01 November 2011

Menguji Hipotesis

Oleh: Herri Mulyono

Menguji hipotesis atau saya lebih mudah mengatakannya sebagai usaha menarik kesimpulan dari serangkaian perhitungan yang telah dilakukan. Namun yang perlu diperhatikan adalah pengujian hipostesis lebih sering muncul dalam jenis penelitian kuantitatif dibandingkan dengan jenis penelitian kualitatif. Dalam melakukan perhitungan dalam analisa data, hampir selalu ditemui bahwa setiap langkah perhitungan tersebut selalui didahului dengan sebuah hipotesis perhitungan. Jadi, pengujian hipotesis bukan selalu ada dalam tahap akhir penyimpulan hasil penelitian. Contohnya dalam pengujian reliabilitas istrumen; dalam perhitungan dengan menggunakan rumus Pearson, hipotesis yang dipakai adalah Ho yang berarti instrument yang dipakai tidak reliable jika nilai r perhitungan lebih kecil dari nilai r pada tabel konsultasi, dan Hp yang berarti instrument dikatakan reliable jika nilai r hitung lebih besar dari r pada tabel.
Hipotesis umumnya terdapat dua jenis; Null hypothesis (hipotesis nol, dilambangkan dengan Ho) dan Experiment hypothesis (hipotesis penelitian, dilambangkan dengan Ha, H1 atau Hp). Hipotesis nol menandakan tidak linier, tidak signifikan, tidak ada hubungan, atau tidak ada pengaruh antar variable dalam penelitian yang sedang dilakukan apabila tidak sesuai dengan kreteria yang diberikan berdasarkan dari teknik analisa yang dipilih. Sedangkan, H1 merupakan kebalikan dari Ho yang memberikan kesimpulan tentang signifikansi, linearitas, adanya hubungan atau pengaruh dan lainnya dari perhitungan yang telah dilakukan. Tetapi, dalam perhitungan multi variable, sangat mungkin jumlah hipotesis berkembang bukan hanya dua, tapi juga bisa tiga, empat, lima dan lebih dari itu sesuai dengan jumlah variable yang ada dalam perhitungan.
Walaupun demikian, sering ditemui bahwa penggunaan symbol-simbol tersebut diatas merupakan pilihan si peneliti itu sendiri, yaitu sangat memungkinkan Ho adalah hipotesis pertama dan H1 adalah hipotesis kedua. Serta, penerimaan terhadap sebuah hipotesis akan selalu berdampak pada penolakan hipotesis lainnya.
Penerimaan atau penolakan terhadap salah satu Hipotesis selalu didasarkan pada kreteria yang ditelah ditentukan sebelumnya (umumnya terdapat pada bab 3). Penentuan kriteria ini selalu didasarkan pada nilai hasil perhitungan yaitu apakah lebih besar atau pun lebih kecil dari nilai kritis pada tabel yang dimaksud. Atau, mungkin pula apakah nilai perhitungan positif atau negative sehingga sebuah hipotesis perlu ditolak ataupun perlu diterima. Maksudnya adalah, ketika melakukan perhitungan uji hipotesis (apakah dengan menggunakan rumus r untuk penelitian korelasi, atau uji signifikansi dengan uji t atau f, untuk penelitian pengaruh, efek, atau perbedaan) tentunya anda akan mendapatkan nilai sebagai hasil dari perhitungan anda, apakah nilai r (untuk perhitungan korelasi), nilai t ataupun nilai f (untuk uji signifikansi). Nilai inilah yang disebut dengan nilai penelitian atau hasil penelitian. Selanjutnya adalah mengkonsultasikan (membandingkan) nilai yang anda dapat tersebut pada nilai kritis r, t atau f, pada tabel yang umumnya dilampirkan pada buku-buku statistik. Misalnya, nilai t yang anda dapat adalah 0.25 sendangkan nilai kritis t pada tabel adalah 1.684. Artinya nilai t yang anda dapat lebih rendah dari nilai t yang ada pada tabel. Hal ini memaksa anda untuk menolak Hp dan menerima Ho. Atau dengan kata lain bahwa hasil penelitian anda tidak signifikan atau tidak ada pengaruh atau efek dari variable 1 ke variable lainnya, dan sebaliknya.
Umumnya, diskusi saya dengan Prof. Santosa Mawarni menyebutkan bahwa penelitian kuantitatif selalu menghasilkan nilai t atau f yang menolak Ho. Hal ini dikarenakan penelitian kuantitatif bertujuan untuk membuktikan teori, dan biasanya teori (dalam skripsi atau tesis) tidak pernah terbantahkan. Dengan kata lain, hasil pengujian selalu berbentuk terdapat hubungan, pengaruh, efek dll. Jika tidak, pasti ada kesalahan pada data yang dianalisa. Kesalahan yang paling mungkin adalah data-data tersebut tidak memenuhi persyaratan validitas, reliabilitas, normalitas dan homogenitas. Lalu, bagaimana jika data-data tersebut sudah benar dalam pengertian telah memenuhi prasyarat data penelitian? Jawaban yang paling mungkin adalah dengan pendeskripsian lingkungan penelitian serta faktor-faktor luar yang mempengaruhi individu pada lingkungan tersebut.
Seperti pernah salah seorang dosen pada universitas negeri ternama bertanya kepada saya tentang hasil penelitiannya yang “tidak berpengaruh” atau “berpengaruh negative” dari satu variable pada variable lainnya. Setelah di koreksi, tidak ditemukan data-data yang salah. Kemudian, saya meminta dosen tersebut untuk mendeskripsikan lingkungan yang telah beliau observasi. Hasilnya sangat mengagumkan, banyak fakta social yang mematahkan teori yang telah dicantumkan dalam bab 2. Dan sangat wajar jika kemudian faktor social masyarakat sangat mempengaruhi variable-variable penelitian yang menyebabkan ditolaknya teori yang telah ada.
Atau contoh ini mungkin dapat menjelaskan, bahwa teori menyatakan laki-laki memiliki kemampuan matematika yang lebih baik dibandingkan wanita. Dengan kata lain nilai matematika laki-laki lebih bagus apabila dibandingkan dengan wanita. Namun, hasil penelitian di Indonesia menyebutkan bahwa nilai matematika wanita di Indonesia jauh lebih baik apabila dibandingkan dengan laki-laki. Bagaimana menjelaskannya? Apakah penelitian ini salah? Tentunya tidak. Ketika penelitian ini dilihat dari segi social kemasyarakatan, di jelaskan bahwa wanita di Indonesia memiliki tingkat disiplin, konsentrasi, dan manajemen waktu yang lebih baik dibandingkan laki-laki. Wanita di Indonesia banyak di dudukkan sebagai pekerja selain juga sebagai ibu rumah tangga dimana ia harus bangun pagi dan mengatur segalanya dengan baik. Faktor inilah (disiplin, konsentrasi, dan manajemen waktu) yang kemudian menjadi pengaruh positif bagi wanita dalam menyelesaikan permasalahan yang bersifat matematis yang kemudian menyebabkan perolehan nilai matematika mereka jauh lebih baik dari laki-laki.
Namun, sering timbul ketidak wajaran dalam sikap peneliti muda atas hal ini. Keberterimaan Ho kemudian diartikan sebagai sebuah kegagalan penelitian yang selanjutnya melakukan “manipulasi” data. Selain, mereka takut apabila nantinya akan “dibantai” dalam sidang skripsi atau tesis. Hal ini tentunya tidak harus terjadi apabila peneliti telah dibekali dengan rasa keingintahuan yang tinggi dan sikap tanggung jawab atas setiap hasil penelitian yang diperolehnya. Sebagai penutup, apabila penelitian anda tidak sesuai dengan teori, bukan berarti anda yang salah. Teori umumnya ditemukan di barat oleh orang-orang barat dengan sampel dan populasi orang-orang barat juga. Tentunya, pasti ada perbedaan dalam banyak hal apabila kemudian teori tersebut dibawa kedalam konteks orang-orang Indonesia. Anda memiliki kemampuan untuk menjelaskan itu semua.
Selamat Meneliti.

*Dosen UHAMKA Jakarta.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tulisan Lainnya:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *