04 Desember 2012

RUMUS PENENTUAN JUMLAH SAMPEL

Beberapa rumus untuk menentukan jumlah sampel antara lain :

1. Formula Slovin (dalam Riduwan, 2005:65)     
     N = n/N(d)2 + 1      
 Keterangan :
  • n = sampel; 
  • N = populasi; 
  • d = nilai presisi 95% atau sig. = 0,05.
Misalnya, jumlah populasi adalah 125, dan tingkat kesalahan yang dikehendaki adalah 5%, maka jumlah sampel yang digunakan adalah :  
N = 125 / 125 (0,05)2 + 1 = 95,23, dibulatkan 95
 
2. Formula Jacob Cohen (dalam Suharsimi Arikunto, 2010:179)
               N = L / F^2 + u + 1
Keterangan :
  • N = Ukuran sampel
  • F^2 = Effect Size
  • u = Banyaknya ubahan yang terkait dalam penelitian
  • L = Fungsi Power dari u, diperoleh dari tabelPower (p) = 0.95 dan Effect size (f^2) = 0.1
  • Harga L tabel dengan t.s 1% power 0.95 dan u = 5 adalah 19.76
Maka dengan formula tsb diperoleh ukuran sampel N = 19.76 / 0.1 + 5 + 1 = 203,6, dibulatkan 203

3. Ukuran Sampel berdasarkan Proporsi (Tabel Isaac dan Michael)
Tabel penentuan jumlah sampel dari Isaac dan Michael memberikan kemudahan penentuan jumlah sampel berdasarkan tingkat kesalahan 1%, 5% dan 10%. Dengan tabel ini, peneliti dapat secara langsung menentukan besaran sampel berdasarkan jumlah populasi dan tingkat kesalahan yang dikehendaki.

4. Cohran’s Formula

Data Continues
            N = (t^2) * (s^2) / (d^2)      
 dimana,
  • N = ukuran sampel, 
  • t = nilai t berdasarkan alpha tertentu,
  • s =  standard deviasi dari populasi, dan 
  • d = margin error
Contoh :
(1.96)^2 (1.167)^2 /  (7*.03)^2 = 118

Data Kategori
              N = (t)^2 * (p)(q) / (d)^2
Dimana,
  • N = ukuran sampel, 
  • t = nilai t berdasarkan alpha tertentu, 
  •  (p)(q) = estimate of variance, 
  • d = margin of error yang diterima
Contoh :
(1.96)^2(0.5)(0.5) / (.05) ^ 2 = 384

5. Formula Lemeshow Untuk Populasi tidak diketahui
                n = Z^2 P(1− P)/d^2          
dimana
  • z = 1.96
  • p = maximal estimasi = 0.5
  • d = alpha (0.05)
Dengan demikian
1.96^2 . 0.5 (1-0.5) / 0.05^2= 384

Prinsip Mendesain Kuesioner

Prinsip desain kuesioner biasanya difokuskan pada tiga bidang yaitu pertama berkaitan dengan prinsip susunan kata dalam pertanyaan, kedua mengacu pada perencanaan bagaimana variabel akan dikategorikan, diskalakanm dan dikodekan setelah respon diterima. Dan ketiga adalah berkaitan dengan penampilan kuesioner secara keseluruhan. Tiga faktor ini perlu mendapat perhatian karena dapat meminimalkan bias dalam penelitian.

A. Prinsip Susunan Kata
Prinsip susunan kata mengacu pada hal-hal berikut ini seperti : (1) ketepakan isi pertanyaan, (2) bagaimana pertanyaan disampaikan, dan tingkat kefasihan bahasa yang digunakan; (3) tipe dan bentuk pertanyaan yang diajukan, (4) urutan pertanyaan dan (5) data pribadi yang dicari dari responden. Lima prinsip ini kemudian dijelaskan sebagai berikut :

Isi dan Tujuan Pertanyaan
Sifat variabel akan menentukan pertanyaan yang diajukan. Contohnya, jika variabel bersifat subjektif (seperti kepuasan, keterlibatan), dimana keyakinan, persepsi, dan sikap responden yang ingin diukur, maka sebaiknya mengungkapkan dimensi dan elemen konsep.

Jika variabel yang ingin diketahui merupakan variabel objektif seperti usia, pendidikan, besaran penghasilan, dan seterusnya, maka pertanyaan yang berskala ordinal (kategori) lebih disukai.

Bahasa dan Susunan Kata Kuesioner
Bahasa yang dipergunakan harus disesuaikan dengan kemampuan responden. Jika responden adalah masyarakat awam dengan jenjang pendidikan rendah maka menggunakan istilah bahasa Inggris dapat menyebabkan kebingungan mereka untuk menjawabnya.

Pertanyaan terbuka dan Tertutup
Pertanyaan terbuka (open-ended questions) memberikan kesempatan kepada responden untuk menjawab sesuai dengan yang mereka inginkan, sedangkan pertanyaan tertutup yaitu memberikan alternatif pilihan jawaban kepada responden untuk dipilih.
Contoh :
Pertanyaan terbuka : “Apa yang paling anda sukai dari perusahaan tempat anda bekerja sekarang ini ?”

Pertanyaan positif dan negatif
Sangat disarankan untuk memberikan pertanyaan secara positif dan negatif, hal ini untuk mencegah kecenderungan responden untuk menjawab pada salah satu ujung skala. Misalnya, pada skala 5 titik (1 = sangat tidak setuju – 5 = sangat setuju), maka untuk menghindari kecenderungan responden untuk secara mekanis melingkari titik kanan (positif) bisa diminimalisir dengan membuat pertanyaan negatif.
Contoh :
Positif : “Gaji yang anda terima sudah sesuai dengan beban kerja anda”
Negatif : “Anda merasa karir anda sulit untuk berkembang di perusahaan ini ”

Menghindari pertanyaan yang bersifat terlalu umum dan kata-kata yang samar. Kalimat pertanyaan seperti
“apakah anda setuju jika gaji dinaikkan ?”, atau “apakah kinerja anda baik” sudah pasti akan dijawab dengan setuju/baik oleh responden.

Hindarkan pertanyaan yang mendua arti (ambiguitas) atau memiliki respon ganda.
Contoh : “bagaimana penilaian anda tentang kualitas dan harga produk ini”. Responden akan mengalami kebingungan karena pertanyaan mengandung dua penilaian “kualitas” dan “harga”.

Hindarkan pertanyaan yang menggiring.
Contoh : “ Dengan kenaikan harga bahan pokok sekarang ini, seharusnya karyawan diberikan gaji yang layak”. Kalimat pertanyaan seperti itu mengandung unsur menggiring opini dengan mendahului kalimat “dengan kenaikan harga bahan pokok” dan “seharusnya karyawan diberi gaji yang layak”.

Hindarkan pertanyaan yang menghendaki ingatan. Pertanyaan mengenai waktu lampau seperti kejadian 10 tahun yang lalu dapat menyulitkan responden untuk menjawab.
Contoh : “apa yang sedang anda lakukan ketika terjadi demonstrasi besar 5 tahun yang lalu ?”

Hindarkan pertanyaan yang bermuatan.
Contoh : “sejauh mana kemungkinan perusahaan akan memberikan sanksi jika karyawan melakukan demo”. Kata “sanksi” dan “demo” mengandung muatan emosi yang memperlihatkan dua sudut pandang pihak manajemen dan pihak karyawan.

Pertanyaan yang terjadi Panjang
Secara umum, panjang pertanyaan dalam kuesioner sebaiknya tidak melebihi 20 kata, atau tidak melebihi satu baris baris penuh dalam cetakan (Horst, 1968, Oppenheim, 1986, dalam Sekaran, 2006)

B. Prinsip Pengukuran
Prinsip pengukuran atau levels of measurement perlu mendapat perhatian untuk memastikan bahwa data yang diperoleh adalah tepat untuk menguji hipotesis. Berbagai mekanisme penyusunan skala akan dibahas secara terpisah disini

C. Tampilan Umum
Tampilan umum kuesioner harus jelas mengungkapkan identitas peneliti, dan tujuan survey yang dilakukan. Kuesioner yang atraktif dan rapi dengan pendahuluan yang baik, instruksi dan kumpulan pertanyaan akan memudahkan responden untuk menjawab.

Contoh Tampilan Pendahuluan

Desain Pendahuluan

Contoh intruksi

Desain Instruksi

Pertanyaan terbuka dan ucapan terima kasih di akhir kuesioner
Pertanyaan terbuka bisa diberikan di akhir kuesioner untuk memberikan kesempatan kepada responden untuk mengomentari aspek yang mereka inginkan. Dan tak lupa di akhir kuesioner diberikan juga ucapan terimakasih

Sumber Rujukan :
Uma Sekaran. 2006. Metodologi Penelitian Untuk Bisnis. Jakarta : Salemba Empat, pp : 84-102

RFERENSI METODOLOGI PENELITIAN DAN STATISTIK

Ariefianto, Doddy. 2012. Ekonometrika : esensi dan aplikasi menggunakan EVIEWS. Jakarta : Erlangga

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi 2010. Jakarta : Rineka Cipta.

Azwar, Saifuddin. 2012. Reliabilitas dan Validitas. Edisi 4. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Dedi Rosadi. 2012. Ekonometrika & Analisis Runtun Waktu Terapan. Yogyakarta : Andi

Freddy Rangkuti. 2011. Riset Pemasaran. Cetakan ke 10. Jakarta : Percetakan PT. Gramedia

Ghozali.,Imam. 2009. Aplikasi Multivariate Dengan Program SPSS. Badan Penerbit Universitas Diponegoro: Semarang

Ghozali, Imam., 2008, Model Persamaan: Konsep dan Aplikasi dengan Program AMOS 16 Semarang: Badan Penerbit UNDIP

Ghozali, Imam, and Fuad, 2008, Structural Equation Modeling: Teori, Konsep dan Aplikasi Dengan Program Lisrel 8.0, Semarang: Badan Penerbit UNDIP

Ghozali, Imam., 2006, Statistik Nonparametrik, Semarang: Badan Penerbit UNDIP

Ghozali, Imam., 2006. Structural Equation Modeling Metode Alternatif dengan Partial Least Square. Semarang: Badan Penerbit UNDIP

Ghozali, Imam. 2011. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS. Semarang : BP Universitas Diponegoro

Gudono, 2011. Analisis Data Multivariate. Yogyakarta : BPFE

Gujarati, Damodar. 2006. Dasar-Dasar Ekonometrika.Jakarta: Erlangga.

Gujarati dan Porter. 2012. Dasar-Dasar Ekonometrika. Jakarta : Salemba Empat

Hair, dkk. (2006). Multivariate Data Analysis. Sixth Edition. New Jersey : Pearson Education

Jujun S. Suriasumantri. 2003. Filsafat Ilmu. Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan

Jan Jonker, Bartjan J.W. Pennink, Sari Wahyunil. 2011. Metodologi Penelitian.

Panduan Untuk Master Ph.D di bidang Manajemen. Jakarta : Salemba Empat
Hengky Latan dan Gudono. 2012. SEM : Structural Equation Modeling. Penerbit: BPFE, Yogyakarta

Kountur, Ronny. 2007. Metode Penelitian untuk penulisan Skripsi dan Tesis, edisi revisi. Jakarta : penerbit PPM.

Kusnendi. 2008. Model-Model Persamaan Struktural. Satu dan Multigroup Sampel dengan Lisrel. Bandung Albeta.

Neuman, W, L. (2006). Social Research Methods : Qualitative and Quantitative Approaches. Sixth Edition, Pearson International, Inc

Riduwan dan Sunarto,. 2007. Statistika untuk penelitian.  Bandung : Alfabeta.

Riduwan,dan Sunarto,  2007. Pengantar Statistika. Untuk penelitian Pendidikan, Sosial, Ekonomi, Komunikasi dan Bisnis. Bandung : Alfabeta

Riduwan, dan Engkos Achmad Kuncoro. 2008. Cara Menggunakan dan Memaknai Analisis Jalur (Path Analysis). Bandung : Alfabeta.

Sandjojo, Nidjo. 2011. Metode Analisis Jalur dan Aplikasinya. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan

Santoso, Singgih. 2002. Statistik dengan SPSS. Jakarta : Elex media Komputindo.

Sarwono, Jonathan. 2007. Analisis Jalur untuk Riset Bisnis. Yogyakarta : Andi

Sarwono, Jonathan. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta : Graha Ilmu

Sedarmayanti dan Hidayat, Syarifudin. 2011. Metodologi Penelitian. Bandung : Mandar Maju

Sekaran, U. 2006. Research Methods for Business Buku2. Edisi 4. Salemba Empat. Jakarta.

Sekaran, U. 2003. Research Methods for Business. A Skill Building Approach. John Wiley & Sons, Inc

Setyo Hari Wijanto. 2008. Structural Equation Modeling dengan LISREL 8.8. Yogyakarta : Graha Ilmu

Sugiyono. 2003. Metode Penelitian Bisnis. Bandung : Alfabeta

Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Administrasi. Bandung : Alfabeta

Suharyadi dan Purwanto. 2009. Statistika Untuk ekonomi dan keuangan modern. Salemba Empat, Jakarta.

Umar, Husein. 2003. Metode Riset Perilaku Organisasi. Jakarta : Gramedia.

Widarjono, Agus. 2007. Ekonometrika Teori dan Aplikasi untuk Ekonomi dan Bisnis. Ekonisia. Yogyakarta

Zulganef. 2006. Pemodelan Persamaan Struktural & Aplikasinya Menggunakan Amos 5. Bandung : Pustaka

Referensi Jurnal untuk menentukan Ukuran Sampel

Ada beberapa referensi yang bermanfaat untuk dijadikan pedoman penentuan ukuran sampel, diantaranya :

Bartlet., J.E, Kotrlik. J.W, Higgins, C.C. (2001). Organizational Research: Determining Appropriate Sample Size in Survey Research. Information Technology, Learning, and Performance Journal, Vol. 19, No. 1, Spring 2001

Lewis. K.P. (2006). Statistical Power, Sample Sizes, and the Software to Calculate Them Easily. BioScience, Vol. 56, No. 7 (July 2006), pp. 607-612

Ejigou, A. (1996). Power and Sample Size for Matched Case-Control Studies. Biometrics, Vol. 52, No. 3 (Sep., 1996), pp. 925-933

Guenther, W.C. (1977). Power and Sample Size for Approximate Chi-Square Tests. The American Statistician, Vol. 31, No. 2 (May, 1977), pp. 83-85

Harris, R.J, Quade, D. (1992). The Minimally Important Difference Significant Criterion for Sample Size. Journal of Educational Statistics, Vol. 17, No. 1 (Spring, 1992), pp. 27-49

Jun-mo Nam. (1998). Power and Sample Size for Stratified Prospective Studies Using the Score Method for Testing. Biometrics, Vol. 54, No. 1 (Mar., 1998), pp. 331-336

Shieh, G. (2000). On Power and Sample Size Calculations for Likelihood Ratio Tests in Generalized Linear Models. Biometrics, Vol. 56, No. 4 (Dec., 2000), pp. 1192-1196

Jiroutek, M.R, et. al. (2003). A New Method for Choosing Sample Size for Confidence Interval-Based Inferences. Biometrics, Vol. 59, No. 3 (Sep., 2003), pp. 580-590

Luis Saldanha and Patrick Thompson. (2003). Conceptions of Sample and Their Relationship to Statistical Inference. Educational Studies in Mathematics, Vol. 51, No. 3 (2002), pp. 257-270

Woolson R.F, et.al. (1986). Sample Size for Case-Control Studies Using Cochran’s Statistic. Biometrics, Vol. 42, No. 4 (Dec., 1986), pp. 927-932

William C. Guenther. (1981).  Sample Size Formulas for Normal Theory T Tests. The American Statistician, Vol. 35, No. 4 (Nov., 1981), pp. 243-244

Connor R.J. (1987). Sample Size for Testing Differences in Proportions for the Paired-Sample Design. Biometrics, Vol. 43, No. 1 (Mar., 1987), pp. 207-211

Sumber : http://teorionline.wordpress.com/

24 November 2012

DESAIN PENELITIAN KUALITATIF

Oleh : Prof. Sukardi MS. PhD.

Setelah membaca desain penelitian kualitatif-naturalistik ini para pembaca diharapkan memiliki kompetensi seperti berikut.
1. Memahami variasi desain penelitian naturalistik
2. Menguasai faktor-faktor dalam desain penelitian
3. Menerapkan prinsip-prinsip desain penelitian
4. Membuat desain penelitian yang sesuai dengan keadaan di lapangan.

Pokok Bahasan
Perencanaan penelitian secara definitif dapat diartikan sebagai gambaran secara mendalam tentang proses penelitian yang hendak dilakukan peneliti guna memecahkan permasalahan. Desain penelitian merupakan bagian dari perencanaan penelitian yang menunjukkan usaha peneliti dalam melihat apakah penelitian yang direncanakan telah memiliki validitas internal dan validitas eksternal yang komprehensif.

Pada penelitian kualitatif, bentuk desain penelitian dimungkinkan bervariasi karena sesuai dengan bentuk alami penelitian kualitatif itu sendiri yang mempunyai sifat emergent dimana phenomena muncul sesuai dengan prinsip alami yaitu pehenomena apa adanya sesuai dengan yang dijumpai oleh seorang peneliti dalam proses penelitian dilapangan.

Penelitian kualitatif dapat dipandang juga sebagai penelitian partisipatif yang desain penelitiannya memiliki sifat fleksibel atau dimungkinkan untuk diubah guna menyesuaikan dari rencana yang telah dibuat, dengan gejala yang ada pada tempat penelitian yang sebenarnya. Oleh karena seorang peneliti belum mengetahui tentang responden dan apa yang akan ditanyakan kepada mereka, maka mereka diperbolehkan melakukan perubahan. Sedangkan posisi perencanaan sebelum peneliti terjun dilapangan adalah untuk meyakinkan bahwa mereka mengetahuai kegiatan minimal apa yang perlu dilakukan di lapangan. Tidak diketahuinya macam pertanyaan apakah yang perlu disampaikan ke responden adalah sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Taylor dan Bogdan (1984:16) bahwa until we enter the field, we do not know what questions to ask or how to ask them.
 
Dalam penelitian kualitatif, bacaan yang luas dan up to date merupakan syarat mutlak yang perlu dilakukan oleh seorang peneliti guna mendalami teori yang relevan dengan permasalahan yang hendak dipecahkan. Oleh karena itu agar memperoleh desain penelitian yang baik, para paneliti hendaknya perlu memperhatikan beberapa butir penting seperti berikut yaitu: a) Peneliti hendaknya menaruh minat terhadap tema atau topik yang pada umumnya masih bersifat umum, b) Masalah diidentifikasi, dan dianalisis untuk menarik pertanyaan pokok atau yang berkaitan dengan fokus permasalahan, c) Peneliti sejak awal hendaknya juga sudah mengetahui key persons yaitu orang –orang yang mempunyai informasi, dan audience yaitu orang-orang atau lembaga yang dapat menggunakan hasil-hasil penelitian, d) Peneliti hendaknya mengetahui metode yang hendak digunakan agar dapat memilih metode yang sesuai dan dapat memecahkan masalah.
 
Unsur-unsur dalam desain Penelitian kualitatif
Walaupun desain penelitian kualitatif dikatakan sebagai desain yang fleksibel, secara empiris, desain penelitian kualitatif pada umumnya mengandung unsur-unsur penting seperti berikut.
  1. Menentukan fokus penelitian. Pada unsur ini peneliti berusaha menguraikan latar belakang permasalahan yang hendak dipecahkan, mengindentifikasi phenomena yang menunjukkan realitas permasalahan dan kemudian menentukan fokus penilitan yang memiliki fungsi sebagai guide atau pedoman peneliti ketika melakukan eksplorasi data.
  2. Menentukan paradigma penelitian yang sesuai dengan keadaan lapangan. Seperti halnya penelitian kuantitatif, peneliti kualitatif juga dianjurkan menggali landasan teori dari berbagai sumber informasi dan kemudian membangun paradigma penelitian yang sesuai dengan permasalahan yang dimaksud. Sedangkan yang menjadikan bervariasi pendapat diantara peneliti adalah dicantumkannya secara implisit dalam bab dua atau kajian pustaka atau secara integral dimasukkannya sesuai dengan konteks dan komponen penelitian.
  3. Menentukan kesesuaian antara paradigma dengan teori yang dikembangkan sehingga peneliti tetap yakin terhdapa kebenarannya karena teori yang dibangun masih saling berkaitan erat dengan paradigma yang dikembangkan.
  4. Menentukan sumberdata yang dapat digali dari masyarakat yang diteliti. Unsur ini penting bagi peneliti bahwa prinsip berbasah kaki dan berinteraksi dengan responden dapat dilaksanakan dengan benar.
  5. Menentukan tahap-tahap penelitian. Tahapan penelitian pada umumnya mencakup langkah-langkah yang secara sistematis direncanakan oleh peneliti, sehingga mereka dapat bergerak dari langkah sat ke langakh lainnya dapat dilkukan secara efisien.
  6. Mengembangkan instrumen penelitian. Walaupun peneliti adalah intrumen yang baik, seorang peneliti perlu menuangkan secara tertulis sebagai fungsi pertanggung jawaban, ketika peneliti lain menanyakan proses yang berkaitan erat dengan pengambilan data.
  7. Merencanakan pengumpulan data dan pencatatannya, termasuk didalamnya garis besar teknik pengumpulan data yang dipilih agar memperoleh data yang relevan dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.
  8. Rencana analisis data, termasuk tindakan setelah peneliti megumpulkan data dari para responden, melakukan refleksi dan m,enampilkannya untuk menuju peyusunan teori. Analisis data menurut Guba 9198) ini termasuk diantaranya mengkatorisasi data, mengelompokkan sesuai dengan karakteristik ubahan (characterisizing), menilai pengelompokan, dan checking antara anggota peneliti (Member-check)
  9.   Rencana mencapai tingkat kepercayaan dan kebenaran penelitian, yang didalamnya mencakup bagiaman peneliti melakukan pengembailan data agar memperoleh data yang valid dan releiabel dengan permasalahan yang hendak diteliti.
  10. Merencanakan lokasi dan tempat penelitian, lokasi dimana responden berada adalah tempat yang perlu diperhitungkan, sehingga peneliti akan memperoleh informasi dari tangan pertama yaitu orang yang mempunyai informasi.
  11. Menghormati etika penelitian, termasuk perhatian peneliti untuk selalu menghormati hak responden, tidak memaksa dan tidak membahayakan posisi responden. Hal responden tersebut dicantumkannya dalam desain untuk meyakinkan bahwa penelitian naturalistik sesuai dengan etika penelitian yang berlaku.
  12. Mempersiapkan laporan penulisan dan penyelesaian penelitian. Komponen ini termasuk didalamnya usaha peneliti untuk memperoleh laporan hasil penelitian yang didukung dengan bukti pengambilan data, analisis data dan deseminasi melui peneulisan jurnal maupun artikel yang relevan.

Hampir sebagian besar peneliti kualitatif mempunyai pertanyaan umum dalam pikiran mereka. Pertanyaan tersebut akan dibawanya sampai ketika mereka hendak masuk ke lapangan. Pertanyaan umum tersebut dapat dibedakan dalam dua kategori yang saling berkaitan yaitu pertanyaan substantif dan pertanyaan teoritis. Pertanyaan subsatantif biasanya berkaitan erat dengan isu-isu spesifik tentang tipe of setting misalnya, jika seorang peneliti tertarik untuk mempelajari lebih mendalam tentang lingkungan tinggal mereka seperti: rumah, desa, rumah sakit, restoran, kumpulan atau geng anak-anak remaja. Pertanyaan teoritis pada umumnya lebih dekat dengan isu-isu sosiologis misalnya sosialisasi tentang suatu program, penyimpangan yang terjadai dalam suatu masyarakat, dan kontro sosial yang diberlakukan.
 
Pada uraian berikut ini diuraikan salah satu contoh tindakan peneliti yang erat kaitannya dengan elemen desain penelitian kualitatif, seperti berikut.
  1. Peneliti menaruh minat terhadap suatu topik, kemudian dia melakukan pendalaman terutama terhadap hal-hal yang berkaitan dengan responden atau audience, keberadaaan dan kemudahan informasi keadaan dan lokasi penelitian.
  2. Peneliti kemudian merumuskan sejumlah pertanyaan pendahuluan, guna mengetahui lebih lanjut tentang informasi-informasi apa yang diperlukan.
  3. Peneliti mengidentifikasi macam-mcam metode pengumpulan data, dan kemudian dia memilih satu atau dua metode yang relevan dan tepat.
  4. Mengidentifikasi tempat atau situs penelitian dimana responden melakukan kegiatan. Tempat penelitian ini dapat berupa kelas, laboratorium, bengkel untuk kegiatan kelas. Tempat penelitian juga mungkin berupa tempat orang bekerja, lembaga atau institusi.
  5. Data yang diperoleh segera dianalisis untuk mencari maknanya. Perlu diketahui bahwa dalam penelitian kualitatif seorang peneliti dianjurkan untuk melakukan analisis segera setelah pengumpulan data selesai dilakukan. Atau dengan kata lain anatara pengumpulan data dengann analisis data dapat dilakukan secara serentak, tanpa menunggu selesainya tahap pengumpulan data.
  6. Berdasarkan laporan dan analisis biasanya akan timbul sejumlah pertanyaan baru yang menjadi pedoman guna melakukan observasi dan wawancara selanjutnya.
Yang Perlu Diperhatikan dalam Desain Penelitian
Desain penelitian kualitatif pada umumnya masih memiliki tiga karakteristik seperti berikut. a) tidak dinyatakan secara detail, b) bersifat fleksibel, c) berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada di lapangan. Namun demikan peneliti senior, atas dasar empiris, dapat mengidentifikasinya yang dalam beberapa hal yang komponen desainterjadi perubahan di lapangan. Beberapa unsur yang dimaksud misalnya ialah: tentang tujuan, subyek yang diteliti, proses pengambilan data, sampel dan sumberdata. Desain yang tepat baru dapat ditentukan secara pasti oleh peneliti setelah peneliti bertemu dan berinteraksi dengan responden.
 

Desain penelitian kualitatif pada umumnya tidak mengemukakan hipoteses yang harus dites, tetapi lebih sering berupa pertanyaan penelitian yang lebih mengarahkan pada ketercapaian pegumpulan data secara langsung. Hal ini sesuai dengan penelitian kualitatif naturalistik yang mendasarkan pad teori grounded yaitu membangun teori yang diperoleh melalui pengamatan kasus perkasus phenomena yang dijelaskannya.
 

Desain penelitian kualitatif naturalistik pada umumnya bersifat juga terbuka,dan mampu mengakomodasi adanya beberapa kemungkinan perubahan. Jumlah variabel yang tidak terbatas menjadikan desain penelitian fleksibel melalui langkah-langkah yang tidak diperhitungkan sebelumnya.
 

Pengertian populasi tidak perlu posisinya sebagai sesuatu yang luas tetapi bisa subyek yang berdomisili pada satu tempat. Selain itu sampling dapat ditafsirkan sebagai plihan peneliti terhadap: a) aspek apa, dari peristiwa apa, dan siapa yang dijadikan fokus dalam penelitian, b) sampling dilakukan atas pertimbangan lebih bersifat bertujuan tergantung pada masalah penelitian. Analisis data dilakukan sejak awal bersamaan dengan proses pengumpulan data, bersifat terbuka dan berpijak dengan dasar filosofis induktif.

Empat belas Prinsip berkait dengan Desain Penelitian Kualitatif
Dalam menyusun desain penelitian kualitatif, para peneliti hendaknya perlu memperhatikan beberapa butir seperti berikut.

  1. Desain penelitian kualitatif pada umumnya merupakan desain penelitian yang tidak terinci, fleksibel, timbul dan berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada di lapangan. Hal-hal yang memungkinkan desain penelitian berubah biasanya termasuk: tujuan, subyek, sampel penelitian jika ada, dan sumber data.
  2. Lebih bersifat restrospektif yaitu, desain penelitian diketahui secara pasti setelah penelitian selesai. Walaupun misalnya para peneliti mendesain penelitian dibantu dosen pembimbing, hasil penelitian masih bersifata sementara atau adhoc dan masih mungkin berubah sesuai dengan kondisi di lapangan.
  3. Desain biasanya tidak mengemukan hipoteses yang perlu di tes, tetapi lebih berupa fokus penelitian yang penekannya sebagai guide atau petunjuk dalam mencari atau mengumpulkan data.
  4. Hasil penelitian lebih bersifat terbuka dan tidak membatasi phenomena ke dalam variabel seperti dalam penelitian kuantitatif positivist.
  5. Desain penelitian lebih fleksibel dengan langkah-langkah yang tidak dapat dipastikan, disamping juga hasil penelitian tidak dapat diprediksi atau diramalkan.
  6. Peneliti melakukan analisis data sejak awal penelitian, bersamaan dengan proses pengumpulan data, bersifat terbuka, open endded dan dilakukan secara induktif.
  7. Penggunaan populasi posisinya tidak terlalu perlu. Sampling dapat ditafsirkan sebagai pilihan peneliti terhadap beberapa faktor terkait termasuk: aspek apa dari peritiwa apa, dan siapa ataua apa yang dijadikan fokus dalam penelitian.
  8. Sampling lebih cederung menggunakan prinsip non probability sampling (Kerlinger: 1986), yang didalamnya dibedakan menjadi empat macam yaitu a) purposive, b) accidental, c) quota dan d) snow-ball sampling. Penelitian ini disebut sebgai non probabilitas karena lebih banyak tergantung dari pada pilihan peneliti dan juga tujuan penelitian.
  9. Instrumen penelitian kualitatif pada umumnya lebih bersifat internal dan subyektif, yang direfleksikan dengan “peneliti sebagai instrumen”. Disamping itu, instrumen penelitian kualitatif mendasarkan pada aspek-aspek seperti berikut termasuk: bersifat khusus, dan berulangkali terjadi, yang berupa paradigma atau thema yang memberikan petunjuk ke arah pembentukan teori.
  10. Analisis data lebih bersifat terbuka terhadap perubahan, perbaikan dan penyempurnaan atas dasar data baru yang masuk atau diterima peneliti.
  11. Hipoteses tidak dapat dirumuskan pada awal penelitian, karena pada penelitian kualitatif tidak dimaksudkan untuk menguji kebenaran. Hipoteses atau jawaban sementara dalam penelitian kualitatif muncul sepanjang proses penelitian sebagai pedoman dalam menafsirkan dan memaknai data.
  12. Statistik tidak terlalu diperlukan dalam pengolahan data dan penafsiran data. Dalam penelitian kualitatif, menganalisis data berarti mencoba memahami makna data secara Verstehin dengan lebih mengutamakan makna yang berasal dari phenomena yang saling berkaitan satu sama lain.
  13. Lama penelitian tidak dapat ditentukan sebelumya oleh si peneliti. Pada hakekatnya penelitian kualitatif dapat terus berlangsung sampai pada suatu saat peneliti sudah tidak memperoleh data baru atau telah terjadi pengulangan phenomena, berarti penelitian baru dapat diperbolehkan berhenti.
  14. Dalam penelitian kualitatif-naturalistik selalu terjadi kemungkinan peneliti menemukan hal baru (invention) disamping juga penemuan kembali hal-hal tertentu yang sebenarnya dahulu sudah ada atau discovery.
Kerangka Desain Penelitian Kualitatif
Kerangka penulisan laporan penelitian kualitatif naturalistik, pada umumnya dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu kerangka laporan penelitian untuk mencapai gelar dan kerangka laporan penelitian sebagai kegiatan profesi.
 

Kerangka penulisan laporan untuk mencapai gelar keserjanaan atau status akademik tertentu biasanya lebih dituntut ketelitian penulis, disamping juga kelengkapan komponen penelitian yang harus dipenuhi. Untuk penelitian kualitatif yang digunakan sebagai kegiatan profesi, kelengkapan komponen penelitian tidak terlalu dituntut keberadaanya. Bagian utama yang sering dihilangkan antaranya adalah bab dua tentang landasan teori. Hal ini terjadi, karena lembaga profesi pada umumnya kurang menuntut landasan teori, karena beberapa alasan seperti misalnya, a) landasan teori yang berisi kajian pustaka sudah dibuat secara integral sesuai dengan pembahasan yang relevan.b) tanpa landasan teori laporan penelitian lebih terfokus kepada kebutuhan lembaga profesi.
 

Untuk penelitian yang tujuan utamanya adalah untuk mencapai derajat kesarjanaan atau gelar akademik, berikut ini diberikan contoh kerangka laporan penelitian kualitatif naturalistik dengan judul “perilaku kepemimpinan kepala sekolah Perempuan: Studi Kasus di SMU Negeri 9 dan SMU Budyawacana 1 Yogyakarta (Abdul azis: 2003) yang memiliki komponen seperti berikut.
 

- Abstrak
- Lembar pengersahan
- Kata pengantar
- Daftar isi
- Daftar tabel
- Daftar gambar
- Daftar lampiran
 

BAB I. Pendahuluan
• latar belakang
• Identifikasi permasalahan
• Pembatasan masalah
• Fokus penelitian
• Tujuan penelitian
• Manfaat penelitian


BAB II. Kajian Pustaka
- Definisi kepemimpinan
- Tujuan dan fungsi kepemimpinan
- Kempimpinan yang efektif
- Teori Kepemimpinan situasional
- Kajian penelitian yang relevan
- Kerangka pikir penelitian
- Sistematika pembahasan
 

BAB III. Metodologi Penelitian
- Gambaran umum tentang sekolah atau obyek
- Waktu dan setting penelitian
- Instrumen penelitian
- Teknik pengumpulan data
- Keabsahan data
- Sistematika pembahasan
 

BAB IV. Penelitian dan Pembahasan
- Diskripsi latar penelitian
- Fungsi kepala sekolah dan pendekatan kepemimpinannya
- Indikator efektifitas kepemimpinan
- Kecenderungan pendekatan kepemimpinan
- Dampak perilaku kepemimpinan kepala sekolah
 

BAB V. Kesimpulan dan saran
- Kesimpulan
- Implikasi
- Saran-saran
- Keterbatasan penelitian
- Daftar Pustaka
- Lampiran


Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa,

  1. Desain penelitian merupakan bagian dari perencanaan penelitian yang menunjukkan usaha peneliti dalam melihat apakah penelitian yang direncanakan telah memiliki validitas internal dan eksternal yang komprehensif.
  2. Pada penelitian kualitatif, bentuk desain dimungkinkan bervariasi karena sesuai dengan bentuk alami penelitian kualitatif itu sendiri yang mempunyai sifat emergent dimana phenomena muncul sesuai dengan apa yang dijumpai peneliti dalam proses penelitian di lapangan.
  3. Desain penelitian pada umumnya mengandung unsur-unsur seperti berikut, a) fokus penelitian, b) paradigma penelitian, c) kesesuaian antara paradigma dengan teori yang dikembangkan, d) sumberdata yang dapat digali, e) tahapan penelitian, f) instrumen penelitian, g) rencana pengumpulan data dan pencatatannya h) rencana analisis data I) rencana tingkat kepercayaan dan kebenaran penelitian, y) rencana lokasi dan tempat penelitian, k) etika penelitian l) rencana penulisan dan penyelesaian penelitian.
  4. Desain penelitian kualitatif seringkali tidak dinyatakan secara detail, bersifat fleksibel tumbuh dan berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada di lapangan
  5. Hasil penelitian lebih bersifat terbuka dan tidak membatasi variabel seperti dalam penelitian kualitatif.
  6. Instrumen penelitian kualitatif pada umumnya lebih bersifat internal, dan subyektif yang direfleksikan dengan “peneliti sebagai instrumen”.
  7.   Lama penelitian tidak dapat ditentukan sebelumya, karena penelitian umumnya terus berlangsung sampai pada suatu saat peneliti tidak memperoeh data baru.
  8.   Dalam penelitian kualitatif-naturalistik selalu terjadi kemungkinan peneliti menemukan hal-hal baru atau penemuan kembali yang sebenarnya dahulu sudah ada.
 sumber : http://jeperis.wordpress.com
 

Tulisan Lainnya:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *