12 Juni 2010

Panduan dasar SPSS : Jenis Data Staistika

Tak bisa dibantah jika kita mengolah data statistik dengan komputer maka yang pertama kali terbayang adalah SPSS. SPSS memang salah satu program statistik yang paling populer di antara program lainnya. SPSS banyak digunakan dalam penelitian-penelitian sosial dan riset, yang sesuai dengan kepanjangan SPSS yaitu: Statistical  Package for the Social Science. 

Walaupun sekarang singkatannya menjadi Statistical Product and Service Solution (karena fungsinya yang lebih berkembang) namun tetap saja SPSS lebih sering digunakan dalam penelitian sosial. Saat ini SPSS telah sampai pada versi 11.05. Tutorial SPSS ini hanya membahas kegunaannya dalam penelitianpenelitian sosial dan kalau masih sempat akan disinggungsedikit masalah survey.

Sebelum masuk pada tahap demi tahap tutorial SPSS, pengetahuan tentang jenisjenis data dalam statistik adalah syarat utama yang harus dikuasai -paling tidak menurut pendapat saya. Pengetahuan tentang jenis-jenis data sangat menentukan metode yang akan digunakan dalam pengambilan data dan tentu saja jenis analisis apa yang dibutuhkan oleh data tersebut agar lebih bermakna.

Jenis -jenis data ini bertingkat menurut tingkatan pengukuran. Saya biasa menyingkatnya dengan “NOIR” atau”RION”. Jenis data tersebut adalah:

1. Data Rasio
Data rasio adalah tingkatan data yang paling tinggi. Data rasio memiliki jarak antar nilai yang pasti dan memiliki nilai nol mutlak yang tidak dimiliki oleh jenis-jenis data lainnya. Contoh dari data rasio diantaranya: berat badan, panjang benda, jumlah satuan benda. Jika kita memiliki 10 bola maka ada perwujudan 10 bola itu, dan ketika ada seseorang memiliki 0 bola maka seseorang tersebut tidak memiliki bola satupun.
Data rasio dapat digunakan dalam komputasi matematik, misalnya A memiliki 10 bola dan B memiliki 8 bola, makaA memiliki 2 bola (10-8) lebih banyak dari B.

2. Data Interval
Data interval mempunyai tingkatan lebih rendah dari data rasio. Data rasio memiliki jarak data yang pasti namun tidak memiliki nilai nol mutlak. Contoh dari data interval ialah hasil dari nilai ujian matematika. Jika A mendapat nilai 10 dan B mendapat nilai 8, maka dipastikanA mempunyai 2 nilai lebih banyak dari B. Namun
tidak ada nilai nol mutlak, maksudnya bila C mendapat nilai 0, tidak berarti bahwa kemampuanC dalam pelajaran matematika adalah nol atau kosong. Bhina Patria – www.inparametric.com 2

3. Data Ordinal
Data ordinal pada dasarnya adalah hasil dari kuantifikasi data kualitatif. Contoh dari data ordinal yaitu penskalaan sikap individu. Penskalaan sikap individu terhadap sesuatu bisa diwujudkan dalam bermacam bentuk, diantaranya yaitu: dari sikap Sangat Setuju (5), Setuju (4), Netral (3), Tidak Setuju (2), dan Sangat Tidak Setuju (1). Pada tingkatan ordinal ini data yang ada tidak mempunyai jarak data yang pasti , misalnya: Sangat Setuju (5) dan Setuju (4) tidak diketahui pasti jarak antar nilainya karena jarak antara Sangat Setuju (5) dan Setuju (4) bukan 1 satuan (5-4).

4. Data Nominal
Data nominal adalah tingkatan data paling rendah menurut tingkat pengukurannya. Data nominal ini pada satu individu tidak mempunyai variasi sama sekali, jadi 1 individu hanya punya 1 bentuk data. Contoh data nominal diantaranya yaitu: jenis kelamin, tempat tinggal, tahun lahir dll. Setiap individu hanya akan mempunyai 1 data jenis kelamin, laki-laki atau perempuan. Data jenis kelamin ini nantinya akan diberi label dalam pengolahannya,misalnya perempuan =1, laki-laki=2.

Ada lagi jenis data yang sering disebutkan dalam statistik yaitu data parametric dan non-parametric. Jika “NOIR” adalah pembagian data menurut tingkatan pengukuran, pembagian parametric dan non-parametric dipengaruhi oleh karakteristik empirik dari data tersebut. Pengetahuan tentang batasan data parametric dan nonparametric ini sangat penting karena pada proses analisis memang dibedakan untuk masing-masing jenis data tersebut.
Suatu data disebut sebagai data parametric bila memenuhi kriteria sbb (Field, 2000):1. Normally distributed data. Data yang mempunyai distribusi normal adalah data yang dapat mewakili populasi yang diteliti. Secara kasat mata kita bisa melihat histogram dari data yang dimaksud, apakah membentuk kurva normal atau tidak. Tentu saja cara ini sangat subyektif. Cara lainnya yaitu dengan melakukan uji normalitas pada data yang dimaksud –caranya akan dijelaskan lebih lanjut.

2. Homogenity of variance. Variansi dari data yang dimaksud harus stabil tidak berubah atau homogen. Ada banyak tes yang bisa dilakukan untuk mengetahui homogenity of variance, bahkan untuk untuk jenis -jenis analisis tertentu SPSS secara otomatis menyertakan hasil tes ini.

3. Interval data. Data yangdimaksud minimal merupakan data interval.

4. Independence. Data yang diperoleh merupakan data dari tiap individu yang independen, maksudnya respon dari 1 individu tidak mempengaruhi atau dipengaruhi respon individu lainnya.

Karena keterbatasan, saya tidak bisa menjelaskan lebih mendalam, kalau dirasa kurang jelas silakan cari buku statistik yangmembahas hal ini lebih lanjut

Ringkasan Buku 10 Model Penelitian dan Pengolahannya dengan SPSS 14

Di dalam suatu penelitian, baik dalam penelitian yang bersifat pengkajian literatur maupun penelitian yang bersifat statistik, pasti terlibat ejumlah data kuantitatif. Data-data tersebut kemudian harus diolah dalam sebuah proses pengambilan keputusan.

Bagi para peneliti yang belum memahami dan belum memiliki pengalaman, yaitu mereka yang masih bertaraf semula, angkah penentuan model dan hipotesis yang berakhir kepada inferensi hasil analisis merupakan langkah yang cukup membingungkan. Hal ini sering terjadi terutama dalam sebuah penelitian yang menuntut penggunaan metode statistika.
 
Didesain dalam bahasan yang praktis, ringkas, dan mudah, buku ini ditujukan untuk menjadi panduan praktis bagi para pengguna pemula, menengah, dan tingkat lanjutan, baik yang belum menguasai dasar-dasar metode penelitian dan pemakaian sofware aplikasi statistik maupun yang telah menguasai dasar-dasar peggunaan sofware aplikasi statistik.

Pembahasan dalam buku ini meliputi :
Dasar-dasar spss 14
Pengujian hipotesis pada rata-rata
Analisis korelasi product
Moment pearson
Analisis korelasi rank spearman
Analisis korelasi tau kendall
Analisis regresi sederhana
Analisis regresi nonlinier
Bagan kendali statistik
Uji chi-square
Statistik multivariate lanjutan

Daftar Isi

Bab I Pendahuluan
Bab II Dasar-dasar SPSS 14
Bab III Pengujian Hipotesis Pada Rata-rata
Bab IV Analisis Korelasi Product Moment Pearson
Bab V Analisis Korelasi Ran Spearman
Bab VI Analisis Korelasi Tau Kendall
Bab VII Analisis Regresi Sederhana
Bab VIII Analisis Regresi Nonlinier
Bab IX Bagan Kendali Statistik
Bab X Uji Chi-Square
Bab XI Statistik Multivariate
Bab XII Statistik Multivariate Lanjutan

Aplikasi Statistika dalam Penelitian Kuantitatif

Menurut Sugiyono (2000), dalam arti sempit statistik dapat diartikan sebagai data, tetapi dalam arti luas statistik dapat diartikan sebagai alat. Alat untuk analisais dan alat untuk membuat keputusan. Statistik dapat dibedakan menjadi dua, yaitu Statistik Deskriptif dan Statistik Inferensial. Selanjutnya Statistik Inferensial dapat dibedakan menjadi Statistik Parametris dan Non Parametris. 

Statistik Deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu statistik yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu statistik hasil penelitian, tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas (generalisasi/inferensi), Penelitian yang tidak menggunakan sampel, analisisnya akan menggunakan Statistik Deskrisptif. Demikian juga penelitain yang menggunakan sampel, tetapi peneliti tidak bermaksud untuk membuat kesimpulan untuk populasi darimana sampel diambil, maka statistik yang digunakan adalah Statistic Deskriptif. Dalam hal ini teknik korelasi dan regresi juga dapat berperan sebagai Statistik Deskriptif.

Statistik Inferensial adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel, dan hasilnya akan digeneralisasikan (diinferensikan) untuk populasi dimana sampel diambil. Terdapat dua macam Statistic Inferensial yaitu Satitistik Parametris dan Nonparametris. Statistik Parametris terutama digunakan untuk menganalisis data interval atau rasio, yang diambil dari populasi yang berdistribusi normal. Sedangkan Statistik Nonparametris terutama digunakan untuk menganalisis data nominal, dan ordinal dari populasi yang bebas
terdistribusi. Jadi tidak harus normal. Dalam hal ini teknik korelasi dan regresi dapat berperan sebagai Statistik Inferensial.

Ringkasan:

Dalam melakukan penelitian kuantitatif, kita seringkali mengalami kesulitan tentang metode statistika mana yang akan digunakan. Hal ini umumnya disebabkan kita tidak mendapatkan materi penelitian yang lengkap dan terintegrasi, selain itu buku-buku yang kita temui pun umumnya tidak membahas hal tersebut secara menyeluruh.
Artikel ini berusaha memberikan pengetahuan praktis awal bagi anda yang ingin melakukan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode-metode statistika.

Artikel ini merupakan sebuah work in progress, dalam artian materinya akan terus diperbarui. Tentu saja masukan maupun kritikan dari anda-anda yang membacanya sangat diharapkan, agar saya bersemangat menulisnya. :)

Pendahuluan

Jika kita mendengar kata penelitian, satu hal yang mungkin langsung terlintas di pikiran kita adalah "mesti rumit dan dilakukan oleh orang yang hebat sekali". Hal tersebut tidak sepenuhnya benar maupun salah, karena penelitian ada banyak sekali macamnya, misalnya penelitian di laboratorium yang dinamakan eksperimen, dan ada juga penelitian yang namanya field study. Rumit tidaknya penelitian yang akan kita lakukan, tergantung pada kebutuhan akan hasil penelitian yang diinginkan, semakin banyak kebutuhannya, tentu saja penelitian akan menjadi semakin rumit.

Seringkali kita tidak menyadari bahwa dalam kehidupan kita sehari-hari kita seringkali sudah melakukan penelitian, misalnya dalam membeli suatu barang yang berharga mahal seperti komputer, kita tentu saja melakukan penelitian ke toko-toko komputer untuk membandingkan harga, fitur, maupun jaminannya. Memilih pacar ataupun calon suami/istri mungkin juga bisa digolongkan sebagai penelitian. Namun tentu saja kedua macam penelitian ini berbeda dengan penelitian yang biasa kita baca di jurnal ilmiah, karena mungkin dalam melakukan penelitian tersebut kita seringkali tidak menggunakan metode ilmiah melainkan terkadang hanya emosi saja, terlebih lagi dalam hal mencari pacar. :)

Untuk selanjutnya dalam artikel ini, kita tidak akan membahas penelitian yang tidak ilmiah semacam itu lagi. Namun lebih kepada penelitian yang akan kita gunakan dalam membuat laporan, skripsi, tesis ataupun disertasi.

Berdasarkan data yang dikumpulkan ataupun analisisnya penelitian dapat dibedakan menjadi penelitian kualitatif ataupun penelitian kuantitatif. Celakanya selama masa kuliah, kita seringkali diajarkan bahwa penelitian kuantitatif itu lebih "baik" daripada penelitian kualitatif. Dan kita pun dengan naifnya menganggap demikian, karena biasanya penelitian kuantitatif menggunakan alat-alat matematika dan statistika yang rumit-rumit, sehingga terkesan canggih. Apakah memang demikian kenyataannya ?

Julia Brannen dalam bukunya "Memadu Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif" menyatakan bahwa metode kuantitatif dan kualitatif itu ada manfaatnya masing-masing. Jika kita tidak tahu tentang obyek yang akan kita teliti, ada baiknya kita terlebih dulu melakukan penelitian kualitatif, agar kita dapat "feel the object". Secara ringkas, jika kita ingin mengetahui secara mendalam tentang suatu obyek penelitian, gunakanlah metode kualitatif, jika tidak dapat digunakan metode kuantitatif. Yang paling baik tentu saja, bila kita dapat menggabungkan kedua metode tersebut, agar dapat diperoleh keunggulan masing-masing metode.
Metode penelitian kualitatif biasanya dilakukan dengan cara :
  • Wawancara
  • Observasi
  • Etnografi
Selanjutnya kita hanya akan membahas metode penelitian kuantitatif saja, karena berdasarkan pengamatan saya terhadap skripsi-skripsi maupun tesis-tesis, umumnya metode yang digunakan adalah kuantitatif.
Tanpa banyak basa-basi lagi, mari kita mulai.

Aplikasi Statistika

Salah satu metode kuantitatif yang banyak digunakan untuk analisis data adalah dengan menggunakan statistika. Namun sayangnya, materi-materi statistika yang diajarkan di universitas dan buku-buku statistika yang kita jumpai hanya membahas tentang statistika saja tanpa menghubungkannya dengan penelitian. Hal ini saya alami sendiri, waktu memperoleh materi Statistika I dan II semasa masih lugu dahulu, yang diajarkan adalah bagaimana menghitung mean, median, modus, menguji hipotesis dengan t-test, F-test, anova, dan sebagainya. Perhatikan bahwa yang diajarkan adalah "bagaimana menghitung" bukannya "bagaimana manfaat semua itu, bagaimana kaitannya dengan hal lain". Mudah-mudahan hal tersebut cuma dialami oleh saya saja yang mungkin tidak menyimak, karena tertidur ataupun mengantuk di kelas. :)
Luar biasa gawatnya terjadi ketika harus melakukan penelitian kuantitatif dengan menggunakan statistika. Karena tidak paham secara integratif metode statistika untuk penelitian, maka banyak waktu yang terbuang hanya untuk mencari-cari referensi tentang hal tersebut, yang tentu saja sulit ditemui di perpustakaan ataupun toko-toko buku yang hanya menjual buku-buku praktis misalnya saya menjumpai sebuah buku SPSS yang hanya mengajarkan cara menjalankan program SPSS, cara memasukkan data ke sana, menyimpannya, dan lain-lain hal yang bisa dibaca langsung di manual SPSS. Aneh bin ajaib.
Untunglah ada Internet, sehingga saya dapat memperoleh "sedikit" pengetahuan tentang penerapan statistika dalam penelitian.
Saya akan mulai mendiskusikan metode-metode statistika yang umum digunakan dalam penelitian dan bagaiman menginterpretasikan mereka.

Distribusi Frekuensi

Teknik ini mungkin merupakan teknik yang paling mudah dan paling banyak digunakan untuk mendeskripsikan data. Distribusi frekuensi mengindikasikan jumlah dan persentase responden, obyek yang masuk ke dalam kategori yang ada.
Teknik ini biasanya digunakan untuk memberikan informasi awal dalam penelitian tentang obyek atau responden.

Cross-Tabulations

Bila distribusi frekuensi digunakan untuk memberikan informasi yang menggambarkan keseluruhan sampel atau populasi yang diteliti, cross-tabulation adalah sebuah teknik visual yang memungkinkan peneliti menguji relasi antar variabel.
Kedua teknik yang telah disebutkan di atas digunakan untuk menggambarkan data yang dikumpulkan selama penelitian, ini hanya merupakan awal tugas peneliti. Tugas berikutnya adalah menjelaskan temuan-temuan ini dan dapat membuat sebuah generalisasi tentang populasi yang lebih besar. Maka digunakanlah inferential statistics.

Korelasi

Metode ini menggambarkan secara kuantitatif asosiasi ataupun relasi satu variabel interval dengan variabel interval lainnya. Sebagai contoh kita dapat lihat relasi hipotetikal antara lamanya waktu belajar dengan nilai ujian tinggi.
Korelasi diukur dengan suatu koefisien (r) yang mengindikasikan seberapa banyak relasi antar dua variabel. Daerah nilai yang mungkin adalah +1.00 sampai -1.00. Dengan +1.00 menyatakan hubungan yang sangat erat, sedangkan -1.00 menyatakan hubungan negatif yang erat.
Berikut ini adalah panduan untuk nilai korelasi tersebut :
+ atau - 0.80 hingga 1.00    korelasi sangat tinggi
         0.60 hingga 0.79    korelasi tinggi
         0.40 hingga 0.59    korelasi moderat
         0.20 hingga 0.39    korelasi rendah
         0.01 hingga 0.19    korelasi sangat rendah
Satu hal yang perlu diingat adalah "korelasi tidak menyatakan hubungan sebab-akibat". Dari contoh di atas, korelasi hanya menyatakan bahwa ada relasi antara lamanya waktu belajar dengan nilai ujian tinggi, namun bukan "lamanya waktu belajar menyebabkan nilai ujian tinggi".

Regresi

Regresi digunakan ketika periset ingin memprediksi hasil atas variabel-variabel tertentu dengan menggunakan variabel lain. Dalam bentuknya yang paling sederhana yang hanya melibatkan dua buah variabel, yaitu variabel bebas (independent) dan variabel terikat (dependent), misalnya lama waktu belajar dengan nilai ujian. Regresi sederhana berusaha memprakirakan nilai ujian dengan lamanya waktu belajar.
Analisis regresi mengindikasikan kepentingan relatif satu atau lebih variabel dalam memprediksi variabel lainnya.

t-test

Teknik t-test digunakan bila periset ingin mengevaluasi perbedaan antara efek. Sebagai contoh, periset mungkin tertarik dalam perbedaan kepuasan kerja untuk orang-orang yang berbeda tingkat pendidikannya. Teknik analisis yang banyak digunakan adalah membandingkan dua kelompok, misalnya mereka yang mendapat pendidikan universitas dengan mereka yang tidak, dengan menggunakan mean kelompok sebagai dasar perbandingan. t-test akan mengindikasikan apakah perbedaan antara kedua kelompok tersebut signifikan secara statistika.

F-test

F-test menguji apakah populasi tempat sampel diambil memiliki korelasi multiple (R) nol atau apakah terdapat sebuah relasi yang signifikan antara variabel-variabel independen dengan variabel-variabel dependen.

Analisis Validitas

Untuk melakukan analisis validitas dapat digunakan metode Pearson Product Moment (bila sampel normal, 30) ataupun metode Spearman Rank Correlation (bila sampel kecil, 30).

Analisis Reliabilitas Internal

Untuk analisis reliabilitas internal dapat digunakan metode Cronbach's Alpha. Jika koefisien yang didapat 0.60, maka instrumen penelitian tersebut reliabel.

Penutup

Demikianlah informasi ringkas tentang aplikasi metode-metode statistika yang dapat digunakan dalam melakukan penelitian kuantitatif. Semoga dapat bermanfaat.

Bibliografi

James L Bonwditch dan Anthony F Buono, A Primer on Organizational Behavior, edisi kelima, John-Wiley and Sons, Inc.,2001
Julia Brannen, Memadu Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif, 2000

03 April 2010

Mudahnya Menulis Proposal Penelitian Skripsi

Buku dan Peradaban BangsaSekarang mulailah dengan menulis proposal penelitian skripsi anda dengan ide anda sendiri hindari plagiat skripsi. Saat ini tidak sedikit mahasiswa bingung untuk membuat proposal penelitian skripsi. Banyak sekali kendala yang mereka hadapi, mulai mencari tema penelitian, menemukan masalah, hingga menyusun proposalnya. Pada posting saya yang lalu “Percaya diri Menyusun Skripsi atau Tugas Akhir” Saya mengutarakan komponen penilaian pada waktu sidang sarjana dengan tujuan agar para mahasiswa PD dalam mempresentasikan penelitiannya.
Sekarang bagaimana cara mudah menyusun sebuah proposal penelitian dengan standar penulisan yang berbeda dari berbagai universitas tempat anda menimba ilmu? Semua Perguruan tinggi mememiliki standar penulisan skripsi yang berbeda. Walaupun standar penulisan berbeda, tetapi filosofi penulisan skripsi atau penelitian memiliki kemiripan dalam sebuah kerangka pikir penelitian. Anda bisa mengikuti cara ini, minimal dalam sidang proposal anda bisa percaya diri dan menguasai apa yang sedang anda atau akan anda teliti. Bagaimana caranya…
Okey…. sekarang saya sebutkan dulu beberapa tips agar anda bisa berhasil menyusun sebuah proposal Management 
Proposalpenelitian yang kedepannya akan dilanjutkan pada penulisan skripsi oleh anda sendiri. Ada beberapa syarat yang minimal bisa anda penuhi tanpa harus pusing-pusing menjalankannya.
  • Pertama, Yakinkan pada diri sendiri bahwa aktor utama dalam penulisan skripsi ini adalah diri sendiri tidak ada orang lain yang akan membantu anda saat anda sidang sarjana. Hal ini penting di tanamkan karena kedepan, tidak ada orang lain selain diri anda sendiri yang menghadapi para penguji. Tidak ada yang menolong kecuali do’a dan dukungan moril jarak jauh orang tua anda dirumah.
  • Kedua, Jangan mengandalkan Orang lain. Pastikan bahwa diri anda sebagai aktor utama, menguasai semua data dan bahan penelitian anda dengan cara penelusuran data oleh anda sendiri. Hal ini menghindari ketergantungan anda pada orang lain memiliki kemampuan untuk membantu anda. Akibat yang paling fatal, saat anda menganalisis data dan bahan penelitian anda tidak akan faham betul dengan apa yang sedang anda teliti, karena orang lain yang menguasai penelitian anda. Hindari penggunaan jasa konsultasi pembuatan skripsi, karena jasa seperti ini biasanya hanya berorientasi pada profit bukan keahlian teknis seorang mahasiswa. Anda bisa mengandalkan dosen pembimbing anda untuk dijadikan mentor dalam penelitian anda.
  • Ketiga, Hindari berpedoman pada skripsi orang lain. Skripsi orang lain boleh digunakan hanya sebagai bahan referensi saja, tetapi alur penulisan disarankan tidak sama. Hal ini bertujuan untuk menjaga originalitas penelitian yang sedang anda lakukan. Tema penelitian boleh sama, tapi harus ada perbedaan yang mendasar antara penelitian anda dengan penelitian orang lain.
Nah sekarang jika anda sudah membaca tips dari saya mari kita mulai dengan mudah menyusun proposal anda sendiri. Cara ini pernah saya lakukan dan alhamdulilah berhasil, sebelum melakukan penysunan proposal atau usulan penelitian saya membuat portofolio penelitian. Portofolio tersebut saya tulis dalam beberapa lembar kertas saja yang isinya ada 4 komponen utama.
Sebelum saya lanjutkan, pada posting ini saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Prof. Oekan Soekotjo Abdoellah, MA. PhD. dan almarhum Prof. DR. H. Adang Kadarusman, Ir., MSc. kedua tokoh ini yang sudah membentuk saya dalam pola berpikir sebagai peneliti sehingga cara yang anda baca saat ini adalah hasil racikan saya dari pola pikir kedua tokoh tersebut.
Sekarang bagaimana menulis propsal tersebut, cara ini adalah salah satu pradigma positivistis yang  saya bagi dalam 4 komponen utama yang harus ada dalam portofolia yang akan anda buat.
Pertama, MASALAH. Cermatlah memilih masalah yang akan anda teliti. Jangan sampai merubah kondisi atau anda terjebak kondisi “masalahnya ada pada diri sendiri yang tidak bisa menemukan masalah”. Susun dan tulish masalah penelitian anda pada kerta yang mencakup:
  • Masalah harus bisa di Identifikasi. Munculnya dalam satu atau beberapa buah Identifikasi Masalah. Semua jenis penelitian pasti ada sub bab Identifikasi masalah.
  • Pilih beberapa manfaat, tuliskan dalam kertas anda beberapa manfaat yang akan dihasilkan dari penelitian ini. Manfaat seperti apa?
    • Manfaat Akademis, untuk menjadi bahan penelitian lanjut.
    • Manfaat Praktis, untuk para pelaku atau pihak yang akan memanfaatkan penelitian anda.
  • Rumuskan masalah anda, coba mulai dengan mencari “How To” bagaimana menelitinya dan menggunakan cara atau metode apa. Hal ini akan membantu diri anda dalam penyusunan metodologi penelitian. Jika masalah sudah anda rumuskan, dan anda faham betul akan masalah tersebut saya perkirakan 30% anda akan menguasai penetian anda sendiri.
Kedua, KERANGKA PEMIKIRAN. Nah kalau bagian ini sebaiknya anda susun yang berhubungan dengan masalah penelitian anda. Misalnya, anda akan melakukan penelitian tentang buah jarak, maka semua hal tentang buah jarak harus anda kuasai dan miliki. Minimal anda bisa berbicara dengan seorang ahli pada buah jarak. Kumpulkan dan ada yang harus disesuaikan yaitu;
  • Ungkapkan kerangka piikiran anda dengan sebuah landasan Teoritik.
  • Ungkapkan pula dalam sebuah landasan Empirik.
Dari kedua hal itu, anda akan menemukan sebuah Kerangka konseptual yang pada akhirnya akan memunculkan sebuah Hipotesa atau dalam sebuah program Doktoral sering di sebuat sebuah premis.
Ketiga, HIPOTESIS PENELITIAN. Memang ada cara sendiri dalam menyusun hipotesis penelitian. Tetapi secara singkat saja saya menjelaskan hipotesis adalah sebuah Dugaan sementara yang masih harus dibuktikan dengan sebuah metode yang tepat. Cara menyusun hipotesis ini, diambil dari masalah yang akan anda teliti. Pikirkan juga dengan metode apa hipotesis itu akan dipecahkan atau dibuktikan. Caranya:
  • STRUKTUR Hipotesis, dalam struktur hipotesis ini akan muncul beberapa pertimbangan
    • Indetifikasi dan Klasifikasi Variabel penelitian
    • Bagaimana Penelitiannya
    • Konseptualisasi penelitiannya
    • Operasional penelitian
    • Paradigma atau model yang dihasilkan dari penelitian anda
  • STRATEGI, disini akan muncul sebuah Hipotesi Statistik. Ada perbedaan antara hipotesis penelitian dan hipotesisi statistik. Strateginya bisa memelih pada dua tipe penelitian ini;
    • Eksperimental
      • Hipotesis Statistik (Ho : Hi)
      • Randomisasi atau tanpa Randomisasi
      • Ada data kuantitatif
      • Analisis
    • Observasional
      • Hipotesis Statistik (Ho : Hi)
      • Sampling
      • Data Kualitatif
      • Analisis
    • Kesimpulan Statistik
      Dari semuanya akan muncul sebua kesimpulan statistik yang diharapkan, tolak Ho atau tolak Hi
Keempat, KESIMPULAN. Nah ini yang terakhir, simpulkan pula penelitian anda atau harapan dari penelitian ini. Simpulkan dari masalah yang sudah anda susun. Apakah bisa disimpulkan atau tidak. Jika anda tidak bisa menyimpulkan dari masalah yang anda temukan. Artinya anda menghadapi masalah, harus mengulang kembali tema anda.
Susun keempat komponen tersebut dalam dua helai kertas saja, apakah yang dihasilkan? Setelah itu silahkan anda uraikan dalam susunan bab proposal sesuai dengan standar universitas anda. Biasaya Bab 1 sampai dengan bab 3. Selamat mencoba…

Beberapa kesalahan dalam penyusunan skripsi

Baru-baru ini, saya diminta mencarikan judul Skripsi Psikologi. Saya jadi teringat saat saya masih berjuang menyelesaikan skripsi dulu. Jujur, saya justru lebih faham bagaimana meneliti dengan baik dan benar setelah selesai ujian pendadaran serta melihat kawan-kawan saya yang lulus ujian. Ternyata, banyak mahasiswa (termasuk saya dulu) melakukan beberapa kesalahan mendasar dalam menyusun skripsi. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Tidak tahu tujuan, judul dan fokus penelitiannya.

Banyak mahasiswa yang tidak tahu tujuan penelitian. Yang mereka tahu hanya lulus dan jadi sarjana saja Tapi bukan itu yang saya maksud. Tujuan di sini berarti: Untuk apa Anda meneliti persoalan ini? Selain itu, fokus yang diteliti apa? Batasannya seperti apa? Kalau penelitiannya kuantitatif, variabelnya apa saja? Aspek-aspek dari variabelnya apa? Kalau kualitatif, pertanyaan penelitiannya apa? Metodenya bagaimana? Nah, dari sini sebetulnya judul skripsi sudah dapat dibuat. Kalau masih bingung, kita dapat mencari fokus dan judul dari rekomendasi (saran) penelitian/skripsi yang sudah selesai (biasanya di bab terakhir).
2. Bingung permasalahannya sendiri.
Permasalahan yang hendak diteliti adalah latar belakang untuk memulai. Rumus sederhana dari “membuat” masalah adalah: menentukan das sein dengan das solen. Kemudian, memperkuat das sein dan das solen dengan bukti-bukti maupun dasar yang kuat. Das Sein adalah apa yang terjadi sesungguhnya (fakta di lapangan). Das solen adalah apa yang seharusnya terjadi (ideal). Keduanya harus bertentangan (dipertentangkan) karena masalah adalah kesenjangan antara das sein dengan das solen.
3. Pola pikir tidak ilmiah.
Pola pikir ilmiah itu sederhana kok. Anda mengungkapkan argumentasi dengan dasar. Atau dengan kata lain kebenaran akan terungkap jika kita punya dasar empiris yang kuat. Banyak mahasiswa memberikan argumentasi yang cukup baik tapi ternyata tidak punya dasar. Termasuk tulisan ini.  Tidak ada dasarnya. Kalau ini ilmiah, saya akan menyebutkan dasar-dasarnya. Misalkan hasil observasi atau wawancara dari para mahasiswa yang mengalami kesalahan dalam menyusun skripsi. Tapi ini hanya sharing pengalaman saja dan bukan tulisan ilmiah. Jadi, saya tidak akan menguatkannya dengan dasar-dasar tersebut. Oh ya, dasar dalam skripsi dapat dicari dari hasil penelitian, jurnal, teori, berita media dan lain sebagainya.

4. Sok pintar

Maksudnya banyak memasukkan kata-kata yang tidak dimengerti atau konsep-konsep yang tidak dipahami. Sikap sok pintar lainnya adalah membuat paragraf yang tidak sederhana. Terlalu banyak dan berbelit-belit. Kadang berfikir supaya halamannya banyak. Biar dosennya pusing bacanya. Sayangnya, justru dia sendiri yang bingung dengan maksud dari apa yang dia tulis.  Padahal, teori yang lebih sederhanalah yang akan digunakan. Bahasa yang lebih sederhanalah yang mudah diterima. Einstein pun bisa hebat karena dia mampu menyederhanakan teori relativitas.
5. Asal Copy Paste
Biasanya di Bab 2 atau Tinjauan Pustaka. Padahal, peneliti harus faham dan harus tahu kutipan itu untuk apa. Kalau tidak perlu ya jangan asal memasukkan kutipan.
6. Tidak faham metode.
Biasanya menggunakan metode A tapi ditulis menggunakan metode B. Metode itu sebetulnya mirip sekali dengan cara memasak. Kalau kita punya bahan telur maka metodenya bisa direbus atau digoreng. Nah, kalau kita tidak faham metode, bisa jadi kita akan merebus telur (yang sudah dibuang kulit luarnya) bersama-sama dengan minyak goreng. 
7. Tidak ditulis penjelasannya.
Mahasiswa harus menulis semua yang berkaitan dengan penelitian secara lengkap. Kalau ada pernyataan atau kalimat yang tidak jelas dan ditanyakan dosen waktu ujian, biasanya mahasiswa mampu menjawab. Namun, jawaban itu tidak ditulis atau tidak ada di naskah skripsi. Ini adalah kesalahan. Dalam ujian pendadaran, jawaban dari pertanyaan dosen seyogyanya sudah ada di naskah skripsi.
8. Terlalu memikirkan EYD
Menulis skripsi itu jangan terlalu fokus pada EYD. Tulis dulu dengan jelas dan logis substansinya. Baru setelah selesai, edit dan benarkan EYD serta aturan lainnya. Toh kalau ada yang terlewat akan dibantu dosen untuk memperbaikinya. 
9. Ditunda dan ganti judul terus.
Dalam proses penulisan skripsi, penyakit ini banyak membuat mahasiswa nggak selesai-selesai nulis skripsi. Alasan berganti adalah karena kesalahan konsep, kurang sempurna, nggak cocok, susah menelitinya, rekomendasi dosen dan lain sebagainya. Sebaiknya mahasiswa fokus pada satu konsep saja dan menerima kekurangan ataupun kelemahan dari fokus yang sudah dipilihnya. Sebab, dengan berganti-ganti konsep sama saja dengan terus menerus memulai skripsi dari awal lagi.
Oke. itu saja dulu. Semoga pengalaman saya dapat membantu. Jangan pernah menyerah ya! Semoga cepat selesai skripsinya. Sukses selalu. Lebih baik jadi sarjana pengangguran daripada jadi mahasiswa pengangguran.

Sumber : http://nafismudrika.wordpress.com

Tulisan Lainnya:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *