26 Februari 2013

PROSEDUR PENELITIAN ILMIAH



 4.1. Langkah-langkah Penelitian

Meneliti adalah melakukan serangkaian aktivitas intelektual secara sistematis, yaitu  dengan langkah-langkah yang teratur atau runtut.
               Langkah pertama, memilih bidang, topik kajian atau judul penelitian. Bidang kajian atau subjek ilmu.  Subjek ilmu dalam arti sebagai pokok persoalan yang dipelajari. Sedang judul, menjelaskan mengenai fokus atau ruanglingkup masalah yang dipelajari. Langkah pertama ini tidak datang dengan sendirinya, sebab timbulnya gagasan untuk meneliti biasanya karena telah didahului oleh serangkaian aktivitas lainnya seperti melakukan mengamatan awal atau membaca sekian banyak referensi sehingga diperoleh sejumlah informasi. Dengan demikian, gagasan untuk melakukan penelitian ilmiah bisa karena ingin membuktikan atau mempelajari lebih lanjut mengenai hal-hal atau informasi-informasi yang telah didapat sebelumnya yang dianggap belum cukup.
               Langkah kedua adalah melakukan kegiatan penelitian itu sendiri. Jika penelitian lapangan, maka aktivitas yang dilakukan ialah mengumpulkan data lapangan. Di dalam proses pengumpulan data lapangan itu, sejumlah hal harus dijalani, seperti masalah apa saja harus ditanyakan kepada siapa saja (informan), di mana dan kapan serta bagaimana melakukan wawancara. Ketika wawancara itu berlangsung, dalam suasana seperti apa sehingga informasi yang diberikan dapat terandalkan kebenarannya. Bagaimana pula mencatatnya, dan sebagainya.
               Langkah ketiga ialah menganalisis terhadap informasi, dalam arti memahami makna dari sekumpulan informasi yang telah didapatkan. Langkah keempat ialah menyusun laporan penelitiannya, dan langkah kelima adalah menyebar-luaskan hasil temuan.
                                      
4.2. Ruang lingkup Masalah Penelitian
Penelitian dilakukan umumnya didasarkan pada adanya  masalah, tujuan yang ingin dicapai, teori yang digunakan dalam melihat masalah, serta metode yang digunakan untuk menjawab masalah.
               Apa yang disebut sebagai masalah penelitian ialah segala sesuatu yang bertentangan/berbeda antara  keinginan dengan kenyataan yang dihadapi (problem  is any discrepancy between an  actual  state  of affairs and some ideal state). Dikatakan ada masalah berarti ada kenyataan yang berbeda bahkan bertolakbelakang antara apa yang seharusnya  terjadi (das sollen) dengan kenyataan yang  dihadapi (das sein). Adanya perbedaan kenyataan tersebut mempengaruhi atau menyebabkan munculnya kerugian bagi banyak orang (masyarakat) atau lembaga atau aturan-aturan yang telah disepakati, sehingga menurut akal sehat masalah tersebut perlu dicarikan jalan keluar pemecahannya.
               Dalam batasan yang sederhana, masalah bisa diartikan sebagai (a) sesuatu yang belum diketahui (karena  sifat  kebaruannya) dan menimbulkan rasa ingin tahu; (b) segala bentuk pertanyaan yang perlu dicari jawabannya;  (c) segala sesuatu yang dipertanyakan; atau (e)  segala  bentuk hambatan, rintangan,  atau  kesulitan  yang muncul  pada sesuatu bidang yang perlu dihindari  dan  disingkirkan.
               Untuk menemukan masalah penelitian, bisa dilakukan dengan berbagai cara. Di antara cara-cara itu ialah  dengan   melakukan  pengamatan terhadap kegiatan manusia secara cermat. Dari pengamatan tersebut, lantas kita tanyakan kembali yakni apakah  ada perbedaan antara apa yang  seharusnya  dengan kenyataan yang ditemui?  Lihatlah bagaimana seorang teknisi mobil di bengkel bekerja. Dengan menghidupkan mesin mobil, mereka cepat tahu apa yang tidak beres pada mesin mobil tersebut.  Begitu pulalah dengan dokter. Dengan mengamati pasien ditambah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan singkat, dokter akan tahu kemungkinan penyakit yang diderita pasien. Jika kurang yakin atau untuk lebih meyakinkan diri, seorang teknisi mobil atau seorang dokter akan mengetes (mendiagnosis) dengan memakai alat-alat yang dimiliki.  Untuk mempertajam pemahaman atas jawaban yang diajukan sendiri, perlu dibantu dengan membaca sumber-sumber bacaan sesuai dengan bidang pengetahuan yang digeluti. Semakin kita kuasai bidang keilmuan, akan semakin peka untuk melihat adanya masalah. Sumber-sumber bacaan itu bisa dicari misalnya dari laporan-laporan penelitian. Bisa jadi, akan kita temukan adanya  ketidakajegan  hasil-hasil  penelitian   tentang sesuatu hal. Ini mungkin bisa dilihat dari arah pendekatan teori atau metodologi yang dipakai. Jika perlu, bisa juga dilanjutkan dengan mendiskusikan kepada peer-group atau kepada pihak-pihak yang terkait, sehingga menambhak keyakinan kita adanya masalah penelitian yang menarik dikaji. Namun  demikian, tidak semua masalah menjadi penting untuk diangkat sebagai permasalahan yang membutuhkan penelitian. Dalam hal ini, diperlukan sejumlah pertimbangan, di antaranya:  (a).  Apakah penelitian terhadap masalah yang kita  angkat  itu   akan memberikan sumbangan untuk pemecahan  masalah-masalah  praktis,  pengembangan teori, atau  memiliki  daya  tarik karena kebaruannya?; (b) Kalau kita meneliti terhadap masalah yang akan kita ajukan itu, apakah dari segi biaya, waktu, fasilitas, kemampuan,  dan metodologi, terkuasai?
               Apabila sudah  “mencukupi”, maka langkah berikutnya  adalah “merumuskan permasalahan ke  dalam  susunan kalimat yang jelas. Ingat, dapat merumuskan dengan baik masalah penelitian yang akan dilakukan, sudah merupakan separoh dari berhasilnya penelitian itu sendiri”. Untuk itu, perlu diperhatikan beberapa hal. Pertama, hendaknya masalah yang diajukan dirumuskan ke dalam bentuk kalimat yang jelas, dan padat. Kedua, hendaknya, di dalam susunan  permasalahan  itu  memberi petunjuk tentang mungkinnya  melakukan pengumpulan  data  guna menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam perumusannya itu.

4.3. Kepustakaan
4.3.a. Kajian Kepustakaan
       Kajian kepustakaan adalah kegiatan otak berupa memilih, membaca, dan memanfaatkannya untuk memperoleh informasi maupun wawasan teoritik yang ditulis oleh peneliti  sebelumnya, terutama  yang  ada  hubungannya dengan penelitian yang akan dilakukan. Karena itu kerja mencari bahan di perpustakaan merupakan hal  yang tak  dapat  dihindarkan oleh seorang  peneliti. 
        Kajian kepustakaan sangat penting karena  masalah yang akan kita teliti, umumnya bukanlah sama sekali masalah baru. Bisa jadi, ada peneliti lain yang pernah menulis artikel atau laporan penelitian dalam topic yang mirip atau sama hanya saja berbeda lokus atau metodologinya.  Kalau kita membaca tulisan mereka berarti kita bisa membandingkan, mengkritisi, atau mengembangkan. Hasil dari pembacaan demikian, tentu saja akan  mempertajam pemahaman informasi awal, konsep-konsep maupun teori yang digunakan, atau membantu memberi ide-ide atau pendekatan baru. Atau paling tidak, untuk menghindari terjadinya pengulangan dari suatu  penelitian.
        Dengan kata lain, melakukan kajian kepustakaan bermanfaat untuk hal-hal berikut: Pertama,  menggali  teori-teori dan konsep yang  telah  diketemukan oleh para ahli terdahulu. Kedua,  mengikuti  perkembangan  penelitian  da­lam  bidang.  yang    akan diteliti. Ketiga, memperoleh  orientasi yang lebih luas  mengenai  topik   yang dipilih. Keempat, memanfaatkan data sekunder. Kelima, menghindari duplikasi penelitian. Keenam, menambah ketrampilan  bagai­mana  cara  mengungkapkan  buah pikiran  secara sistematis kritis  dan ekonomis. (Bandingkan pada Irawati, 1982: 45)

4.3.b. Perpustakaan
Perpustakaan[1] dapat diartikan sebagai suatu or­ganisasi atau badan yang mengumpulkan  koleksi buku, majalah, bahan  tertulis/cetakan dsb, dalam sebuah  gedung (bangunan). Pengelolaan bahan-bahan (bacaan) yang ada, disusun dan diolah sesuai dengan sistem yang dipergunakan.  Secara fisik, penyusunan bahan bacaan didasarkan pada tiga kategori ruang, yaitu: ruang  referens, ruang buku, dan ruang majalah. Ruang reference berisi:  bahan-bahan  penerangan  yang bersifat luas dan umum, se­perti: ensiklopedia, kamus,  atlas, indeks,  almanak, buku-buku petunjuk, (khusus): kamus  psikologi, kamus ilmu politik, dsb. Ruang buku, berisi segala jenis buku yang bisa dipinjam, dan ruang  majalah, merupakan ruang bacaan umum.
          Sumber-sumber informasi yang bisa diperoleh dari perpustakaan bisa berupa:1. Indeks, cumulative book index; 2. Abstraks. disertation abstract; 3. Bibliografi; bibliographic index; 4. Katalogus; 5. Microfilm, dst.  Keseluruhan bahan bacaan yang dimiliki, akan diklasifikasi sesuai dengan system yang digunakan, yaitu apakah dipakai Sistem Dewey Decimal Atau  Sistem Library of Congress (Amerika Serikat).
              Sistem Dewey adalah sistem penggolongan semua cabang ilmu pengetahuan yang dibagi ke dalam sembilan (9) golongan, ditambah gol ke-10  untuk  hasil-hasil yang bersifat umum, dan mencakup beberapa golongan.  Golongan ini pun dipecah-pecah lagi dalam bagian yang lebih kecil.

Angka dasar sebagai berikut:
000   = umum   (general works)
100   = filsafat (philosophy)
200   = agama  (religion)
300   = pengetahuan sosial (social sciences)
400   = filologi (philology)
500   = pengetahuan alam (natural sciences)
600   = seni praktis (useful arts)
700   = seni murni (fine arts)       
800   = kesusastraan (literature)
         820  = kesusastraan Inggris, sebab: 800 = kesusastraan
           20  = Inggris
          821  = idem, 1 = puisi

               Sistem Library of Congress (Amerika Serikat). Sistem  ini mem­bagi ilmu pengetahuan atas  20  golongan utama, dan diberi simbol abjad dan angka. Pada karangan Earl Babbie (1987: 471) dijelaskan sbb:

A            GENERAL WORK
B            PHILOSOPHY, PSYCHOLOGY, RELIGION
   B-BD                Philosophy
   BF                    Psychology
   BL-BX               Religion

C            HISTORY-AUXILIARY SCIENCES
D            HISTORY (except America)
   DA-DR              Europe
   DS                   Asia
   DT                    Africa
E-F          HISTORY (America)
   E                      United States
   E51-99              Indians of North America
   E185                 Negroes in the United States
   F101-1140         Canada
   F1201-3799       Latin America

G            GEOGRAPHY-ANTHROPOLOGY
   G-GF                Geography
   GC                   Oceanology and Oceanography
   GN                   Anthropology
   GV                   Sports, amsements, games

H            SOCIAL SCIENCE
   HB-HJ               Economics and business
   HM-HX              Sociology

J             POLITICAL SCIENCE
   JK                    United States
   JN                    Europe
   JQ                    Asia, Africa
   JX                    International relations

K             LAW
L             EDUCATION
M            MUSIC
N            FINE ARTS
   NA                    Architecture
   NB                    Sculpture
   NC                    Graphic arts
   ND                   Painting
   NE                    Engraving
   NK                    Ceramics, textiles

P                        LANGUAGE AND LITERATURE
   RE                    English language
   PG                   Slavic language
   PJ-PM              Oriental language
   PN                    Drama, oratory, journalism
   PQ                   Romance literature
   PR                    Englishliterature
   PS                    American literature
   PT                    Germanic literature

Q                    SCIENCE
   QA                   Mathematics
   QB                   Astronomy
   QC                   Physics
   QD                   Chemistry
   QE                   Geology
   QH-QR              Biology

R                      MEDICINE
   RK                    Dentistry
   RT                    Nursing

S                        AGRICULTURE-PLANT AND ANIMAL INDUSTRY
T                         TECHNOLOGY
   TA-TL                Engineering
   TR                    Photography

U                        MILITARY SCIENCE
V                        NAVAL SCIENCE
Z                         BIBLIOGRAPHY AND LIBRARY SCIENCE


               Biasanya angka-angka dan  huruf-huruf  kode ditulis pada kartu katalog. Kartu katalog memberi keterangan lengkap mengenai data buku sebagai mana berikut:

Nomor perpustakaan.
         1. Penulis, tahun terbit
         2. Judul, penulis, keterangan penerbitan
         3. Keterangan buku (ukuran dll)
         4. Daftar isi (ringkas)

Nomor klasifikasi.
Gambar Kartu Perpustakaan (Kartu-penulis)

                  
               Kartu-kartu catalog tersebut disusun ke dalam dua model. Pertama,susunan terpisah (divided catalogue) yaitu  tiap  macam kartu disusun sendiri menurut abjad. Dengan demikian,  terdapat tiga  jajaran katalog: katalog  pengarang; katalog  judul,  dan keterangan  subjek buku. Kedua, susunan kamus (dictionary catalogue) yaitu ketiga  macam kartu di atas disusun menjadi satu dan menurut  abjad.
               Pada masing-masing kartu catalog, memuat keterangan sebagai berikut:
-pengarang;
-judul;
-edisi [kalau ada];
-kota penerbit;
-tahun terbit;
-kolasi  [ket: jml. hlm, ilustrasi, tabel, indeks,  bibliografi, dll]; dan
-anotasi [mis, ket: karangan ini disampaikan pada  seminar,  tesis PhD pada universitas ...dll].

               Untuk itu, langkah pertama untuk menemukan/mengetahui bahan  yang  terdapat di suatu perpustakaan  ialah  dengan  meneliti melalui catalog.  
               Bagaimana memanfaatkan berbagai bahan bacaan yang ada di perpustakaan? Perlu disesuaikan dengan system pelayanan yang diterapkan, yaitu sistem terbuka (open acces) atau sistem tertutup (closed acces). Sistem terbuka (open acces) artinya pengguna (pembaca) secara bebas mencari  bahan  bacaan yang dikehendaki­nya yang ada di rak buku, kemudian  meminjamnya kepada petugas pelayanan untuk dibawa pulang (atau dibaca di tempat). Sedang pada sistem tertutup (closed acces), pembaca  tidak boleh mencari sendiri melainkan harus memberitahukan  pada petugas  yang  bersangkutan tentang  buku-buku  apa  yang diperlukan. Dengan aturan tertentu, petugas lantas mencarikan bukunya dan dipinjamkan dalam jangka waktu tertentu.

4.3.c.  Menyusun Catatan
   Ada ungkapan, setajam-tajamnya ingatan, masih lebih tajam mata pena. Ini artinya, serangkaian kegiatan memilih dan membaca bahan bacaan, perlu diikuti dengan mencatat hal-hal yang relevan dan penting.  Seberapa jauh bahan bacaan itu penting dan relevan, perlu diperhatikan  hal-hal sebagai berikut. Pertama, apakah  “informasi” ini patut saya catat untuk  keperluan  ikhtisar saya? Kedua, adakah alasan yang kuat untuk mengambil bahan ini? Dan ketiga, apa saja yang harus saya catat dalam kaitannya dengan penelitian saya?
               Jika kita menjawab “penting dan perlu”, berikutnya ialah bagaimana cara mencatatnya. Cara mencatat perlu dipertimbangkan dengan tujuan pemanfaatannya. Dalam hal ini ada tiga bentuk catatan yaitu  (1) Kartu ikhtisar, (2) Kartu kutipan, dan (3) kartu ulasan.
               Kartu Ihtisar. Mencatat ikhtisar harus teliti karena isinya harus mewakili pendapat aslinya.  Catatan  ikhtisar  harus lebih  pendek  daripada  tulisan aslinya,  dan dibuat dalam bentuk garis besarnya. Ini berarti  pencatat  harus lebih  banyak  menggunakan  pikiran daripada jika ia hanya mengutip beberapa kalimat atau  paragraf. Untuk efesiensi, setiap kartu catatan sebaiknya dibuat menurut suatu sistem tertentu. Misalnya dengan  menambahkan kode sumber yang dibaca (nomor, singkatan nama penulis buku dll. yang  dianggap  sangat perlu) di sudut  kiri-atas;  di tengah atas  ditulisi  “IKHTISAR”;  sudut  kanan-atas  ditulisi singkatan pokok persoalan.
               Kartu Kutipan. Menulis kutipan dalam Kartu Kutipan harus sama persis  dengan  aslinya. Jika  dari  bentuk aslinya dianggap salah,  bisa  diberi tanda (SIC). Sampai  seberapa panjang kita mengutip,  tergantung pada jenis bahan dan dari kebutuhan kita. Yang perlu diingat ialah  untuk  satu  kartu hendaknya  dikutip  satu  pokok pembahasan   saja.   Bila  antara  kutipan-kutipan   itu   kita  memerlukan  memberi  tambahan,  maka  tambahan  itu  harus  berada dalam kurung kurawal [     ].
               Kartu ulasan.    Kartu  ini  membuat catatan yang khusus  datang  dari  peneliti  sendiri. Isi dari catatan merupakan reaksi  terhadap   sesuatu   sumber  yang dibaca. Reaksi ini dapat bersifat  menambah atau  menjelaskan catatan bacaan, dapat  pula berupa kritik, kesimpulan, saran, komentar dan lain-lain.

   Ketiga kartu di atas, dapat dilihat pada contoh sbb:

                           (Data buku)           IKHTISAR               (Pokok)
                           (Data buku)           KUTIPAN                (Pokok)
                           (Data buku)           ULASAN                 (Pokok)             



4.3.d. Menulis Daftar Pustaka
               Secara umum, daftar pustaka memuat: (a) pengarang, (b) judul buku/majalah/artikel dsb.(c) jilid [kalau ada], (d) edisi [kalau ada-kota penerbitan, (e) tahun [letak pencatatan tahun bervariasi, yaitu di samping pengarang, di bawah pengarang, atau sesudah nama penerbit]
Ada  dua system yang berlaku dalam menyusun daftar pustaka. Sistem pertama dengan menggunakan urutan penulisan sebagai berikut:             
1. Nama pengarang
2. koma
3. judul buku [garis bawah atau cetak miring]
               4. titik
               5. tempat penerbitan
               6. koma
               7. nama penerbit
               8. koma
               9. tahun penerbitan
               10. titik.

               Contoh:
               Thohir, Mudjahirin, Orang Islam Jawa Pesisir.  Semarang, Fasindo,                      2005.                              

               Sistem  kedua disusun s ebagai berikut: Nama pengarang (nama orangtua didahulukan), pada baris dibawahnya disebutkan tahun terbit, lalu diikuti dengan judul buku (umumnya ditulis miring), titik, Kota penerbit, titik dua, dan nama penerbit, sebagaimana contoh berikut:

               Thohir, Mudjahirin
               2004     Talbiyah di Atas Ka’bah. Yogyakarta: Logung.
               2005     Kekerasan Sosial Masyarakat Jawa Pesisir. Semarang:                                       Lengkong Cilik.

               Cara menulis Daftar Pustaka untuk majalah ialah sebagai berikut:
-nama penulis
-judul tulisan
-judul majalah,
-kota penerbit (bila dianggap perlu, karena majalah tersebut  kurang dikenal),
-jilid,
-nomer,
-bulan,
-tahun, nomer halaman karangan yang dijadikan referensi

Contoh:
Firdaus, Akhol
2006        “Teks Kartini, Teks Lyan” Srinthil. Depok, 9, hlm: 75-84.


4.5. Kerangka Teori
               Pada dasarnya, suatu teori ialah serangkaian penjelasan yang logis dan sistematisedalam bentuk  proposisi atau pernyataan yang tersusun secara  sintaksis terhadap  seperangkat fakta-fakta atau hukum-hukum  (Babbie, 1984: 47). Dalam bentuknya yang paling sederhana, suatu teori merupakan hubungan-hubungan antara dua variabel atau lebih yang telah diuji kebenarannya. Hubungan-hubungan variabel tadi bisa berupa seperangkat gagasan (konsep), definisi-definisi dan proposisi-proposisi yang berhubungan satu sama lain sehingga menghadirkan arah penjelasan pengertian untuk memprediksi sesuatu fenomena yang akan dipelajari (lihat pula Kerlinger, 1973: 9) sebagaimana  teori tentang Etika Protestan dalam  hubungannya dengan     semangat kapitalisme”.
               Dalam sejarahnya, teori  tentang Etika Protestan dimaksud,  lahir atau bertolak dari temuan-temuan lapangan di kalangan masyarakat Jerman. Weber menemukan fakta-fakta bahwa orang-orang yang mengikuti ajaran Calvinis (salah satu dari ajaran Protestan) dianggap lebih berhasil hidupnya dibanding dengan orang-orang yang mengikuti agama Katholik. Keberhasilan para pengikut ajaran Calvinis tadi lantas dicari dasar-dasar argumentasinya. Dari data yang dikumpulkan, Weber lantas berkesimpulan bahwa ada hubungan yang signifikan antara isi ajaran Calvinis dengan keberhasilan hidup. Kesimpulan demikian itu lantas diformulasi ke dalam satuan-satuan kalimat logis dan sistematis yaitu menjadi sebuah teori. Teori tentang Etika Protestan, sebagai berikut:
                 “Menurut ajaran Calvin (salah satu sekte Protestan), takdir dan nasib manusia merupakan kunci utama dalam hal menentukan sikap hidupp dari para pengikutnya. Takdir telah ditentukan. Keselamatan diberikan Tuhan kepada orang yang  terpilih. Jadi manusia sesungguhnya berada dalam ketidakpastian yang abadi. Apakah ia terpilih? Tidak ada kepastian. Tetapi adalah kewajibannya untuk beranggapan bahwa ia adalah yang terpilih dan (berusaha) untuk memerangi segala keraguan dan godaan setan, sebab ketiadaan kepercayaan (berarti) kurangnya rahmat. Dan tentu, kurangnya rahmat pertanda dari yang terpilih untuk mendapatkan keselamatan. Untuk memupuk kepercayaan diri itu, maka manusia haruslah bekerja keras sebab “hanya kerja keras saja satu-satunya yang bisa menghilangkan keraguan religius & memberikan kapastian akan rahmat.
     Kerja tidaklah sekedar pemenuhan keperluan, tetapi suatu tugas yang suci (panggilan). Pensucian kerja berarti mengingkari sikap hidup keagamaan yang melarikan diri dari dunia.
     Terjalinnya etika Protestan dengan “semangat kapitalisme” dimungkinkan oleh proses “rasionalisasi dunia”, penghapusan usaha magis — yaitu memanipulasi kekuatan supra natural — sebagai alat untuk mendapat keselamatan.

               Teori bisa lahir dari lapangan, tetapi juga lewat teori yang telah diformulasi oleh para teoritikawan, kita bisa memanfaatkan untuk mendasari penelitian lapangan. Ini artinya, terdapat tiga level teori, yaitu macro atau grand theory, meso theory, dan micro atau teori lapangan. Yang pertama, memiliki sifat umum (general) dan abstrak seperti umumnya teori-teori dalam ilmu-ilmu social seperti teori strktural fungsioanl dan teori konflik, yang kedua yaitu teori mezzo (sedang) relative lebih terfokus pada suatu bidang seperti umumnya teori urbanisasi. Sementara field theory merupakan formulasi temuan-temuan lapangan penelitian sebagaimana yang sering dilakukan oleh peneliti kualitatif.  

Peringkat Teori
Peringkat
Ciri
Contoh
Macro
Menggunakan konsep-konsep yang abstrak
Teori-teori tentang system-sistem budaya
Meso
Menghubungkan mata rantai konsep-konsep abstrak (macro) dengan konsep-konsep yang lebih operasional (micro). Teori meso beroperasi pada peringkat sedang (intermediate).
Teori-teori tentang organisasi, gerakan social, komunitas, dsb.
Micro
Menyatakan hubungan-hubungan yang terkait dengan persoalan waktu, ruang, atau jumlah penduduk. Konsep-konsep yang digunakan, tidak begitu abstrak.
Teori tentang “face work” Erving Goffman, termasuk teori-teori yang diperoleh dari lapangan.

               Pengetahuan teoritis umumnya diperoleh dari ketekunan kita membaca banyak bahan-bahan bacaan. Lewat studi kepustakaan secara intensif itulah, memungkinkan kita memahami dan memanfaatkannya sebagai landasan untuk memahami dan meramalkan gambaran simpulan yang akan ditemukan dalam penelitian.
               Dengan pemahaman teoritis yang baik, akan memudahkan kita menyusun hipotesis. Dan bersama hipotesis, teori akan membimbing peneliti mencari jawaban-jawaban, serta membantu meramalkan kemungkinan temuan atau kemungkinan jawaban terhadap persoalan yang dipelajari.
               Oleh karena itu, dalam suatu penelitian atau  penyusunan  rancangan  maupun laporan penelitian,  bisa  saja menggunakan  beberapa teori sepanjang  teori-teori  yang digunakan  saling  melengkapi, bukan  sebaliknya,  yaitu teori-teori yang dipakai malah saling bertabrakan. Namun demikian, suatu penelitian perlu memakai  teori atau tidak, tergantung dari jenis atau tipe  penelitianya.  Penelitian yang bersifat menjelajah  (exploratory) tidak  harus memakai teori karena  pengetahuan  terhadap objek masih sangat asing dan teori-teorinya belum  tentu ada. Begitu pula dalam penelitian tipe deskriptif. Teori menjadi sangat penting ketika tipe penelitian yang  akan dilakukan ialah jenis penelitian yang bersifat menerangkan  (explanatory).
               Suatu penggunaan teori dikategorikan baik atau tidak, sangat erat hubungannya dengan masalah yang dikaji. Untuk itu,  perlu lebih dahulu ditanyakan: Apakah  teori yang dipakai sebagai landasan berbijak mampu  menjelaskan  fenomena-fenomena yang penting dalam bidang kajian yang diteliti.

4.6. Hipotesis
               Secara sederhana, hipotesis bisa diartikan sebagai kesimpulan sementara (tentative)  tentang hubungan dua variabel atau lebih. Hubungan dua variable atau lebih itu bisa  berupa rumusan yang menyatakan harapan adanya hubungan  tertentu antara dua fakta atau lebih.
               Hipotesis bisa disusun bertolak pada pengalaman, pengamatan, dan dugaan atau dari hasil  penelitian-penelitian  yang   dilakukan sebelumnya, maupun dari teori-teori yang sudah terbentuk. Penyusunan hipotesis, diharapkan bisa memberikan arah tujuan yang tegas bagi penelitian yaitu berupa arah pemilihan informasi atau fakta-fakta yang relevan yang perlu dikumpulkan. Dengan kata lain,  bisa menghindarkan dari pengumpulan data yang tak ada hubungannya dengan masalah penelitian.
               Dilihat dari sifat dan tujuannya, hipotesis dapat dibedakan ke dalam hipotesis kerja, dan hipotesis penguji. Hipotesis kerja merupakan hipotesis yang paling umum digunakan dalam penelitian kualitatif. Mengapa? Karena fungsi dari hipotesis kerja ialah tidak untuk menguji atau diuji melainkan lebih sebagai arah mengfokuskan pengumpulan data dalam kaitannya dengan focus kajian. Karena berfungsi sebagai pemberi arah, maka hipotesis kerja bisa diubah-ubah sesuai dengan perkembangan temuan di lapangan. Hal inilah yang membedakan dengan hipotesis uji. Pada hipotesis uji, sifat dan rumusannya tetap, sehingga keseluruhan data yang dikumpulkan difungsikan untuk membuktikan benar-tidaknya hipotesis dimaksud. Hipotesis uji merupakan hipotesis yang secara umum digunakan dalam penelitian kuantitatif seperti dalam penelitian survey.

4.7. Tujuan dan Manfaat Penelitian
               Tujuan  penelitian  sangat  penting  untuk   dikemukakan karena, baik kerangka teori maupun metode yang digunakan harus  memiliki  kesesuaian  terhadap  apa  tujuan  dari penelitian yang akan dilakukan. Sedang manfaat penelitian ialah kata lain dari kegunaan atas hasil penelitian dimaksud. Karena itu, dalam formula tujuan penelitian biasanya dimulai dengan prefiks: “me-”, sedang dalam manfaat penelitian dimulai dengan formula prefiks: “di-”.
               Keduanya, yakni tujuan dan manfaat penelitian disajikan pada setiap penyusunan proposal penelitian. Contoh dari penyusunan “Tujuan Penelitian” dengan topik kajian/penelitian Kekerasan social, misalnya: memahami akar kekerasan yang umum dilakukan oleh kelompok keagamaan. Karena  tujuan penelitian disusun dalam formula seperti itu, maka penyusunan formula untuk manfaat penelitian ialah: “Dengan diketahuinya akar-akar kekerasan, maka akan diperoleh manfaat bagaimana mengantisipasi munculnya kekerasan dimaksud”.
               Jadi penyusunan tujuan dan manfaat penelitian harus dikaitkan dengan masalah penelitian yang akan dicari jawabannya. Bukan tujuan penelitian untuk menyusun skripsi, tesis, atau disertasi. Menyusun skripsi, tesis, atau disertasi adalah yang melatarbelakangi mengapa kita harus melakukan penelitian dan bukan sebagai tujuan penelitian itu sendiri.


4.8. Metodologi Penelitian


               Setelah masalah dirumuskan, kerangka teoritik diajukan sebagai landasan pemahaman, dan atas dua hal tadi (masalah dan kerangka teori) beriktunya diajukan tujuan dan manfaat dari penelitian, maka berikutnya diikuti dengan metodologi. Metodologi berbicara mengenai bagaimana menjabarkan keseluruhannya itu (masalah penelitian, kerangka teoritik, tujuan dan manfaat penelitian) ke dalam kegiatan pengumpulan data, analisis, dan penyusunan laporan.
               Pengumpulan data meliputi informasi (data) apa saja yang akan dikumpulkan, dari siapa saja informasi itu akan dipeoleh, dan dengan cara yang bagaimana memperoleh informasi yang dibutuhkannya itu. Setelah data atau informasi bisa dikumpulkan, lantas bagaimana membaca atau menafsirkannya. Inilah esensi dari ruanglingkup metodologi penelitian. Sedang capaian (out put) yang ingin diperoleh dari serangkaian kegiatan yang metodis tadi ialah ditemukannya kebenaran. Atas dasar capaian kebenaran itu pula maka metodologi memiliki tiga level pemaknaan. Level pertama, adalah level epistemologis. Metodologi pada level epistemologis, berbicara mengenai  bagaimana kita memahami menemukan kebenaran menurut prinsip-prinsip filosofi keilmuan? Apakah menurut prinsip kaum rasionalis, empiris, positivis, humanis atau kaum interpretativis. Kaum rasionalis misalnya, mereka mempunyai pandangan bahwa manusia bisa memperoleh pengetahuan karena kemampuan nalar yang dimilikinya. Lihatlah prinsip-prinsip berfikir yang diajarkan oleh Plato sampai pada Leibnitz.  Level kedua, metode sama artinya dengan strategi memilih cara untuk mengetahui sesuatu. Misalnya dengan melakukan pengamatan lapangan, melakukan studi kepustakaan atau melakukan uji coba. Pada level ketiga, metode memiliki arti yang lebih sempit, misalnya dalam hal berwawancara, maka pilihan pada melakukan wawancara tatap muka atau memakai tilpon, memakai penerjemah atau belajar sendiri mengenai bahasa lokal untuk kepentingan wawancara. Jenis pilihan itu yang disebut dengan metode.
               Dari serangkaian pembicaraan di atas, maka dapatlah diringkaskan bahwa penelitian dilakukan karena kebutuhan untuk memperoleh informasi yang benar dan terpercaya. Untuk itu, dilakukan berbagai tahapan yaitu: merumuskan masalahnya, Masalah sebagai subjek kajian perlu dipelajari untuk tujuan apa dan apa pula manfaat yang bisa diperolehnya. Untuk bisa memahami secara jelas bagaimana masalah itu dilihat berdasarkan pemikiran keilmuan, dibutuhkan acuan teoritik. Dari rumusan masalah penelitian, tujuan dan manfaat yang akan diperoleh, serta landasan teoritik  yang digunakan, untuk selanjutnya dilakukan kegiatan mengumpulkan informasi secara sistematik, dan menafsirkan hasilnya. Itulah kegiatan metodologis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...