Tanpa keberanian dan kemampuan untuk menerobos pola pikir dan kebiasaan universitas, orang tidak dimungkinkan untuk mencapai prestasi puncak seperti yang dicapai oleh orang-orang yang sukses tanpa gelar akademis.paling-paling ia akan menjadi bagian dari kelas menengah yang mungkin cukup mapan, tetai belum mencapai puncak prestasi (peak performance).

Sesungguhnya menjadi kaya dan sukses dalam berbisnis, pertama-tama memang tidak ditentukan oleh ada atau tidak adanya gelar kesarjanaan, tetapi lebih ditentukan oleh faktor-faktor lain. Dan orang-orang yang kaya raya selalu mendemontrasikan hal-hal seperti:

Pertama, ide, keyakinan dan visi kuat mengenai masa depan masyarakat dunia dan bagaimana menangguk keuntungan dari semua hal itu; kedua, mereka mamiliki sensitivitas terhadap kebutuhan pasar; ketiga, mereka sangat kreatif untuk menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar; keempat, mereka mengambangkan keberanian untuk mengambil risiko dalam usia muda (risk-taker); kelima, mereka memiliki kebiasaan bekerja keras, yang bafi mereka justru menyenangkan karena pilihan kerja mereka bertalian erat dengan minat dan bakat  atau talenta pribadi; keenam, mereka memiliki toleransi terhadap kegagalan dan tidak menganggapnya sebagai hal yang “haram” atau “najis”, tetapi justru perlu untuk dapat sungguh-sungguh berhasil; ketujuh, mereka pantang menyerah dan mendemontrasikan ketekunan bekerja yang luar biasa; dan seterusnya. Itulah beberapa paktor yang lebih dominan daripada atribut tempelan yang diberikan universitas ( gelar akademis ).

Para agen dan perintis perubahan adalah orang-orang yang selalu menerobos batas-batas konvensional karena dipandu oleh keyakinan, visi dan misi hidup mereka yang relatif jelas. Mereka adalah pengambil risiko yang suka ‘menjemput’ tantangan karena merasa tahu dan yakin dapat meminimalisasi risiko-risiko tersebut  ( bukan gambler yang lebih banyak mengandalkan peruntungan, hoki, atau nasib baik semata).
Sudah waktunya, juga di indonesia, visi, misi, dan strategi pendidikan ditata ulang dengan secara seksama memeriksa asumsi-asumsi yang selama ini dipegang teguh tanpa sikap kritis yang seharusnya menjadi jiwa akademis. Universitas harus berhenti memproduksi beo-beo dan mesin penghafal yang melecehkan potensi manusia sebagai satu-satunya ciptaan yang diciptakan o;eh sang pencipta dengan dianugrahi daya cipta untuk mencipta dalam proses belajar berbakti, beriman dan bertakwa hanya kepada sang pencipta.
Persekolahan formal tidak pernah cukup membekali angkatan muda untuuk menapaki kehidupan di awal abad 21 ini

Robert T. Kiyosaki dalam buku “Rich Dad, Poor Dad” ia menjabarkan enam pelajaran berikut : pertama, orang kaya tidak bekerja untuk mendapatkan uang, tetapi membuat uang bekerja untuk mereka; kedua, untuk dapat membuat uang bekerja bagi kita, kita harus melek secara finansial (financial literacy), mampu membaca angka dan memaknainya dengan jitu; ketiga, berupaya untuk menciptakan bisnis sendiri, dan tidak puas dengan hanya menjadi karyawan(dengan bayaran dan fasilitas yang bagaimmanapun juga); keempat, ketauhilah sejarah perpajakan dan kekuasaan dari perusahaan; kelima, orang kaya menginvestasikan uangnya; keenam, bekerjalah untuk belajar jangan bekerja untuk mendapatkan uang.

Orang-orang muda perlu diajar dan dilatih untuk mulai memahami cara mmendapatkan penghasilan pada usia sedini mungkin, sesaat mereka belajar menghitung, membaca dan menulis. Tujuannya bukan menjadi kaya secepat mungkin, tetapi memppelajari bagaimana uang “bekerja” atau bagaimana uang dapat “dipekerjakan” sebagai budak manusia, sehingga ia bisa terhindar dari kecendrungan menjadi budak uang.

Menjadi kaya itu sendiri hanyalah salah satu pilihan bagi manusia. Sekalipu orang dimungkinkan untuk menjadi kaya, ia dapat memilih untuk tidak menjadi demikian. Sebagai contoh Nabi Muhammad SAW dan yesus kristus memilih mengajarkan pentingnya beriman dan bertakwa kepada ALLAH dalam keadaan kaya maupun miskin, dibandingkan memilih memperkaya diri sendiri.

Satu hal yang pantas kita syukuri adalah kenmyataan bahwa ditengah maraknya sentimen kedaerahan dan berbagai wujud primordialisme sebagai dampak pelaksanaan desentralisasi pemerintahan dan otonomi daerah, kampus relatif masih merupakan tempat yang aman dimana kegiatan lintas-agama, lintas-suku, lintas-bahasa, lintas budaya, dan lintas-generasi dilaksanakan.Pengetahuan dikaitkan tidak hanya dengan tindakan, tetapi dikaitkan dengan kajian tentang pekerjaan, analisis pekerjaan, dan rekayasa pekerjaan atau untuk memperbaiki pekerjaan. Ini dirintis oleh Frederick Winslow Taylor (1856-1915).

Driyarkara menmgatakan pendidikan itu sendiri hakikatnya adalah proses pemanusiawian manusia muda, proses “humanisasi”, yang tentu saja tidak boleh dibonsaikan demi kepentingan pasar saja.
Resep klasik “ jika kamu mau sukses di masa depan, bellajarlah disekolah terkenal” rasanya sudah tidak berlaku lagi. Sekolah paling elite pun tidak mampu lagi membekali murid-muridnya dengan pengetahuan dan pegangan yang memadai untuk menghadapi tantangan jaman ini.

Sesungguhnya pemujaan terhadap “ sertifikat akademis” adalah dampak dari pemujaan sekolah sebagai satu-satunya lembaga “pendidikan”. Dan dalam banyak kasus  kita sudah saksikan bagaimana gelar akademis sedikit sekali menggambarkan kemampuan pemiliknya. Kalau proses-proses pembelajaran berbasiskan keluarga, komunitas, perusahaan, dan masyarakat dapat diselenggarakan dengan relatif memadai, maka proses perekrutan kerja harus pula dibebaskan dari kewajiban memiliki “sertifikat akademis”.

Untuk masa yang sangat lama kita telah mencoba hidup dalam masyarakat yang menganggap dan memperlakukan sekolah sebagai satu-satunya tempat belajar. Hasilnya adalah apa yang sekarang kita petik. Sebagai masyarakat dan negara bangsa, indonesia makin dekat dengan apa yang dulu disebut Bung Karno sebagai “banggsa kuli-babu” kita nyaris tidak memiliki kelompok asyarakat yang oleh Romo Mangunwijaya disebut “bermental swasta”.

29 Agustus 2010

BUKU REFERENSI PENELITIAN

  •  Metode penelitian Administrasi, Sugiono, Prof.Dr., Alfabeta, Bandung.
Ini juga salah satu buku favorit saya karena banyak memberikan informasi yang sangat bermanfaat terkait dengan metodologi penelitian
Buku ini untuk digunakan sebagai referensi sangat komprehensif sekali. Terdiri dari XIII Bab yaitu :
Bab I       Persfektif Metode Penelitian Administrasi
Bab II      Masalah, variabel, dan Paradigma Penelitian
Bab III     Landasan Teori dan Pengajuan Hipotesis
Bab IV    Metode Eksperimen
Bab V     Populasi dan Sampel
Bab VI    Skala Pengukuran dan Instrumen Peneltian
Bab VII   Teknik Pengumpulan Data
Bab VIII  Teknik Analisis Data
Bab IX    Contoh Analisis Data
Bab X     dll
Jadi..bagi anda yang masih belum mengerti metode penelitian maka buku ini layak dikoleksi, sedangkan bagi yang sudah mengerti metodologi penelitian, maka tidak ada salahnya untuk menambah koleksi buku anda dengan buku yang bagus ini..

  • Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik (Edisi Revisi VI)
Buku ini merupakan karya terlengkap dan terbaik yang membahas masalah prosedur penelitian, merupakan revisi dari buku Prosedur Penelitian Edisi revisi V. Didalamnya telah mengalami penambahan materi penting, disesuaikan dengan perkembangan ilmu. Agak berbeda dengan buku-buku Metodologi Riset yang telah ada, buku ini disajikan sesuai dengan urutan langkah dalam mengadakan penelitian. Oleh karena langkah penelitian yang membentuk pola ini pun bervariasi menurut pendapat orang yang berbeda, maka penulis sebut dengan salah pola.

Selain itu buku ini disajikan dengan pendekatan praktik, artinya sesuai dengan kegiatan nyata yang dilakukan oleh peneliti di dalam praktik. Urutan penyajian dengan pemusatan perhatian yang dimulai dari Bab IV itulah yang sesuai dengan penelitian.

Buku ini tidak dapat dipakai lepas dari buku-buku statistik dan evaluasi karena penelitian. Statistik dan evaluasi memang merupakan satu rumpun ilmu yang berhubungan dengan penelitian. Keterbatasan-keterbatasan yang ada pada penulis, terpaksa membatasi pengintegrasian ketiga bidang tersebut.

  • Prof. Dr. Suharsimi Arikunto. 2005. Manajemen Penelitian, edisi Revisi. Jakarta : Rineka Cipta
Sangat Bagus !!..inilah kesan yang saya tangkap dari buku dengan jumlah halaman isi 500 ini. Terdiri dari 5 bagian :
  1. Pra Perencanaan (8 Bab)
  2. Perencanaan (4 Bab)
  3. Pelaksanaan Penelitian (4 Bab)
  4. Pengolahan Data (4 Bab)
  5. Penyusunan Laporan Penelitian (3 Bab)
Isinya aplikatif dan mudah dipahami, sayang tidak dilengkapi dengan statistik SPSS
  1. Pra perencanaan (menyusun proposal, merumuskan judul, merumuskan hipotesis, mengkaji bahan pustaka, menentukan subjek penelitian, memilih instrumen penelitian)
  2. Persiapan Peneltian (mengatur perencanaan penelitian, menyusun instumen, menyiapkan kancah penelitian, melaksanakan ujicoba penelitian)
  3. Pelaksanaan Penelitian (pelaksanaan penelitian eksperimen, evaluasi, deskriptif, penelitian historis)
  4. Pengolahan Data (analisis data penelitian deskriptif, analisis statistik inferensial, analisis data penelitian eksperimen, analisis varian)
  5. Penyusunan Laporan Penelitian (kerangka laporan penelitian, Pokok isi laporan, pelengkap dan tata tulis laporan penelitian)


12 Juni 2010

Ringkasan Buku 10 Model Penelitian dan Pengolahannya dengan SPSS 14

Di dalam suatu penelitian, baik dalam penelitian yang bersifat pengkajian literatur maupun penelitian yang bersifat statistik, pasti terlibat ejumlah data kuantitatif. Data-data tersebut kemudian harus diolah dalam sebuah proses pengambilan keputusan.

Bagi para peneliti yang belum memahami dan belum memiliki pengalaman, yaitu mereka yang masih bertaraf semula, angkah penentuan model dan hipotesis yang berakhir kepada inferensi hasil analisis merupakan langkah yang cukup membingungkan. Hal ini sering terjadi terutama dalam sebuah penelitian yang menuntut penggunaan metode statistika.
 
Didesain dalam bahasan yang praktis, ringkas, dan mudah, buku ini ditujukan untuk menjadi panduan praktis bagi para pengguna pemula, menengah, dan tingkat lanjutan, baik yang belum menguasai dasar-dasar metode penelitian dan pemakaian sofware aplikasi statistik maupun yang telah menguasai dasar-dasar peggunaan sofware aplikasi statistik.

Pembahasan dalam buku ini meliputi :
Dasar-dasar spss 14
Pengujian hipotesis pada rata-rata
Analisis korelasi product
Moment pearson
Analisis korelasi rank spearman
Analisis korelasi tau kendall
Analisis regresi sederhana
Analisis regresi nonlinier
Bagan kendali statistik
Uji chi-square
Statistik multivariate lanjutan

Daftar Isi

Bab I Pendahuluan
Bab II Dasar-dasar SPSS 14
Bab III Pengujian Hipotesis Pada Rata-rata
Bab IV Analisis Korelasi Product Moment Pearson
Bab V Analisis Korelasi Ran Spearman
Bab VI Analisis Korelasi Tau Kendall
Bab VII Analisis Regresi Sederhana
Bab VIII Analisis Regresi Nonlinier
Bab IX Bagan Kendali Statistik
Bab X Uji Chi-Square
Bab XI Statistik Multivariate
Bab XII Statistik Multivariate Lanjutan

Tulisan Lainnya:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *