12 Maret 2017

KESULITAN DAN SEMANGAT MENELITI


Penelitian tidak mudah terutama dalam hal mendapatkan data dengan metode yang standar pengumpulan data, terutama dalam penelitian kuantitatif seperti dalam hal penyebaran angket, proses wawancara, dokumentasi literatur, dan observasi. Tapi kesulitan itu tidak menjadi penghalang bagi peneliti untuk menghentikan penelitiannya. Justru itulah tantangan dilapangan dengan berbagai penolakan, bahkan dialami oleh institusi yang seharusnya membantu dan mempermudah seorang peneliti menyampaikan dan menggali datanya. Banyak kampus yang seharusnya membantu para koleganya sesama peneliti dan seprofesi sebagai dosen, malahan mempersulit dengan dalih : prosedur penelitian, ada hal yang menyangkut rahasia, kredibilitas dosen atau institusi terganggu, terlalu sibuk ataupun ketakutan lain yang tidak dipahami peneliti.

Kesepahaman antara pihak peneliti dengan institusi ketika ajuan angket penelitian terjadi proses penolakan dengan prosedur yang terkadang menyulitkan, itu terjadi dikampus yang notebene pusat tridarma penelitian dan ada juga yang wellcome dengan peneliti mungkin memahami kesulitan dilapangan. Butuh perjuangan dan kemampuan peneliti untuk secara persuatif untuk menyampaikan proses interview dan penyebaran angket.

Kesulitan penelitian kuantitaif.

Kesulitan mendasar pengumpulan data dari lapangan ketika penelitian dengan loaksi umum dan tidak begitu dikenal, bisa beberapa bulan dari penyebaran sampai pengolahan data sehingga bisa menghasilkan penelitian dan didiseminasikan di forum penelitian atau yang disertasi diujian sidangkan.ketika penyebaran angket mengalami kesulitan hal itu akan memperlambat selesainya penelitian kita.

Ada beberapa cara yang memudahkan dalam penyebaran dan pengumpulan data mentah penelitian kelapangan antaralain :
1. Menanamkan kepercayaan dengan identitas istitusi/asal peneliti dengan observasi awal.
Kepercayaan itu mahal, seperti takut penipuan dengan tampilan peneliti yang kurang meyakinkan, identitas institusi asal peneliti, takut membuka aib kampus atau responden. observasiawal harus menanamkan bahwa kita legal dengan surat pengantar penelitian, identitas peneliti, referensi yang bisa dihubungi bisa disampaikan dan memberikan jaminan dengan etika peneliti untuk tidak membuka hal-hal yang menggangu institusi atau pribadi responden, dll.

2. Lokasi penelitian yang lebih dekat dengan posisi peneliti.
Terkadang sampel untuk diteliti ditempat yang mudah seperti tempat kerja sendiri, tempat mengajar atau ada orang dalam sebagai kolega atau teman. jauh lebih mudah dan terpercaya untuk dijadikan tempat penelitian.

3. Bisa juga melalui kekuasaan.
Kekuasaan itu berkonotasi negatif, seolah memanfaatkan. Tapi,  bisa positif untuk memudahkan penelitian, seorang teman meneliti perilaku kepala sekolah se kabupaten x dengan jumlah populasi 400 responden dengan sample hanya 150 responden, secara door to door bisa berbulan-bulan, tapi dengan mendapat referensi kolega seorang kepala dinas pendidikan setempat, dalam moment rapat dinas bisa membantu dalam pengisian angket hanya dua hari, dengan kontribusi menyiapkan makan siang untuk 250 orang kepala sekolah yang sedang rapat.

3. Korespondensi dan kontributor kalau penelitian jarak jauh.
Untuk interview kalau respondennya jarak jauh bisa juga melalui kontributor atau koresponden anda diluar. Memang tidak mudah mencari orang asing dinegeri orang membutuhkan hubungan cukup lama sebelum berlangsungnya penelitian anda, tapi setidaknya dengan punya teman korespondensi bisa meringankan biaya perjalanan anda keluar dan bisa juga mencarikan referensi buku penelitian yang tidak bisa didapatkan di Indonesia.

4. Berbicara secara persuatif langsung dengan pimpinan institusi.
Observasi awal kalau bisa langsung dengan pimpinan jangan dengan staf yang terkadang tak memahami kita, sehingga terkadangangket kita tidak disampaikan dan kita dianggap pengganggu.

5. Semua adalah perjuangan dan konsekwensi jadi peneliti.
Tentu saja semua resiko kita jadi peneliti dan butuh kesabaran dan strategi pendekatan, agar penelitian kita berlangsung baik dan lancar.

Dari kesulitan itulah tetap bersemangat dengan tetap menjadga etika peneliti, menghindari rekayasa data, menetapkan nilai kebenaran sebuah penelitian..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tulisan Lainnya:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *