04 September 2008

Kondisi Skripsi Kualitatif

Menarik sekali hasil penelitian yang dilakukan oleh Astuti (2007), yang meneliti tentang skripsi kualitatif para kandidat sarjana peserta sidang skripsi di lingkungan Fikom Unisba, periode 20-23 Agustus 2007. Ruang lingkup penelitian sendiri menyangkut: (1) tanggapan terhadap latarbelakang memilih metode kualitatif, (2) kapabilitas pengajar MPK dan dosen pembimbing dalam penguasaan metode kualitatif, (3) tingkat kesulitan mengerjakan metode kualitatif, dan (4) serta isu-isu lain yang perlu dicermati.
Berikut temuan hasil penelitiannya:

1. Faktor Alasan

Alasan dominan mengerjakan skripsi, menurut responden, adalah karena metode kualitatif memang sesuai dengan permasalahannya (83.33%). Seorang responden (5.55%) memilih metode kualitatif setelah berdiskusi dengan pembimbing dan koleganya. Sementara, dua responden lainnya (11.11%) menyatakan bahwa pemilihan metode tersebut didasari hasil pembacaan terhadap skripsi lain, yang kebetulan meneliti konsep atau gagasan yang sama.

2. Faktor Durasi

Hasil angket menunjukkan, 50% responden menyusun skripsi dalam jangka waktu yang sangat singkat untuk kategori skripsi kualitatif, yaitu kurang dari 4 bulan saja. Sementara itu, dua mahasiswa makan waktu lebih dari setahun untuk menyusun skripsinya (12.5 bulan dan 18 bulan). Masalah utamanya, menurut ybs., adalah karena tingkat kesulitan skripsinya (dengan metode interaksionisme simbolik) dan gangguan pekerjaan.

3. Sumber Pertama Mengenal Metode Kualitatif

Dosen mata kuliah metode riset (MPK) menjadi sumber pertama bagi mahasiswa dalam mengenal metode kualitatif (83.33%). Dosen mata kuliah lainnya, dosen wali, teman, dan lingkungan lain, sangat sedikit berperan.

4. Keistimewaan Metode Kualitatif.

Pilihan bahwa metode kualitatif itu istimewa karena tidak perlu menggunakan angka dan rumus hampir ada dalam setiap jawaban. Bahwa metode kualitatif dianggap istimewa karena dapat mengeksplorasi permasalahan lebih mendalam.

5. Kesulitan Metode Kualitatif

Minat menggunakan metode kualitatif dalam penelitian/skripsi, ternyata tidak ditunjang oleh sarana yang memadai. Mahasiswa mengeluhkan tidak adanya format penelitian yang baku.

6. Tentang Dosen Pembimbing

Ada kontradiktif tentang dosen pembimbing yang dinilai tidak banyak berperan sehingga menimbulkan kesulitan dalam penggarapan skripsi dengan metode kualitatif. Namun dalam indikator lain, mahasiswa justru sangat mengapresiasi peran dosen pembimbing.

7. Tentang Dosen MPK

Hanya 4 responden (22.22%) yang merasa dosen pengajar MPK sangat membantu memperkenalkan metode kualitatif! Setengah lainnya (9 responden), menganggap ‘biasa-biasa’ saja perannya. Bahkan ada jawaban ‘kurang membantu’ (22.22%) dan ‘tidak membantu’ 5.55%).

8. Tingkat kesulitan mengerjakan Skripsi Dengan Metode Kualitatif

Tingkat kesulitan responden tampaknya berbeda-beda, demikian pula bagian yang menurut responden paling sulit. Tapi membangun kerangka pemikiran dipilih paling banyak sebagai bagian skripsi yang paling sulit digarap (22.22%). Tiga responden memilih perumusan latar belakang sebagai bagian tersulit (16.67%). Dua responden tersandung pada ‘analisis’ dan ‘penyimpulan’, sisanya mengaku bagian tersulit adalah pada metodologi, pengumpulan data, dan penyusunan laporan penelitian (dalam bentuk skripsi).

9. Manfaat Meneliti Dengan Metode Kualitatif

Secara umum terbagi menjadi dua kategori: a) Manfaat metodologis. Peneliti yang mendapatkan manfaat metodologis umumnya mengaku menjadi lebih memahami seluk-beluk penelitian kualitatif baik dalam tataran praktik maupun teoritik. B) Manfaat personal. Manfaat personal umumnya tertuju pada pengalaman yang diperoleh pengembangan pribadi.

Terakhir, penelitian ini ingin mengetahui apakah metode kualitatif memang layak untuk terus diajarkan, dan perlu diberi tambahan porsi waktu. Hasilnya 100 persen menjawab perlu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tulisan Lainnya:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *