03 April 2010

Beberapa kesalahan dalam penyusunan skripsi

Baru-baru ini, saya diminta mencarikan judul Skripsi Psikologi. Saya jadi teringat saat saya masih berjuang menyelesaikan skripsi dulu. Jujur, saya justru lebih faham bagaimana meneliti dengan baik dan benar setelah selesai ujian pendadaran serta melihat kawan-kawan saya yang lulus ujian. Ternyata, banyak mahasiswa (termasuk saya dulu) melakukan beberapa kesalahan mendasar dalam menyusun skripsi. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Tidak tahu tujuan, judul dan fokus penelitiannya.

Banyak mahasiswa yang tidak tahu tujuan penelitian. Yang mereka tahu hanya lulus dan jadi sarjana saja Tapi bukan itu yang saya maksud. Tujuan di sini berarti: Untuk apa Anda meneliti persoalan ini? Selain itu, fokus yang diteliti apa? Batasannya seperti apa? Kalau penelitiannya kuantitatif, variabelnya apa saja? Aspek-aspek dari variabelnya apa? Kalau kualitatif, pertanyaan penelitiannya apa? Metodenya bagaimana? Nah, dari sini sebetulnya judul skripsi sudah dapat dibuat. Kalau masih bingung, kita dapat mencari fokus dan judul dari rekomendasi (saran) penelitian/skripsi yang sudah selesai (biasanya di bab terakhir).
2. Bingung permasalahannya sendiri.
Permasalahan yang hendak diteliti adalah latar belakang untuk memulai. Rumus sederhana dari “membuat” masalah adalah: menentukan das sein dengan das solen. Kemudian, memperkuat das sein dan das solen dengan bukti-bukti maupun dasar yang kuat. Das Sein adalah apa yang terjadi sesungguhnya (fakta di lapangan). Das solen adalah apa yang seharusnya terjadi (ideal). Keduanya harus bertentangan (dipertentangkan) karena masalah adalah kesenjangan antara das sein dengan das solen.
3. Pola pikir tidak ilmiah.
Pola pikir ilmiah itu sederhana kok. Anda mengungkapkan argumentasi dengan dasar. Atau dengan kata lain kebenaran akan terungkap jika kita punya dasar empiris yang kuat. Banyak mahasiswa memberikan argumentasi yang cukup baik tapi ternyata tidak punya dasar. Termasuk tulisan ini.  Tidak ada dasarnya. Kalau ini ilmiah, saya akan menyebutkan dasar-dasarnya. Misalkan hasil observasi atau wawancara dari para mahasiswa yang mengalami kesalahan dalam menyusun skripsi. Tapi ini hanya sharing pengalaman saja dan bukan tulisan ilmiah. Jadi, saya tidak akan menguatkannya dengan dasar-dasar tersebut. Oh ya, dasar dalam skripsi dapat dicari dari hasil penelitian, jurnal, teori, berita media dan lain sebagainya.

4. Sok pintar

Maksudnya banyak memasukkan kata-kata yang tidak dimengerti atau konsep-konsep yang tidak dipahami. Sikap sok pintar lainnya adalah membuat paragraf yang tidak sederhana. Terlalu banyak dan berbelit-belit. Kadang berfikir supaya halamannya banyak. Biar dosennya pusing bacanya. Sayangnya, justru dia sendiri yang bingung dengan maksud dari apa yang dia tulis.  Padahal, teori yang lebih sederhanalah yang akan digunakan. Bahasa yang lebih sederhanalah yang mudah diterima. Einstein pun bisa hebat karena dia mampu menyederhanakan teori relativitas.
5. Asal Copy Paste
Biasanya di Bab 2 atau Tinjauan Pustaka. Padahal, peneliti harus faham dan harus tahu kutipan itu untuk apa. Kalau tidak perlu ya jangan asal memasukkan kutipan.
6. Tidak faham metode.
Biasanya menggunakan metode A tapi ditulis menggunakan metode B. Metode itu sebetulnya mirip sekali dengan cara memasak. Kalau kita punya bahan telur maka metodenya bisa direbus atau digoreng. Nah, kalau kita tidak faham metode, bisa jadi kita akan merebus telur (yang sudah dibuang kulit luarnya) bersama-sama dengan minyak goreng. 
7. Tidak ditulis penjelasannya.
Mahasiswa harus menulis semua yang berkaitan dengan penelitian secara lengkap. Kalau ada pernyataan atau kalimat yang tidak jelas dan ditanyakan dosen waktu ujian, biasanya mahasiswa mampu menjawab. Namun, jawaban itu tidak ditulis atau tidak ada di naskah skripsi. Ini adalah kesalahan. Dalam ujian pendadaran, jawaban dari pertanyaan dosen seyogyanya sudah ada di naskah skripsi.
8. Terlalu memikirkan EYD
Menulis skripsi itu jangan terlalu fokus pada EYD. Tulis dulu dengan jelas dan logis substansinya. Baru setelah selesai, edit dan benarkan EYD serta aturan lainnya. Toh kalau ada yang terlewat akan dibantu dosen untuk memperbaikinya. 
9. Ditunda dan ganti judul terus.
Dalam proses penulisan skripsi, penyakit ini banyak membuat mahasiswa nggak selesai-selesai nulis skripsi. Alasan berganti adalah karena kesalahan konsep, kurang sempurna, nggak cocok, susah menelitinya, rekomendasi dosen dan lain sebagainya. Sebaiknya mahasiswa fokus pada satu konsep saja dan menerima kekurangan ataupun kelemahan dari fokus yang sudah dipilihnya. Sebab, dengan berganti-ganti konsep sama saja dengan terus menerus memulai skripsi dari awal lagi.
Oke. itu saja dulu. Semoga pengalaman saya dapat membantu. Jangan pernah menyerah ya! Semoga cepat selesai skripsinya. Sukses selalu. Lebih baik jadi sarjana pengangguran daripada jadi mahasiswa pengangguran.

Sumber : http://nafismudrika.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tulisan Lainnya:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *