09 Desember 2014

Pahit-Manis yang Kamu Hadapi Ketika Sedang Berjuang dengan Skripsi

Oleh :  Pinka Wima
 
Masuk kuliah itu susah, tapi lulusnya lebih susah lagi. Alasannya? Apalagi kalau bukan skripsi. Banyak mahasiswa yang kelulusannya mesti tertunda karena tak kunjung menyelesaikan tanggungan satu ini. Nggak jarang, ada juga yang akhirnya menyerah lalu drop-out alias DO. Duh, sebenarnya semenyeramkan apa sih skripsi itu?

Kalau kamu adalah mahasiswa yang masih belum mencicip pahit-manisnya skripsi, artikel ini mungkin bisa sedikit memberitahumu. Sementara kalau kamu sedang skripsi? Semangaaaat! Kisah hidupmu mungkin tertulis di bawah ini!

1. Skripsi adalah arena pertarungan di mana kapasitas intelektual DAN kecerdasan emosionalmu diuji

Gampang?

Skripsi adalah kenyataan yang harus kamu terima via maharanigoestobangkok.blogspot.com

Sebenarnya skripsi tidaklah menyeramkan. Skripsi hanya salah satu kenyataan yang harus diterima mahasiswa. Cuma memang, kemampuan para mahasiswa untuk menerima kenyataan ini tidaklah sama.

Beberapa mahasiswa menolak menerima kenyataan dengan segera. Mereka memilih bersantai, malas-malasan di kamar kost atau mencari kesibukan baru yang gak ada hubungannya sama skripsi. Nah, karena itu skripsi sebenarnya gak cuma menuntut kapasitas intelektual yang tinggi (ceile). Dibutuhkan juga kecerdasan emosional yang mumpuni. Kamu akan disambut dengan roller coaster emosi yang hanya bisa dihadapi dengan motivasi tinggi dan kepercayaan diri. Sudahkah kamu memiliki kedua hal ini?

2. Mengerjakan skripsi membutuhkan fokus tak terbagi, sementara kamu akan bertemu banyak distraksi

gak mood

                                 Distraksi datang menghadang via pixgood.com

Sebagai mahasiswa tingkat akhir, kamu memang sudah tak diwajibkan untuk memasuki banyak kelas lagi. Bahkan mungkin tanggung jawab akademikmu tinggallah skripsi. Justru ini tantangannya: bisakah kamu fokus mengerjakan SATU HAL sementara di sisi lain kamu punya begitu banyak waktu luang?

Kalau kamu termasuk mahasiswa yang mudah fokus, beruntunglah kamu. Waktu luang ini bisa kamu manfaatkan sepenuhnya untuk skripsi. Cukup setengah atau satu semester, insya Allah skripsimu jadi! Tapi kalau kamu susah fokus? Waaah… bisa-bisa kamu bakal mainan Facebook, Twitter, Youtube. Belom lagi kumpulan film baru dan serial TV yang ada di hardisk dan menunggu untuk ditonton. Makanya, skripsi itu bisa dibilang ujian iman. Apakah imanmu cukup kuat agar tak tergoda oleh distraksi?

3. Supaya bisa lebih fokus, nggak jarang kamu akan mengurung diri di kamar dan banyak menghabiskan waktu sendirian

manusia gua

                                Merawat diri jadi lebih susah via www.wallpaperup.com
“Pin, besok sore ada reuni SMA sekalian buka puasa bareng. Lo ikut?”
“Sori nggak bisa nih, mau ngelarin Bab II dulu.”
“Pin, weekend ini ikut anak-anak ke Semarang ya!”
“Waaa pengeeen… tapi weekend ini aku harus ngetik transkrip wawancara buat skripsi T__T”
“Pin, makan malem aja deh yuk. ”
“Aku tadi udah delivery sih, soalnya harus ngerjain revisi malem ini.”
“AH ELAH! Ya udah, mandi dulu sana! Bau lo udah kayak manusia gua!”

5. Tapi ada juga yang lebih memilih mengerjakan di luar, bareng-bareng teman

Mahasiswa tua sangat bersemangat mengerjakan skripsi
Mahasiswa tua sangat bersemangat mengerjakan skripsi via yudibastian.blogspot.com
Mahasiswa tua /
Mengerjakan skripsi bersama /
Walau lulusnya beda-beda /
Ada juga dari kamu yang gak tahan sendirian di kamar dan lebih memilih meng-skripsi di luar bersama teman-teman. Sebenarnya ada banyak manfaat yang kamu dapat dari mengerjakan skripsi bareng. Kalian bisa saling mengomentari kasus masing-masing, memberi pencerahan dan ide mau dibawa kemana pembahasan skripsi temanmu, hingga membaca draf skripsi temanmu dan memperbaiki typo.

Tapi kamu harus tetap ingat, di akhir hari skripsi adalah kesunyian masing-masing. Maksudnya, yang mengerti skripsimu dan seberapa sulit tantangan yang kamu hadapi ya cuma kamu sendiri. Teman-temanmu hanya bisa membantu menyemangati. Kunci berhasil-tidaknya kamu skripsi tetap ada di tanganmu sendiri.

6. Tantangan mengerjakan skripsi memang tak pernah pasti. Misalnya, dosen pembimbing yang perfeksionis atau sulit ditemui.

hilang sudah moodmu buat ngerjain

                                 “Saya nggak suka kerjaan kamu.” via www.tumblr.com

Tak semua mahasiswa cukup beruntung punya dosen pembimbing yang bisa ditemui setiap saat. Mungkin saja beliau sangat sibuk sehingga hanya ada di kampus satu hari dalam seminggu. Bisa juga dia perfeksionis, dan terus menyuruhmu merevisi draf sampai menurutnya pekerjaanmu sempurna.
Bapak, Ibu, saya ini baru S-1~
Sebaliknya, kamu bisa juga yakin banget sama hasil kerjamu dan ingin buru-buru memperlihatkannya ke beliau. Sayangnya, tanggapan beliau belum tentu sesuai dengan harapan.

Kamu sebelum bimbingan:

tumblr_ma2rxxMkfK1r5pl3ao1_r1_500

Kamu setelah bimbingan:
giphy+(2)


7. Topik skripsi yang kamu garap juga bisa lebih sulit dari yang kamu kira

Ini kamu lagi berpikir keras

                                          berpikir keras via joserizal-ilham.blogspot.com

Kata kakak kelas, cari topik skripsi yang mudah-mudah saja. Tak perlu ngotot menghasilkan sesuatu yang tinggi, karena kamu masih ada di tingkat sarjana.
Karena itu kamu sengaja memilih topik skripsi yang punya banyak data, sudah jelas arahnya seperti apa, dan hipotesisnya pun logis. Sayang beribu sayang, belum tentu ini jaminan skripsimu gampang! Bisa jadi kamu disarankan dipaksa dosen untuk ganti teori, membongkar studi kasus, atau bahkan mengubah arah pertanyaan. Hatimu pun otomatis bergumam…
“Oh Tuhan, kenapa aku kemarin milih topik ini?”

8. Data yang tadinya kamu pikir akan mudah didapatkan juga bisa saja… well… gak tersedia.

Kamu mungkin baru sadar betapa sulit topik ini di tengah jalan
                                Malang melintang mencari data via dailyemerald.com
“Maaf, kami tidak bisa memberikan data yang Anda minta karena beberapa pertimbangan.”
Mungkin kamu pernah mendapat jawaban seperti itu dari narasumber yang kamu incar. Padahal kalau nggak ada data, kamu mau mengolah apa? Setengah panik dan setengah tertekan karena dikejar deadline, kamu pun dipaksa memutar otak dan berburu narasumber atau perusahaan yang lain. Kalau data tetap tak didapat, kamu benar-benar bergantung pada belas kasihan dosen pembimbing atau mukjizat Tuhan supaya skripsimu bisa selesai.

9. Hingga ada suatu masa di mana pertanyaan “Skripsinya udah sampai mana?” membuatmu lelah

Lebih baik pura-pura mati daripada ditanyai
Lebih baik pura-pura mati daripada ditanyai via digali.blogspot.com
Ketemu teman seangkatan di kampus:
"Gimana, udah sampai bab berapa?"
Ditanya Ayah di telepon:"Kapan rencana ketemu dosen pembimbing lagi?"
Di-Whatsapp teman lama: "Woy… bulan apa lo wisuda?"

HAHHH… AKU LELAH, LELAH MENGHADAPI SEMUA INI!

10. Sementara teman-temanmu mulai diwisuda satu per satu…

kamu kapan?
                                   kamu kapan? via ray-march-syahadat.blogspot.com

Ditinggal teman wisuda tidak kalah nyeseknya dibandingkan ditinggal mantan menikah. Kamu berusaha berbesar hati dengan mengucapkan selamat pada mereka. Toh juga kamu bahagia melihat mereka senyuman riang mereka. Di sisi lain, kamu mulai diusik satu pertanyaan nakal: kamu kapan?

12. Semakin lama, semakin kamu ragu. “Bisakah aku melewati semua ini?”

Aku galau, Ibu...
                                               Aku galau… via meefro683.deviantart.com

Semakin lama waktu yang kamu butuhkan untuk menyelesaikan skripsi, semakin rentan kamu galau pada kemampuan diri sendiri. Kamu sudah lelah secara mental, tidak yakin pula pada masa depan.
“Apakah aku bisa sarjana?”
“Aku bakal lulus nggak ya?”
“Gimana kalau ternyata aku DO?”

14. Tapi ingat, kamu sudah sejauh ini. Jangan menghukum dirimu sendiri dengan menyerah lalu berhenti.

Skripsi pasti berakhir
                                      Skripsi pasti berakhir via www.cangcut.net

Ketika kamu merasa lelah, muak, dan tak yakin pada diri sendiri,
Ketika kamu capek mengetik ribuan kata dan revisi,
Ingat, kamu tak sendirian. Penderitaanmu sudah pernah dirasakan semua mahasiswa di Indonesia yang wajib mengerjakan skripsi. Jika mereka berhasil melewatinya, kamu pun juga. Tidak ada alasan untuk berpikir bahwa kamu tidak mampu.
Mungkin sekarang kamu terseok-seok dan pengerjaan skripsimu mentok. Tapi badai ini pasti berakhir. Pasti. Janji.

15. Jangan putus asa, selama kamu memiliki mereka

Mereka yang tulus mendoakanmu
                               Mereka yang tulus mendoakanmu via rahmativation.blogspot.com

Jadi ketika kamu merasa tak semangat, ketika jari-jarimu malas digerakkan dan distraksi terlalu menggiurkan untuk dibiarkan, ingatlah wajah mereka di otakmu dan bayangkan kerja keras mereka untuk membiayai kuliahmu selama ini.

Jangan pernah bilang kamu tak punya motivasi. Bukankah ayah dan ibumu adalah alasan yang sangat kuat untukmu menyelesaikan skripsi? Dan jangan pernah merasa sendiri. Walau tak kamu dengar langsung, doa mereka selalu mengiringi.

16. Karena percayalah… toga wisuda itu sudah tak sabar menunggumu :’)

Toga wisuda itu sudah siap menunggumu

                                Toga wisuda itu sudah siap menunggumu via roscopictura.com

Toga sudah menunggumu. Pahit-manis perjuangannmu mengerjakan skripsi hari ini akan mengajarkanmu makna fokus, ketekunan, dan kesungguhan di masa depan nanti. Segala kerja kerasmu akan terbayarkan ketika melihat senyum orang tua, keluarga, dan teman-teman yang menyayangimu di hari wisuda.

KAMU BISA!

Bagi kamu yang sudah selesai mengerjakan skripsi, selamat, semoga pengalaman itu menempamu menjadi manusia yang lebih baik lagi. Sementara bagimu yang belum: semangat! Nggak usah takut. Skripsi hanyalah kenyataan, bukan momok yang menyeramkan! 


 

25 November 2014

Penelitian Tugas Akhir Itu Mudah

Oleh : Romi Satria Wahono


Puyeng dengan skripsi atau tugas akhir / Skripsi? Jangan kuatir, semua orang memang pernah mengalaminya. Nikmati dan warnai kehidupan akhir kampus dengan membuat tugas akhir / Skripsi yang bagus dan berkualitas. Sayang empat tahun proses pembelajaran kita (Mahasiswa Mahasiswi) kalau diakhiri dengan tugas akhir / Skripsi berkualitas rendah atau bahkan mengotorinya dengan membajak skripsi orang lain. Tugas akhir itu secara umum seharusnya berupa penelitian, meskipun beberapa jurusan ada yang mensyaratkan cukup dengan desain produk. Seri artikel ini sifatnya wajib dibaca  bagi mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir

Hakekat penelitian bagaimanapun juga adalah untuk "memecahkan masalah yang dihadapi". Penelitian adalah terjemahan dari bahasa Inggris "research" yang secara bahasa mengandung makna: re (kembali) dan to search (mencari). T. Hillway merangkumkan definisi penelitian adalah "studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut".

Sebelum melangkah lebih jauh, kita diskusi dulu tentang jenis penelitian. Intinya jenis penelitian bisa dilihat dari beberapa sudut pandang.
  1. Tingkat Penerapan (Penelitian Dasar, Penelitian Terapan)
  2. Jenis Informasi Yang Diolah (Penelitian Kuantitatif, Penelitian Kualitatif)
  3. Perlakuan Terhadap Data (Penelitian Konfirmatori, Penelitian Eksploratori)
  4. Tujuan (Penelitian Deskripsi, Penelitian Korelasi, Penelitian Eksperimen)


Kalau kita gambarkan hubungan dan himpitan antara jenis penelitian, bentuk mudahnya akan seperti dibawah (ditulis ulang dari Ronny Kountur, 2007) . Secara umum, setiap penelitian memberi efek kecenderungan ke jenis dibawahnya. Contoh, penelitan deskripsi itu biasanya kualitatif dan sifatnya eksplanatori. Sebaliknya penelitian eksperimen dan korelasi biasanya pengolahan datanya kuantitatif, dan sifatnya konfirmatori.


Untuk jurusan computing (teknik informatika, sistem informasi, ilmu komputer) biasanya berupa penelitian terapan (bukan penelitian dasar) yang sifat pengolahan datanya kuantitatif. Penelitian lebih banyak ke arah konfirmatori (bukan eksploratori) yaitu dengan melakukan pengujian terhadap hipotesis atau kerangka konsep yang sudah ditentukan. Dan tujuan penelitian biasanya untuk melihat korelasi antar variabel yang diteliti atau melakukan suatu eksperimen.
Tahapan penelitian sebenarnya hanya ada empat:
1. Identifikasi (Penemuan) Masalah
2. Perumusan Hipotesis
3. Pengujian Hipotesis dan Analisis
4. Kesimpulan
Kalau kita konversikan ke dalam struktur susunan tugas akhir mungkin tahapan penelitian itu akan terbagi seperti tabel di bawah:


Perlu diingat, tugas akhir di beberapa bidang ilmu bisa tidak berbentuk penelitian, tapi hanya berupa desain produk. Contoh desain produk misalnya:
  1. Desain Bangunan atau Mesin
  2. Desain Sistem
  3. Pengembangan Sistem Tanpa Didahului Identifikasi Masalah
  4. Perencanaan Strategis Bisnis


Jadi implikasi dari hal diatas, beberapa kegiatan di bawah bukan termasuk penelitian.
  • Mengembangkan situs portal
  • Mengembangkan situs web pribadi
  • Mengembangkan sistem informasi
  • Mengembangkan multimedia pembelajaran
Untuk yang lagi bikin skripsi tentang pengembangan sistem informasi atau multimedia pembelajaran, jangan keburu stress dulu . Desain produk bisa menjadi penelitian ketika produk dibuat karena adanya "suatu masalah atau kebutuhan riil". Tapi jangan lupa, produk tersebut juga harus diuji dengan beberapa parameter, dan kemudian dianalisa seberapa jauh terbukti bisa memecahkan masalah yang disetting di awal.
Nah contoh pengembangan situs portal yang termasuk penelitian misalnya dibawah:
  • Judul: Mengembangkan Situs Portal Traffic Tinggi dengan Teknik Search Engine Optimization (SEO)
  • Identifikasi Masalah: Situs portal sepi pengunjung
  • Perumusan Hipotesis: Teknik SEO dapat meningkatkan traffic situs
  • Buat Model atau Kerangka Konsep: Lakukan studi literatur tentang SEO dan rumuskan model serta teknik SEO yang tepat untuk situs portal yang sedang dibangun
  • Pengujian Hipotesis: Terapkan model SEO yang sudah dibuat. Uji parameter dalam model SEO
  • Analisa Hasil Pengujian: Terbukti bahwa model SEO kita kembangkan dapat meningkatkan traffic situs portal
Pengembangan multimedia pembelajaran yang berbasis penelitian, misalnya:

Judul: Multimedia pembelajaran Berbasis "Real Constructivisme" untuk Mata Kuliah Bahasa Formal dan Automata
  • Identifikasi Masalah: Mata Kuliah Bahasa Formal dan Automata sulit dipahamkan ke siswa dengan sistem kuliah konvensional, harus ditempuh teknik baru untuk memahamkan ke siswa
  • Perumusan Hipotesis: Multimedia pembelajaran harus dibuat berdasarkan teoi "real constructivisme" untuk mempermudah pemahaman siswa
  • Buat Model atau Kerangka Konsep: Lakukan studi literatur tentang "real construtivisme" dan rumuskan model khusus untuk multimedia pembelajaran tersebut
  • Pengujian Hipotesis: Terapkan dengan penelitian tindakan kelas (action research)
  • Analisa Hasil Pengujian: Terbukti multimedia berbasis "real constructivisme" dapat meningkatkan pemahaman siswa
Perlu dicatat bahwa penelitian itu berawal di masalah dan berakhir di pemecahan masalah. Kualitas penelitian ditentukan oleh kualitas "masalah" yang diteliti, bukan karena ketinggian teknologi yang digunakan. Reviewer jurnal internasional menjadikan "masalah penelitian" sebagai parameter utama proses review. Usahakan memilih "masalah penelitian" yang orisinil kita temukan. Meneliti masalah yang sudah diteliti orang lain membuat kita harus melakukan komparasi dengan approach orang lain tersebut

Ok sudah mulai paham? Sekarang gimana sih sebenarnya cara menemukan atau mengidentifikasi masalah itu?


Masalah bisa kita temukan lewat studi literatur, baik dari paper-paper di jurnal ilmiah atau proceedings conference. Untuk level D3 dan S1, bisa juga identifikasi masalah ini dari artikel di buku text book, majalah ilmiah, proceedings seminar atau surat kabar. Cara menemukan masalah yang kedua dan sebenarnya cara terbaik adalah lewat pengamatan lapangan. Nggak usah terlalu rumit-rumit, cukup fokuskan ke masalah yang ada di sekitar kita. Kalau kita mahasiswa mahasiswi ya sekarang perhatikan, mahasiswa mahasiswi , dosen atau kampus itu punya masalah apa yang belum dipecahkan dan kira-kira bisa dipecahkan dengan teknologi informasi. Ini kalau kita di jurusan computing, lain jurusan masalahnya bisa lain lagi. Pengamatan lapangan ini bisa juga dilakukan dengan menghadiri pameran industri, bedah buku, dsb. Intinya kejar masalah penelitian ini dari manapun, dan jangan lupa bahwa masalah penelitian ini benar-benar menjadi masalah yang harus dipecahkan, bukan masalah yang kita ada-adakan.


Oh ya, masalah yang kita bidik bisa datang dari 3 hal:

  1. Masalah yang ada di manusianya sendiri (People and Problem)
  2. Masalah di cara dan struktur kerja (Program)
  3. Fenomena yang terjadi (Phenomenon)
Ok sudah semakin paham? Terus gimana kita bisa menentukan mana referensi untuk penelitian yang shahih?

Khususnya untuk tinjauan pustaka (studi literatur) pada saat menyusun hipotesis dan kerangka konsep atau model, usahakan untuk menggunakan jurnal ilmiah (internasional). Urutan dari yang terbaik untuk bidang computing adalah:

    • Jurnal ilmiah yang diterbitkan IEEE dan ACM
    • Jurnal ilmiah yang diterbitkan asosiasi ilmiah Lain. Biasanya bisa didapatkan dari elsevier.Com
    • EBSCOhost.Com atau sciencedirect.com
    • Proceedings Conference (utamakan yang diterbitkan oleh IEEE Computer dan ACM)
Apabila kita punya rencana untuk bermain di level internasional, usahakan tidak menggunakan jurnal ilmiah Indonesia, meskipun sudah diakreditasi oleh Dikti.

Nggak ada uang untuk langganan jurnal ilmiah? Atau di kampus juga tidak tersedia jurnal online? Nggak perlu khawatir, bisa gunakan salah satu dari banyak jurnal ilmiah gratis. Paling tidak yang wajib dikunjungi oleh mahasiswa miskin tapi punya semangat penelitian seperti profesor  adalah:



Masih belum nyantol juga? Lebih paham kalau saya ceritakan dengan satu contoh tugas akhir? Ikuti seri tulisan ini berikutnya 

REFERENSI

    • Ronny Kountur, Metode Penelitan, Penerbit PPM, 2007.
    • Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kencana Prenada Media Group, 2005.
    • Moh. Nazir, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Agustus 2003.
    • Sulistyo-Basuki, Metode Penelitian, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, April 2006.

TEKNIK IDENTIFIKASI MASALAH DALAM PENELITIAN

 Oleh : Romi Satria Wahono
Identifikasi masalah adalah salah satu proses penelitan yang boleh dikatakan paling penting diantara proses lain. Masalah penelitian akan menentukan kualitas dari penelitian, bahkan juga menentukan apakah sebuah kegiatan bisa disebut penelitian atau tidak. Masalah penelitian secara umum bisa kita temukan lewat studi literatur atau lewat pengamatan lapangan (observasi, survey, dsb). Skripsi untuk level S1 seharusnya didesain untuk memecahkan masalah yang lebih riil dan sifatnya applied. Mahasiswa cukup fokus ke masalah yang ada di sekitarnya. Kalau jurusan kita di computing, kita lakukan saja observasi di lingkungan kita. Misalnya universitas, dosen, dan mahasiswa itu punya masalah apa yang kira-kira bisa kita pecahkan dengan teknologi informasi dan aplikasinya. Intinya kita harus kejar terus masalah penelitian ini, dan jangan lupa bahwa masalah yang kita identifikasi tersebut benar-benar menjadi masalah yang harus dipecahkan, bukan masalah yang kita ada-adakan. Masih agak bingung? Ok saya coba jelaskan secara detail dan pelan-pelan bagaimana proses identifikasi masalah ini.

Masalah penelitian bisa didefinisikan sebagai pernyataan yang mempermasalahkan suatu variabel atau hubungan antara variabel pada suatu fenomena. Sedangkan variabel itu sendiri dapat didefinisikan sebagai pembeda antara sesuatu dengan yang lain. Ketika kita mengambil topik penelitian untuk membedakan raut muka mahasiswa yang lagi bokek dan mahasiswa yang lagi banyak uang, kita punya variabel "raut muka” dan variabel "keadaan keuangan”. Nah kita ingin tahu hubungan dua variabel ini, jadilah itu sebuah masalah penelitian ;)

Lha terus sumber masalahnya dari mana datangnya? Sumber masalah penelitian bisa muncul dari tiga hal (Ranjit Kumar, 1996):


  1. Masalah Yang Ada di Manusianya Sendiri (People and Problem)
    Kita harus hati-hati supaya tidak terjebak ke masalah di sekitar manusia yang bukan penelitian. Tapi juga jangan "saklek”, karena masalah manusia yang tadinya bukan masalah penelitian bisa kita "goyang sedikit" menjadi masalah penelitian. Contoh, mahasiswa punya masalah pokok yaitu "kekurangan uang". Ini bisa kita "konversi" menjadi masalah penelitian misalnya menjadi :
    • Mendeteksi raut muka mahasiswa bokek dengan face recognition system
    • Model bisnis di Internet dengan modal kecil untuk mahasiswa

  2. Masalah di Cara, Teknik dan Struktur Kerja (Program)
    Teknik dan struktur kerja yang bermasalah tentu juga bisa menjadi masalah penelitian. Contoh, dosen-dosen saking sibuknya ternyata kesulitan menemukan satu waktu yang pas untuk meeting bulanan di universitas. Nah ini jadi masalah penelitian, approachnya nanti kita bisa kembangkan satu aplikasi scheduling dengan sedikit sistem pakar didalamnya yang secara otomatis memberikan beberapa alternatif waktu meeting yang pas untuk semua. Masalah lain misalnya, sistem informasi manajemen di universitas kita ada masalah. Nggak bisa online bekerjanya dan nggak sesuai dengan business process sebenarnya yang dilakukan oleh para staff dalam mengelola administrasi sekolah. Nah software dan sistem ini kita perbaiki supaya sesuai dengan yang dibutuhkan. Sistem parkir di Mal yang tidak bisa mendeteksi mana area parkir yang kosong, bisa jadi masalah penelitian yang menarik juga.

  3. Fenomena yang Terjadi (Phenomenon)
    Fenomena yang ada di sekitar kita juga bisa menjadi masalah penelitian yang menarik. Contoh, fenomena bahwa situs portal yang dikembangkan di perusahaan-perusahaan ternyata sepi pengunjung. Nah ini adalah sebuah fenomena, untuk meningkatkan traffic, misalnya bisa dengan memainkan bebrapa teknik supaya search engine mau menengok situs kita, ini sering disebut dengan Search Engine Optimization. Nah dari sini kita sudah dapat judul: "Mengembangkan situs portal traffic tinggi dengan teknik Search Engine Optimization (SEO)”. Fenomena lain lagi, proses pendeteksian golongan darah untuk skala besar (massal) misalnya untuk seluruh mahasiswa universitas yang mencapai 5000 orang ternyata memakan waktu yang sangat lama. Ini sebuah fenomena, kita beri solusi dengan software sistem yang menggunakan beberapa teknik artificial intelligence yang memungkinkan pendeteksian golongan darah ini. Sehingga 5000 orang bisa kita proses dalam beberapa jam misalnya.
Supaya masalah penelitian yang kita pilih benar-benar tepat, biasanya masalah perlu dievaluasi. Evaluasi masalah penelitian biasanya berdasarkan beberapa parameter dibawah (Ronny Kountur, 2007) (Moh. Nazir, 2003):
  1. Menarik.
    Masalah yang menarik membuat kita termotivasi untuk melakukan penelitian dengan serius.

  2. Bermanfaat.
    Penelitian harus membawa manfaat baik untuk ilmu pengetahuan maupun peningkatan kesejahteraan dan kualitas kehidupan manusia. Penelitian juga diharapakan membawa manfaat bagi masyarakat dalam skala besar (secara nasional maupun internasional), maupun secara khusus di komunitas kita (kampus, sekolah, kelurahan, dsb). Hindari penelitian yang tidak membawa manfaat kepada masyarakat.

  3. Hal Yang Baru.
    Ini hal yang cukup penting dalam penelitian, bahwa penelitian yang kita lakukan adalah hal baru, solusi yang kita berikan adalah solusi baru yang apabila kita komparasi dengan solusi lain, bisa dikatakan lebih efektif, murah, cepat, dsb. Bisa juga kebaruan ini diwujudkan dengan perbaikan dari sistem dan mekanisme kerja yang sudah ada. Hindari redundant research, meneliti hal yang sama persis dengan yang dilakukan oleh orang lain. Ya ini namanya nyontek alias plagiasi skripsi.

  4. Dapat Diuji (Diukur).
    Ini biasanya hal yang terlupakan, supaya proses penelitian kita sempurna, masalah penelitian beserta variabel-variablenya harus merupakan sesuatu yang bisa diuji dan diukur secara empiris. Kalau kita melakukan penelitian korelasi, nah korelasi antara beberapa variabel yang kita teliti juga harus diuji secara ilmiah dengan beberapa parameter.

  5. Dapat Dilaksanakan.
    Nah ini juga faktor penting. Masalah yang bagus berkualitas, jadi lucu dan naif kalau akhirnya secara teknik penelitian tidak bisa dilakukan. Dapat dilakukan ini berkaitan erat dengan keahlian, ketersediaan data, kecukupan waktu dan dana. Hindari research impossible ;)

  6. Merupakan Masalah Yang Penting.
    Ini agak sulit mengukurnya, tapi paling tidak ada gambaran di kita bahwa jangan sampai melakukan penelitian terhadap suatu masalah yang tidak penting.

  7. Tidak Melanggar Etika.
    Yang terakhir adalah masalah etika. Penelitian harus dilakukan dengan kejujuran metodologi, prosedur harus dijelaskan kepada obyek penelitian, tidak melanggar privacy, publikasi harus dengan persetujuan obyek penelitian, tidak boleh melakukan penipuan dalam pengambilan data maupun pengolahan data.
Bagaimana, sudah ada bayangan kira-kira masalah apa yang akan diteliti? Kalau sudah ok dan mantab dengan masalah penelitian, kita lanjutkan ke seri artikel berikutnya. Intinya konsep seri tulisan tentang penelitian ini memberi opini bahwa penelitian dan tugas akhir itu hal yang mudah, tidak bikin takut, apalagi bikin stress, kita tinggal jalankan saja sesuai dengan tahapan penelitian. Nikmati permasalahan yang muncul, tekuni solusi dan eksperimen yang kita rencanakan, dan jreng jreng jreng …. Insya Allah tugas akhir kita akan selesai sesuai dengan waktu yang ditetapkan, tanpa nyontek, tanpa membeli dari penjual skripsi dan tanpa kutukan dosa dari yang Diatas (Sumber :http://www.ubb.ac.id)

31 Oktober 2014

Teknik Penyusunan Judul Skripsi Bahasa (1)

Membuat Judul skripsi tidak semudah yang kita duga, sehingga ada kecenderungan mahasiswa mengadopsi judul skripsi lain dengan topik yang berbeda atau menentukan sendiri dengan melihat fenomena empiris yang terjadi di lingkungan kita, baik pekerjaan, profesi, dan komunitas yang menyebabkan timbullnya permasalahan yang relevansi dengan konsentrasi akademik kita. Bahasa copy-paste sering menjadi pilihan utama mahasiswa karena tidak paham dalam menentukan judul skripsinya.

Sistematika dalam penyusunan judul bahasa secara bertahap antara lain:

a.  Tentukan Topik/Tema Penelitian
Mengambil judul bukan dari judul skripsi orang lain, tapi harus anda ambil dari topik yang secara empiris berdekatan dengan perkuliahan, pekerjaan, komunitas teman anda, dan lingkungan.

Topik untuk penyusunan judul skripsi bahasa berpedoman pada topik antara lain : 
Bahasa Inggeris
Bahasa Jepang
1). Speaking
1). Kaiwa
2). Reading
2). Dokkai
3). Writing
3). Sakubun
4). Listening.
4). Chokai

Dari topik ini bisa dispesfikasikan secara logis kedalam sub-topik yang lebih kecil lagi sehingga bisa mudah dipahami oleh siapapun, karena topik tidak terlalu umum dan memperluas bahasan anda.
Anda susun sub-topik dari topik diatas untuk mengspesifikasikan bahasan topik anda antara lain :
KAIWA
DOKKAI
SAKUBUN
CHOKAI
BUDAYA
Kaiwa 1
Kyujuuhai
Sakubun happyu
Chokai 1
Nihonjiju
Jitsuyu
Kanji
 I nichi honyaku
Chokai 2
Nihonshi
Kaiwa happyu
Dokkai bunpo
tsyuyaku
Chokai 3
Nihon bungaku
Bijinesu kaiwa
Dokkai hapyu
nohonggaku
Chokai 4
Nihon tsuushin
Kaiwa happyu 2
honyakuron
Jitsuyu honyaku
Chokai 5
Nihon kenkyuu zemi

b.Tentukan Masalah Dan Rumuskan Masalah.
Setelah topik dipetakan kedalam sub-topik, kemudian pahami topik itu sesuai dengan jurusan kuliah anda. Biasanya masalah diungkapkan dalam kalimat pernyataan. Misalnya :
1)     Topik  : Speaking
2)     Sub-topik : percakapan (conversation)
3)     Masalah : ”Kesulitan dalam pengucapan kata bahasa inggeris”
4)     Permusan : ”Kenapa pengucapan kata bahasa inggeris itu sulit?

c. Berikan Jawaban Empiris dan Teoritis terhadap Perumusan Masalah.

Dari perumusan ini bisa menguraikan jawaban empiris dan teoritis yang menyangkut adanya asumsi dasar yang bisa menjawab masalah yang dirumuskan oleh peneliti.kenapa pengucapan bahasa inggeris itu sulit? Banyak jawaban secara empiris : kurang menguasai vocabulary, sulitnya menghilangnya logat daerah, kurang latihan dan pembiasaan diri, tidak memiliki partner berbicara, mentalitas, dll.

d. Tentukan Variabel Penelitian
Variabel bisa diartikan sebagai bagian dari judul yang bisa diinterpretasikan kedalam sebuah teori. Variabel juga bisa diambil dari asumsi-asumsi dari perumusan masalah atau dari masalah itu sendiri.
Dalam hal ini yang menjadi variabelnya adalah...
  • Variabel Y   = perbaikan pengucapan kata bahasa inggeris.
  • Variabel X1= vocabulary
  • Variabel X2= dialek

e.Tentukan Paradigma Penelitian.
Dari variabel yang sudah ditentukan sehingga dapat dilihat hubungan konstelasi antar variabel :

                                            X1
                                                                                  Y
                                           X2

f. Tentukan Jenis Penelitian 
Setelah paradigma anda buat, langkah berikutnya tentukan jenis penelitian, pastinya kalau variabel lebih dari satu, maka jenis penelitiannya kuantitatif dengan analisis statistika.

g.Tentukan Teks Judul.
Tahap terakhir menentukan teks judul : anda tentukan jenis teks judulnya : korelatif, deskriptif, komparatif,dll. Maka teksnya sebagai berikut :”hubungan korelatif antara vocabulary dan dialek daerah terhadap perbaikan pengucapan bahasa inggeris siswa SMAN 1 Bekasi tahun 2014”

Tulisan Lainnya:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *