Tampilkan postingan dengan label Istilah penelitian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Istilah penelitian. Tampilkan semua postingan

30 September 2014

PERISTILAHAN DASAR RISET



1. Konsep 
Konsep  adalah  istilah  dan  definisi  yang  digunakan  untuk  menggambarkan  gejala  secara  abstrak,  contohnya  seperti  kejadian,  keadaan,  kelompok.  Diharapkan  peneliti  mampu  memformulasikan  pemikirannya  kedalam  konsep  secara  jelas  dalam  kaitannya dengan  penyederhanaan  beberapa  masalah  yang  berkaitan  satu  dengan  yang  lainnya
Dalam  dunia  penelitian  dikenal  dua  pengertian  mengenai  konsep,  yaitu  Pertama  konsep  yang  jelas  hubungannya  dengan  realita  yang  diwakili,  contoh :  meja,  mobil dll nya  Kedua  konsep  yang  abstrak hubungannya  dengan  realitas  yang  diwakili,  contoh :  kecerdasan,  kekerabatan,  dll nya.

2. Konstruk 
Konstruk  (construct)  adalah  suatu  konsep  yang  diciptakan  dan  digunakan  dengan  kesengajaan  dan  kesadaran  untuk  tujuan-tujuan  ilmiah  tertentu.

3. Proposisi 
Proposisi  adalah  hubungan  yang  logis  antara  dua  konsep.  Contoh :  dalam  penilitian  mengenai  mobilitas  penduduk,  proposisinya  berbunyi :  “proses  migrasi  tenaga  kerja  ditentukan  oleh  upah“  (Harris  dan  Todaro).
Dalam  penelitian  sosial  dikenal  ada  dua  jenis  proposisi;  yang  pertama  aksioma  atau  postulat,  yang  kedua  teorema.  Aksioma  ialah  proposisi  yang  kebenarannya  sudah  tidak  lagi  dalam  penelitian;  sedang  teorema  ialah  proposisi  yag  dideduksikan  dari  aksioma.

4. Teori 
Salah  satu  definisi  mengenai  teori  ialah  serangkaian  asumsi,  konsep,  konstruk,  definisi  dan  proposisi  untuk  menerangkan  suatu  fenomena  secara  sisitematis  dengan  cara  merumuskan  hubungan  antar  konsep  (Kerlinger,  FN)
Definisi  lain  mengatakan  bahwa  teori  merupakan  pengetahuan  ilmiah  yang  mencakup  penjelasan  mengenai  suatu  faktor  tertentu  dari  satu  disiplin  ilmu.  Teori  mempunyai  beberapa  karakteristik  sebagai  berikut;
a.    Harus  konsisten  dengan  teoriteori  sebelumnya  yang        memungkinkan  tidak  terjadinya  kontraksi  dalam  teori  keilmuan     secara  keseluruhan.
b.    Harus  cocok  dengan  faktafakta  empiris,  sebab  teori  yang   bagaimanapun  konsistennya  apabila  tidak  didukung  oleh    pengujian  empiris  tidak  dapat  diterima  kebenarannya  secara  ilmiah.
c.    Ada empat cara teori dibangun menurut Melvin Marx :

1)   Model Based Theory,
Berdasarkan teori pertama teori berkembang adanya jaringan konseptual yang kemudian diuji secara empiris. Validitas substansi terletak pada tahap-tahap awal dalam pengujian model, yaitu apakah model bekerja sesuai dengan kebutuhan peneliti.

2)   Teori deduktif,
Teori kedua mengatakan suatu teori dikembangkan melalui proses deduksi. Deduksi merupakan bentuk inferensi yang menurunkan sebuah kesimpulan yang didapatkan melalui penggunaan logika pikiran dengan disertai premis-premis sebagai bukti. Teori deduktif merupakan suatu teori yang menekankan pada struktur konseptual dan validitas substansialnya. Teori ini juga berfokus pada pembangunan konsep sebelum pengujian empiris.

3)   Teori induktif,
Teori ketiga menekankan pada pendekatan empiris untuk mendapatkan generalisasi. Penarikan kesimpulan didasarkan pada observasi realitas yang berulang-ulang dan mengembangkan pernyataan-pernyataan yang berfungsi untuk menerangkan serta menjelaskan keberadaan pernyataan-pernyataan tersebut.

4)   Teori fungsional
Teori keempat mengatakan suatu teori dikembangkan melalui interaksi yang berkelanjutan antara proses konseptualisasi dan pengujian empiris yang mengikutinya. Perbedaan utama dengan teori deduktif terletak pada proses terjadinya konseptualisasi pada awal pengembangan teori. Pada teori deduktif rancangan hubungan konspetualnya diformulasikan dan pengujian dilakukan pada tahap akhir pengembangan teori.

5. Logika  Ilmiah  :
Gabungan  antara  logika  deduktif  dan  induktif  dimana  rasionalisme  dan  empirisme  bersama-sama  dalam  suatu  system  dengan  mekanisme  korektif.

6. Hipotesis  :
Hipotesis  adalah  jawaban  sementara  terhadap  permasalahan  yang  sedang  diteliti.  Hipotesis  merupakan  saran  penelitian  ilmiah  karena  hipotesis  adalah  instrumen  kerja  dari  suatu  teori  dan  bersifat  spesifik  yang  siap  diuji  secara  empiris.  Dalam  merumuskan  hipotesis  pernyataannya harus  merupakan  pencerminan  adanya  hubungan  antara  dua  variabel  atau  lebih.
            Hipotesis  yang  bersifat  relasional  ataupun  deskriptif  disebut  hipotesis  kerja  (Hk),  sedang  untuk  pengujian  statistik  dibutuhkan  hipotesis  pembanding  hipotesis  kerja  dan  biasanya  merupakan  formulasi  terbalik  dari  hipotesis  kerja.  Hipotesis  semacam  itu  disebut  hipotesis  nol  (Ho). 

7. Variabel  :


8. Definisi  Operasional  :
            Yang  dimaksud  dengan  definisi  operasional  ialah  spesifikasi  kegiatan  peneliti  dalam  mengukur  atau  memanipulasi  suatu  variabel.  Definisi  operasional  memberi  batasan  atau  arti  suatu  variabel  dengan  merinci  hal  yang  harus  dikerjakan  oleh  peneliti  untuk  mengukur  variabel  tersebut.

9. Kerangka  Ilmiah
1) Perumusan  masalah  :  pertanyaan  tentang  obyek  empiris     yang  jelas   batas-batasnya  serta  dapat  diidentifikasikan  faktor- faktor  yang  terkait  didalamnya.

2) Penyusunan  kerangka  dalam  pengajuan  hipotesis:
a.        Menjelaskan  hubungan  anatara  faktor  yang  terkait
b.        Disusun  secara  rasional
c.        Didasarkan  pada  premis-premis  ilmiah
d.        Memperhatikan  faktor-faktor  empiris  yang  cocok

3)  Pengujian  hipotesis  : mencari  fakta-fakta  yang  mendukung  hipotesis

4)   Penarikan  kesimpulan : setelah semua fakta terkumpul maka terakhir butuh adanya kesimpulan.

10. Aksiologi (nilai Guna Ilmu)
Aksiologi  ialah  menyangkut  masalah  nilai  kegunaan  ilmu.  Ilmu  tidak  bebas  nilai.  Artinya  pada tahap-tahap  tertentu  kadang  ilmu  harus  disesuaikan  dengan    nilai-nilai  budaya  dan  moral  suatu  masyarakat;  sehingga  nilai  kegunaan  ilmu  tersebut  dapat  dirasakan  oleh masyarakat  dalam  usahanya  meningkatkan  kesejahteraan  bersama,  bukan  sebaliknya  malahan  menimbulkan  bencana.

02 November 2010

Istilah Riset : "DATA DALAM RISET"

Data bentuk jamak dari datum. Data bisa bermakna sesuatu yang diketahui atau sesuatu yang dianggap sehingga dapat memberikan gambaran tentang suatu keadaan atau persoalan. Dalam masalah ketenagakerjaan misalnya, ada data jumlah pencari kerja, jumlah yang bekerja, jumlah penganggur, dan tingkat partisipasi angkatan kerja. Dalam masalah ekonomi ada data inflasi, pertumbuhan ekonomi, pendapatan perkapita dan lain-lain. Dalam masalah penduduk, ada data jumlah penduduk laki-laki, jumlah penduduk perempuan, data penduduk miskin dan lain-lain. Contoh-contoh tadi menunjukkan data dalam arti sesuatu yang diketahui.

Perhatikan contoh berikut. Dalam penyusunan RAPBN, pemerintah menetapkan beberapa asumsi-asumsi tertentu. Misalnya, perkiraan kurs rupiah, perkiraan harga minyak dunia per barel, perkiraan inflasi, dan asumsi-asumsi lain yang dibutuhkan. Asumsi-asumsi tersebut belum diketahui kebenarannya sebelum tahun berjalan. Asumsi-asumsi tadi menunjukkan data dalam arti sesuatu yang dianggap karena data tersebut memang belum ada dan masih berupa asumsi atau perkiraan pakar.

Kapan kita membutuhkan data? Data dibutuhkan dalam setiap proses manajerial. Pada saat perencanaan, proses pelaksanaan, dan akhir penyelesaian semuanya membutuhkan data. Sebuah maskapai penerbangan ternama di Indonesia hendak memperluas pelayanannya di Manokwari, Ibu Kota Provinsi Papua Barat. Maskapai ini membutuhkan data jumlah penduduk Kabupaten Manokwari, jumlah unit usaha, data penumpang yang datang dan pergi ke dan dari Manokwari, dan lain-lain (Coba Saudara sebutkan data apa saja yang diperlukan pada saat perencanaan pembukaan maskapai penerbangan di Mnaokwari?). Pada saat penerbangan sudah berjalan, data jumlah penumpang yang menggunakan maskapai tersebut terus dipantau. Tidak lupa juga dengan data penumpang yang menggunakan maskapai lain. Jumlah dana yang dihasilkan dalam satu tahun. Keseluruhan data tadi akan dimanfaatkan untuk evaluasi guna menentukan strategi pemasaran di tahun-tahun berikutnya. Dengan demikian, data sangat berguna sebagai dasar perencanaan (planning), alat pengawasan (organizing, actuating and controlling), dan dasar evaluasi (evaluation).

DATA BERKUALITAS
Tidak semua data laik digunakan baik dalam perencanaan, pengawasan dan evaluasi kegiatan. Prinsipnya, data “sampah” apabila diolah hanya akan menghasilkan “sampah” atau Garbage in garbage out. Untuk menghasilkan keputusan yang terbaik harus menggunakan data berkualitas.

Seperti apa data berkualitas itu? Data yang berkualitas harus dapat diandalkan (reliable) dan bermanfaat. Agar data dapat diandalkan harus tepat waktu (up to date) dan relevan. Data akan bermanfaat apabila sesuai dengan keadaan yang sebenarnya (Objektif), mewakili objek yang diteliti/diamati (Representatif) dan mengandung sedikit kesalahan (minimum error).

Istilah Riset : "DATA DALAM RISET"

Data bentuk jamak dari datum. Data bisa bermakna sesuatu yang diketahui atau sesuatu yang dianggap sehingga dapat memberikan gambaran tentang suatu keadaan atau persoalan. Dalam masalah ketenagakerjaan misalnya, ada data jumlah pencari kerja, jumlah yang bekerja, jumlah penganggur, dan tingkat partisipasi angkatan kerja. Dalam masalah ekonomi ada data inflasi, pertumbuhan ekonomi, pendapatan perkapita dan lain-lain. Dalam masalah penduduk, ada data jumlah penduduk laki-laki, jumlah penduduk perempuan, data penduduk miskin dan lain-lain. Contoh-contoh tadi menunjukkan data dalam arti sesuatu yang diketahui.

Perhatikan contoh berikut. Dalam penyusunan RAPBN, pemerintah menetapkan beberapa asumsi-asumsi tertentu. Misalnya, perkiraan kurs rupiah, perkiraan harga minyak dunia per barel, perkiraan inflasi, dan asumsi-asumsi lain yang dibutuhkan. Asumsi-asumsi tersebut belum diketahui kebenarannya sebelum tahun berjalan. Asumsi-asumsi tadi menunjukkan data dalam arti sesuatu yang dianggap karena data tersebut memang belum ada dan masih berupa asumsi atau perkiraan pakar.

Kapan kita membutuhkan data? Data dibutuhkan dalam setiap proses manajerial. Pada saat perencanaan, proses pelaksanaan, dan akhir penyelesaian semuanya membutuhkan data. Sebuah maskapai penerbangan ternama di Indonesia hendak memperluas pelayanannya di Manokwari, Ibu Kota Provinsi Papua Barat. Maskapai ini membutuhkan data jumlah penduduk Kabupaten Manokwari, jumlah unit usaha, data penumpang yang datang dan pergi ke dan dari Manokwari, dan lain-lain (Coba Saudara sebutkan data apa saja yang diperlukan pada saat perencanaan pembukaan maskapai penerbangan di Mnaokwari?). Pada saat penerbangan sudah berjalan, data jumlah penumpang yang menggunakan maskapai tersebut terus dipantau. Tidak lupa juga dengan data penumpang yang menggunakan maskapai lain. Jumlah dana yang dihasilkan dalam satu tahun. Keseluruhan data tadi akan dimanfaatkan untuk evaluasi guna menentukan strategi pemasaran di tahun-tahun berikutnya. Dengan demikian, data sangat berguna sebagai dasar perencanaan (planning), alat pengawasan (organizing, actuating and controlling), dan dasar evaluasi (evaluation).

DATA BERKUALITAS
Tidak semua data laik digunakan baik dalam perencanaan, pengawasan dan evaluasi kegiatan. Prinsipnya, data “sampah” apabila diolah hanya akan menghasilkan “sampah” atau Garbage in garbage out. Untuk menghasilkan keputusan yang terbaik harus menggunakan data berkualitas.

Seperti apa data berkualitas itu? Data yang berkualitas harus dapat diandalkan (reliable) dan bermanfaat. Agar data dapat diandalkan harus tepat waktu (up to date) dan relevan. Data akan bermanfaat apabila sesuai dengan keadaan yang sebenarnya (Objektif), mewakili objek yang diteliti/diamati (Representatif) dan mengandung sedikit kesalahan (minimum error).

01 Maret 2010

ISTILAH PENELITIAN

Sebagai seorang peneliti tentu nantinya akan sangat akrab dengan beberapa istilah seperti paper, jurnal, prosiding, call for paper dan sebagainya. Berikut ini beberapa hal yang (baru) saya ketahui :

paper : sering disebut makalah atau artikel, merupakan dokumentasi hasil penelitian. Umumnya berisi abstrak, latar belakang penelitian, kajian pustaka, metode penelitian, hasil penelitanan dan kesimpulan penelitiannya. Paper inilah yang terdapat dalam jurnal dan prosiding.

Jurnal : merupakan kumpulan paper hasil penelitian, biasanya satu jurnal akan spesifik membahas satu bidang keilmuan. Jurnal biasanya memiliki nomor ISSN, volume dan nomor. Volume menunjukkan tahun keberapa jurnal itu terbit, nomor menunjukkan terbitan keberapa dalam volume (tahun). Jurnal juga ada yang bersifat nasional dan internasional, nah yang internasional tentu kualitasnya lebih bagus.

Prosiding : hampir sama dengan jurnal, prosiding biasanya merupakan pembukuan paper hasil pertemuan ilmiah, biasanya berupa kegiatan call for paper.

Call for Paper : adalah suatu kegiatan pertemuan ilmiah para peneliti untuk mempresentasikan paper-nya, hasilnya dibukukan menjadi sebuah prosiding.

24 Oktober 2009

HIPOTESIS NOL SEBAGAI HIPOTESIS PENELITIAN

Ketika kita menggunakan statistika untuk menguji hipotesis maka muncullah dua macam hipotesis berupa hipotesis penelitian dan hipotesis statistika. Tepatnya hipotesis penelitian kita rumuskan kembali menjadi hipotesis statistika yang sepadan. Hipotesis statistika harus mencerminkan dengan baik maksud dari hipotesis penelitian yang akan diuji.

Pada hakikatnya ada dua jenis hipotesis statistika. Jenis pertama adalah apabila data kita berupa populasi yang kita peroleh melalui sensus. Dengan data populasi, hipotesis statistika cukup berbentuk H. Tidak diperlukan hipotesis H0. Misalnya dalam hal rerata, hipotesis statistika itu berbentuk H: mX > 6. Jika data populasi memiliki rerata di atas 6 maka hipotesis diterima dan jika tidak maka hipotesis ditolak. Karena seluruh populasi sudah dilihat maka keputusan ini menjadi kepastian.

Jenis kedua adalah apabila data kita berupa sampel yang kita peroleh melalui penarikan sampel. Biasanya sampel itu berupa sampel acak, baik dengan cara pengembalian maupun dengan cara tanpa pengembalian. Dengan data sampel, hipotesis statistika menjadi H0 dan H1. Misalnya dalam rerata, hipotesis statistika itu berbentuk H0: mX = 6 dan H1: mX > 6. Syaratnya adalah tiadanya pilihan ketiga.

Dalam hal data sampel, sering terjadi bahwa hipotesis penelitian dirumuskan kembali menjadi H1. Pengujian hipotesis dilakukan melalui penolakan H0. Selanjutnya dengan syarat tidak ada pilihan ketiga pada hipotesis, maka penolakan H0 dapat diartikan sebagai penerimaan H1. Jadi pengujian hipotesis penelitian dilakukan melalui cara tak langsung yakni melalui penolakan H0 dan melalui tiadanya pilihan ketiga pada hipotesis.
Kini muncul pertanyaan apakah hipotesis penelitian dapat dirumuskan kembali menjadi H0? Karena jarang terjadi, sejumlah orang merasa ragu. Sekalipun jarang, hal demikian pernah terjadi sementara beberapa penulis menyatakan boleh. Kerlinger (1979) melaporkan hasil penelitian yang menggunakan H0. Myers and Pohlman (1979) mempresentasikan makalah berjudul “Null Hypothesis as a Research Hypothesis.” Selain itu, Wiersma (1995) mencantumkan contoh hipotesis nol sebagai hipotesis penelitian. Gay (1990) menunjukkan walaupun tidak terlalu sering hipotesis berupa tidak beda itu memang ada. Lock, cs (1993) mengatakan bahwa hipotesis dapat ditulis, baik sebagai pernyataan nol (mudahnya disebut hipotesis nol), “Tiada beda di antara …,” maupun sebagai pernyataan terarah menunjukkan jenis hubungan yang diantisipasi.

Kebanyakan penelitian dirumuskan ke hipotesis statistika H1. Tetapi hal ini tidak menutup kemungkinan hipotesis penelitian dirumuskan ke hipotesis statistika H0. Adalah pada tempatnya kalau di sini kita melihat alasan mengapa hipotesis penelitian dapat dirumuskan dalam bentuk H0. Untuk itu kita perlu melihat apa sebenarnya fungsi dan peranan H0 di dalam pengujian hipotesis statistika. Adanya hipotesis H0 lebih merupakan urusan teknik statistika yang menggunakan data sampel daripada urusan hipotesis penelitian. Kita mulai dengan melihat peristiwa kekeliruan sampel.

02 Desember 2008

Beberapa segi suatu teori

Ada beberapa hal yang berhubungan suatu teori dalam penelitian kualitatif antara lain pengertian dan fungsi teori, bentuk formulasi suatu teori, teori substantif dan teori formal dan unsur-unsur suatu teori.

Definisi Teori.
Snelbecker (1974:31) menangartikan teori sebagai seperangkat proposisi yang berinteraksi secara sintaksi dan berfungsi sebagai wahana untuk meramalkan dan menjelaskan fenomena yang diamati. Sehingga membagi empat fungsi dari teori yaitu :
  • Mengsistematiskan penemuan-penemuan penelitian.
  • Menjadi pendorong untuk menyusun hipotesis dan dengan hipotesis membimbing peneliti mencari jawaban.
  • Membuat ramalan atas daar penemuan
  • Menyajikan penjelasan dan dalam hal ini, untuk menjawab pertanyaan mengapa.
Sedang Mark dan Goodson (1976:235) sebagai aturan yang menjelaskan proposisi yang berkaitan dengan beberapa fenomena alamiah dan terdiri atas referesentasi simbolik dari a).hubungan yang bisa diamati diantara kejadian-kejadian. b). mekanisme atau struktur yang diduga mendaari hubungan demikian. c).hubungan yang disimpulkan serta manefestasi hubungan empiris apapun secara langsung.

Bentuk formulasi teori.
glasser dan staruss (1980:31) untuk keperluan penelitian kualitatif yang dikenal dengan teori dari dasar penyajian suatu teori dapat dilaksnakan dalam dua bentuk : a). penyajian dalam bentuk seperangkat proposisi atau secara proposional b). dalam bentuk diskusi teoritis yang memanfaatkan kategori konseptual dan kawasannya.

Teori substantif dan teori formal.
Teori substantif adalah teori yang dikembangkan untuk keperluan substantif atau empiris dalam inkuiri suatu ilmu pengetahuan. sedang teori formal teori untuk keperluan atau yang disusun secara konseptual dalam bidang inkuiri suatu ilmu pengetahuan.

Unsur-unsur teori
unsur teori dibentuk melalui analisa perbandingan meliputi, a). kategori konseptual dan kawasan konseptual. b). hipotesis kerja atau hubungan generalisasi diantara kategori dan kawasannya. c). integrasi

04 September 2008

Skripsi, Tesis dan Disertasi Sebuah Pendahuluan

Penulisan karya ilmiah merupakan salah satu dari pokok kegiatan perguruan tinggi. Karya ilmiah adalah karya tulis atau bentuk lainnya yang telah diakui dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi atau seni yang ditulis atau dikerjakan sesuai dengan tata cara ilmiah, dan mengikuti pedoman atau konvensi ilmiah yang telah disepakati atau ditetapkan. Melalui pembuatan karya ilmiah, anggota masyarakat akademik pada suatu perguruan tinggi dapat mengomunikasikan informasi baru, gagasan, kajian, dan/atau hasil penelitian. Untuk pelaporan karya ilmiah diperlukan suatu pedoman tentang pembuatan karya ilmiah, khususnya karya ilmiah tertulis. Pedoman penulisan karya ilmiah ini memberikan petunjuk tentang cara menulis karya ilmiah yang berupa skripsi, tesis, disertasi, artikel, makalah, dan laporan penelitian. Penulisan tugas akhir sedapat mungkin disesuaikan dengan pedoman penulisan ini.


Skripsi, Tesis, dan Disertasi
Skripsi, tesis, dan disertasi merupakan karya ilmiah dalam suatu bidang studi yang ditulis oleh mahasiswa program Sarjana (S1), program Magister (S2), dan program Doktor (S3) pada akhir studinya. Karya ilmiah ini merupakan salah satu persyaratan untuk menyelesaikan program studi mereka yang dapat ditulis berdasarkan hasil penelitian lapangan, hasil kajian pustaka, atau hasil kerja pengembangan (proyek).

Yang dimaksud skripsi, tesis, dan disertasi hasil penelitian lapangan adalah jenis penelitian yang berorientasi pada pengumpulan data empiris di lapangan. Ditinjau dari pendekatan yang digunakan, penelitian lapangan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif.

Penelitian kuantitatif adalah suatu penelitian yang pada dasarnya menggunakan pendekatan deduktif-induktif. Pendekatan ini berangkat dari su­atu kerangka teori, gagasan para ahli, ataupun pemahaman peneliti berdasarkan pengalamannya, kemudian dikembangkan menjadi permasalahan-permasalahan beserta pemecahan-pemecahannya yang diajukan untuk memperoleh pembenaran (verifikasi) dalam bentuk dukungan data empiris di lapangan.

Sedangkan penelitian kualitatif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistik-kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif subjek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Ciri-ciri penelitian kualitatif mewarnai sifat dan bentuk laporannya. Oleh karena itu, laporan penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan ciri-ciri naturalistik yang penuh keotentikan.

Yang dimaksud dengan kajian pustaka adalah telaah yang dilaksanakan untuk memecahkan suatu masalah yang pada dasarnya bertumpu pada penelaahan kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang relevan. Telaah pustaka semacam ini biasanya dilakukan dengan cara mengumpulkan data atau informasi dari berbagai sumber pustaka yang kemudian disajikan dengan cara baru dan atau untuk keperluan baru. Dalam hal ini bahan-bahan pustaka itu diperlakukan sebagai sumber ide untuk menggali pemikiran atau gagasan baru, sebagai bahan dasar untuk melakukan deduksi dari pengetahuan yang telah ada, sehingga kerangka teori baru dapat dikembangkan, atau sebagai dasar pemecahan masalah.

Yang dimaksud dengan kerja pengembangan adalah kegiatan yang menghasilkan rancangan atau produk yang dapat dipakai untuk memecahkan masalah-masalah aktual. Dalam hal ini, kegiatan pengembangan ditekankan pada pemanfaatan teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip, atau temuan-temuan penelitian untuk memecahkan masalah. Skripsi, tesis, dan disertasi yang ditulis berdasarkan hasil kerja pengembangan menuntut format dan sistematika yang berbeda dengan skripsi, tesis, dan disertasi yang ditulis berdasarkan hasil penelitian, karena karakteristik kegiatan pengembangan dan kegiatan penelitian tersebut berbeda. Kegiatan penelitian pada dasarnya berupaya mencari jawaban terhadap suatu permasalahan, sedangkan kegiatan pengembangan berupaya menerapkan temuan atau teori untuk memecah­kan suatu permasalahan.

Perbedaan Skripsi, Tesis, dan Disertasi

Secara umum, perbedaan antara skripsi, tesis, dan disertasi dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek kuantitatif dan aspek kualitatif. Dari aspek kuantitatif, secara literal dapat dikatakan bahwa disertasi lebih berat bobot akademisnya daripada tesis dan tesis lebih berat bobot akademisnya daripada skripsi. Ketentuan ini hanya dapat diberlakukan untuk jenis karya ilmiah yang sama (sama-sama hasil penelitian kuantitatif atau sama-sama hasil penelitian kualitatif; dan dalam bidang studi yang sama pula (misalnya sama-sama tentang bahasa atau sama-sama tentang ekonomi). Artinya, disertasi mencakup bahasan yang lebih luas daripada tesis, dan tesis mencakup bahasan yang lebih luas atau lebih dalam daripada skripsi. 

Namun ukuran kuantitas ini tidak dapat diberlakukan jika skripsi, tesis, dan disertasi dibanding-bandingkan antarbidang studi atau antarjenis penelitian. Oleh karena itu perbedaan skripsi, tesis, dan disertasi biasanya tidak hanya dilihat dari aspek kuantitatif, tetapi lebih banyak dilihat dari aspek kualitatif.

Pada dasarnya, aspek-aspek kualitatif yang membedakan skripsi, tesis, dan disertasi dapat dikemukakan secara konseptual, namun sulit untuk dikemukakan secara operasional. Berikut dikemukakan aspek-aspek yang dapat membedakan skripsi, tesis, dan disertasi, terutama yang merupakan hasil penelitian kuantitatif.

Aspek Permasalahan
Penulis disertasi dituntut untuk mengarahkan permasalahan yang dibahas dalam disertasinya agar temuannya dapat memberikan sumbangan "asli" bagi ilmu pengetahuan, sedangkan penulis tesis diharapkan dapat menghasilkan sesuatu yang memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan. Sumbangan yang demikian itu tidak dituntut dari penulis skripsi.

Identifikasi masalah untuk skripsi dapat didasarkan atas informasi dari koran, majalah, buku, jurnal, laporan penelitian, seminar, atau keadaan lapangan, akan tetapi identifikasi masalah untuk tesis—terlebih lagi untuk disertasi—perlu didasarkan atas teori-teori yang berasal dari sejumlah hipotesis yang telah teruji. Masalah yang dikaji dalam skripsi cenderung pada masalah-masalah yang bersifat penerapan ilmu, sedangkan dalam tesis dan disertasi harus cenderung ke arah pengembangan ilmu.

Aspek Kajian Pustaka
Dalam mengemukakan hasil kajian pustaka, penulis skripsi hanya diharapkan untuk menjelaskan keterkaitan antara penelitian yang dilakukan dengan penelitian-penelitian lain dengan topik yang sama. Penulis tesis tidak hanya diharapkan mengemukakan keterkaitannya saja, tetapi juga harus menyebutkan secara jelas persamaan dan perbedaan antara penelitiannya dengan penelitian lain yang sejenis. Penulis disertasi diharapkan dapat (a) mengidentifikasi posisi dan peranan penelitian yang sedang dilakukan dalam konteks permasalahan yang lebih luas, (b) mengemukakan pendapat pribadinya setiap kali membahas hasil-hasil penelitian lain yang dikajinya, (c) menggunakan kepustakaan dari disiplin ilmu lain yang dapat memberikan implikasi terhadap penelitian yang dilakukan, dan (d) memaparkan hasil pustakanya dalam kerangka berpikir yang konseptual dengan cara yang sistematis.

Pustaka yang dijadikan sumber acuan dalam kajian pustaka pada skripsi seyogyanya menggunakan sumber primer dan dapat juga menggunakan sumber sekunder, namun pustaka yang menjadi bahan acuan dalam tesis diharapkan berasal dari sumber-sumber primer (hasil-hasil penelitian dalam laporan penelitian, seminar hasil penelitian, dan jurnal-jurnal penelitian). Untuk disertasi, penggunaan sumber primer merupakan keharusan.

Aspek Metodologi Penelitian
Penulis skripsi dituntut untuk menyebutkan apakah sudah ada upaya untuk memperoleh data penelitian secara akurat dengan menggunakan instrumen pengumpul data yang valid. Bagi penulis tesis, penyebutan adanya upaya saja tidak cukup. Dia harus menyertakan bukti-bukti yang dapat dijadikan pegangan untuk menyatakan bahwa instrumen pengumpul data yang digunakan cukup valid. Bagi penulis disertasi, bukti-bukti validitas instrumen pengumpul data harus dapat diterima sebagai bukti-bukti yang tepat.

Dalam skripsi, penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi dalam pengumpulan data tidak harus dikemukakan, sedangkan dalam tesis dan terlebih lagi dalam disertasi penyimpangan yang mungkin terjadi dalam pengumpulan data harus dikemukakan, beserta alasan-alasannya, sejauh mana penyimpangan tersebut, dan sejauh mana penyimpangan tersebut masih dapat ditoleransi.

Asumsi-asumsi yang dikemukakan dalam skripsi tidak harus diverifikasi dan tidak harus disebutkan keterbatasan keberlakuannya, sedangkan asumsi-asumsi yang dikemukakan dalam tesis, terlebih lagi dalam disertasi, harus diusahakan verifikasinya dan juga harus dikemukakan keterbatasan keberlakuannya.
Dalam penelitian kuantitatif, skripsi dapat mencakup satu variabel saja, tesis dua variabel atau lebih, sedangkan disertasi harus mencakup lebih dari dua variabel. Namun kriteria ini harus disesuaikan dengan permasalahan yang dikaji. Dalam penelitian kualitatif, skripsi dapat ditulis berdasarkan studi kasus tunggal dan dalam satu lokasi saja, sedangkan tesis dan terutama disertasi seyogyanya didasarkan pada studi multikasus dan multisitus.

Aspek Hasil Penelitian
Hasil penelitian yang dipaparkan dalam kesimpulan skripsi harus didukung oleh data yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan. Dalam tesis dan disertasi, hasil penelitian yang dikemukakan, selain didukung oleh data yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan, juga harus dibandingkan dengan hasil penelitian lain yang sejenis. Oleh karena itu dalam tesis dan disertasi perlu ada bab tersendiri yang menyajikan pembahasan hasil penelitian. Bab yang berisi pembahasan hasil penelitian diletakkan sesudah bab yang berisi sajian hasil analisis data, sebelum bab yang berisi kesimpulan dan saran.

Pengajuan saran pada bagian akhir skripsi tidak harus dilengkapi dengan argumentasi yang didukung oleh hasil penelitian, sedangkan saran-saran yang dikemukakan dalam tesis dan disertasi harus dilengkapi dengan argumentasi yang didukung oleh hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan.
Hasil penelitian skripsi yang ditulis dalam bentuk artikel hendaknya diarahkan untuk da­pat diterbitkan dalam jurnal ilmiah yang bermutu, sedangkan hasil penelitian tesis dan disertasi harus memenuhi kualifikasi layak terbit dalam jurnal ilmiah yang bermutu.

Aspek Kemandirian
Selain didasarkan pada keempat aspek tersebut, skripsi, tesis, dan disertasi juga dapat dibedakan berdasarkan tingkat kemandirian mahasiswa dalam proses pelaksanaan penelitian dan penulisan naskah karya ilmiah. Secara umum dapat dinyatakan bahwa proses penelitian dan penulisan disertasi lebih mandiri daripada tesis, dan proses penelitian dan penulisan tesis lebih mandiri daripada skripsi. Secara kuantitatif dapat diilustrasikan sebagai berikut. Untuk disertasi kira-kira 90% dari naskah tersebut adalah karya asli mahasiswa penulisnya, sedangkan sisanya (10%) merupakan cerminan dari bantuan, bimbingan, serta arahan para dosen pembimbing. Untuk tesis, persentase karya asli mahasiswa bisa lebih kecil daripada disertasi; dan untuk skripsi, persentase karya asli mahasiswa bisa lebih kecil daripada tesis.

Artikel, Makalah, dan Laporan Penelitian
Artikel ilmiah adalah karya tulis yang dirancang untuk dimuat dalam jurnal atau buku kumpulan artikel yang ditulis dengan tata cara ilmiah dan mengikuti pedoman atau konvensi ilmiah yang telah disepakati atau ditetapkan. Artikel ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa, dosen, pustakawan, peneliti, dan penulis lainnya dapat diangkat dari hasil penelitian lapangan, hasil pemikiran dan kajian pustaka, atau hasil pengembangan proyek. Dari segi sistematika penulisan dan isinya, artikel dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu artikel hasil penelitian dan artikel nonpenelitian. Setiap mahasiswa penulis skripsi, tesis, dan disertasi sangat dianjurkan menuliskan kembali karyanya dalam bentuk artikel untuk diterbitkan dalam jurnal. Tata cara penulisan artikel ilmiah diuraikan pada Bagian III buku pedoman ini.

Makalah adalah karya tulis yang memuat pemikiran tentang suatu masalah atau topik tertentu yang ditulis secara sistematis dan runtut dengan disertai analisis yang logis dan objektif. Makalah ditulis untuk memenuhi tugas terstruktur yang diberikan oleh dosen atau ditu­lis atas inisiatif sendiri untuk disajikan dalam forum ilmiah.

Laporan penelitian adalah karya tulis yang berisi paparan tentang proses dan hasil-hasil yang diperoleh dari suatu kegiatan penelitian.

Tulisan Lainnya:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *