08 September 2009

PERUMUSAN MASALAH DAN PENENTUAN METODE PENELITIAN


Salah satu komponen yang sangat penting dan menentukan kualitas sebuah penelitian ilmiah adalah rumusan masalah. Dalam hal ini yang dimaksud masalah adalah masalah ilmiah penelitian (scientific research problems). Masalah penelitian inilah yang akan dipecahkan atau dicarikan solusinya melalui suatu proses penelitian ilmiah.

Berbeda dengan rumusan-rumusan masalah pada umumnya, seperti laporan-laporan proyek, dalam penelitian ilmiah dituntut untuk memenuhi beberapa kriteria, antara lain masalah dirumuskan dengan kalimat tanya, sebaiknya hindari kata tanya “sejauh manakah” atau “seberapa besarkah”, dsb. Kriteria lain adalah setiap rumusan masalah minimal terdapat dua faktor atau variabel yang dihubungkan atau dibedakan, dan terakhir adalah variabel-variabel tersebut harus dapat diukur dan di-manage (measurable and managable).

Agar dapat diukur maka variabel-variabel tersebut harus konseptual, artinya variabel tersebut harus didukung oleh teori-teori sehingga akan lebih mudah mengukurnya karena indikator-indikatornya jelas dideskripsikan dalam teori-teori yang relevan. Variabel dapat di-manage artinya data dengan mudah dapat dikumpulkan dan tersedianya atau bersedianya responden sebagai unit analisis untuk mengisi instrumen penelitian.

Hal lain yang perlu diperhatikan peneliti adalah dalam menentukan atau memilih variabel. Berdasarkan namanya, variabel memiliki ciri harus bervariasi. Insentif disuatu perusahaan atau institusi untuk golongan yang sama bukan variabel, tetapi fakta karena besarnya sama untuk golongan atau jenjang (level of job) yang sama. Kinerja (performances) adalah variabel karena setiap orang memiliki level of perfomances yang berbeda, demikian juga motivasi kerja atau kepuasan kerja, jelas dapat dipakai sebagai variabel karena tiap orang memiliki variabel tersebut yang bervariasi.

Namun ada juga peneliti kadang keliru menyebut misalnya kebijakan sebagai variabel sebab kebijakan disuatu perusahaan atau lembaga tidak akan dan tidak pernah bervariasi. Jadi dalam hal ini para peneliti harus secara logis menentukan berkaitan dengan apa yang hendak diukur terhadap kata kebijakan tersebut atau apa yang bervariasi terhadap kebijakan itu, seperti mungkin persepsi karyawan terhadap kebijakan atau penilaian atau pemahaman karyawan, jadi dalam hal ini yang bervariasi tentu persepsinya, penilaiannya atau pemahamannya terhadap kebijakan tersebut.

Oleh karena itu, apabila ditanya apa variabelnya maka jawabannya adalah persepsi atau pemahaman, sehingga peneliti dituntut untuk mencari teori-teori tentang persepsi atau pemahaman terhadap kebijakan. Jadi variabelnya bukan kebijakan, karena kebijakan tidak bervariasi. Faktor the naming variable sangat mempengaruhi peneliti dalam menentukan teori-teori yang akan diterapkan dalam sebuah karya ilmiah baik itu skripsi, tesis bahkan disertasi. Demikian juga contoh-contoh lain seperti budaya organisasi, iklim organisasi, konpensasi, rekrutmen, gaji, pemberdayaan, dsb.

Dalam penelitian ilmiah, variabel pada umumnya ada dua yaitu variabel bebas (independent variable) yang dapat mempengaruhi atau lebih dulu terjadi terhadap variabel lain yang disebut variabel terikat (dependent variable). Variabel terikat inilah yang menentukan the main topic seorang peneliti yang mencerminkan spesialisasinya.

Berdasarkan pengalaman membimbing mahasiswa, khususnya mahasiswa program doktor, banyak ditemukan adanya ketidakkonsistenan antara rumusan masalah dengan penentuan metode penelitian. Sebagai contoh, bagaimanakah hubungan antara motivasi kerja dengan produktivitas kerja karyawan? Ternyata metode yang dipilih peneliti survei dengan analisis regresi korelasi, jadi jenis penelitiannya kuantitatif padahal penelitian merumuskan masalah menggunakan kata tanya bagaimanakah yang mencerminkan adanya suatu proses yang ingin dipecahkan peneliti. Dalam hal ini jenis penelitian yang tepat adalah kualitatif.

Apabila kata tanya bagaimanakah diganti dengan apakah sehingga menjadi apakah terdapat hubungan antara motivasi kerja dengan produktivitas kerja karyawan, maka jenis penelitiannya kuantitatif dengan metode survei dan analisisnya regresi korelasi yang bersifat non kausal.
Contoh lain sebagai berikut:
1. Bagaimanakah mengembangkan model instruksional dalam rangka meningkatkan pemahaman konsep-konsep matematika untuk anak SD kelas IV? Jenis penelitian ini dapat berupa developmental research atau R and D yang dilanjutkan dengan pengujian keefektifan model yang telah dikembangkan tersebut melalui eksperimen.

2. Bagaimanakah cultural cohesiveness dapat mempengaruhi dalam proses pengambilan keputusan di institusi X? Jenis penelitian yang dipilih adalah kualitatif dengan langkah-langkah yang lengkap termasuk triangulasi dengan menekankan pada observasi yang unobtrusive, sampai ditemukan sesuatu yang unique. Tanpa uniqeness dan observasi terhadap proses maka penelitian kualitatif hanya sebuah ilusi.

3. Apakah komitmen berpengaruh langsung terhadap efektivitas organisasi? Contoh ini berkaitan dengan studi kausal non eksperimen dengan jenis penelitian kuantitatif, metode survei dengan analisis jalur (path analysis) untuk menguji model. 

4. Apakah terdapat perbedaan hasil belajar genetika antara yang diajar dengan alat peraga dan siswa lain yang diajar dengan ceramah, apabila motivasi belajar siswa dikontrol? Masalah seperti ini harus dipecahkan melalui penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen. Apabila the main effect memiliki dua level demikian juga simple effect dengan dua level, maka disain ekespeimennya adalah 2 x 2 factorial. Eksperimen yang dipilih karena variabel bebasnya dapat dimanipulasi menjadi beberapa level, sehingga memungkinkan peneliti melakukan treatment. Analisnya menggunakan ANOVA two way.


Masalah Penelitian

Seperti diketahui bersama bahwa penelitian adalah merupakan bagian dari pemecahan masalah. Lalu apa sebenarnya masalah penelitian itu? Menurut Notoatmodjo (2002) masalah penelitian secara umum dapat diartikan sebagi suatu kesenjangan (gap) antara yang seharusnya dengan apa yang terjadi tentang sesuatu hal, atau antara kenyataan yang ada atau terjadi dengan yang seharusnya ada atau terjadi serta antara harapan dan kenyataan. 

Pengertian serupa juga dikemukakan oleh Danim (2003) yang menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan masalah penelitian keperawatan adalah suatu kesenjangan atau diskongruensi antara kenyataan dan harapan. Notoatmodjo (2002) menyebutkan bahwa pada hakikatnya masalah penelitian kesehatan adalah segala bentuk pertanyaan yang perlu dicari jawabannya, atau segala bentuk rintangan dan hambatan atau kesulitan yang muncul .

Meskipun masalah penelitian itu selalu ada dan banyak, menurut Notoatmodjo (2002) belum tentu mudah mengangkatnya sebagai masalah penelitian, diperlukan kepekaan terhadap masalah penelitian. Kepekaan ini dipengaruhi oleh minat dan pengetahuan atau keahlian. Minat dan pengetahuan atau keahlian itu dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain :

1. Profesi
Profesi atau bidang pekerjaan seseorang dapat menjadi sumber minat untuk melakukan penelitian. Semakin sering seseorang terpapar dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan profesinya, akan semakin mendorong orang tersebut berminat untuk menyelesaikannya.

2. Spesialisasi
Keahlian khusus seseorang akan menyebabkan orang tersebut lebih peka tehadap masalah yang berkaitan dengan keahliannya. 

3. Akademis
Seseorang yang telah mengalami program pendidikan yang lebih tinggi, biasanya telah mendalami tentang salah satu disiplin ilmu pengetahuan. Dengan penguasaan ilmu ini, orang tersebut cenderung lebih peka mengenali masalah dalam bidang keahliannya.

4. Kebutuhan dan Praktik Kehidupan Sehari-hari
Seseorang yang cenderung menaruh perhatian akan kebutuhan dan praktik kehidupan sehari-hari akan lebih peka terhadap masalah yang muncul.

5. Pengalaman Lapangan
Seseorang yang mempunyai banyak pengalaman lapangan akan menambah kepekaannya terhadap masalah di bidangnya.

6. Bahan Bacaan atau Kepustakaan
Membaca dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berpikir seseorang, sehingga wawasannya akan semakin luas dan semakin mampu menggunakan penalaran dan pola berpikir kritisnya semakin berkembang. Dengan berpikir kritis ini, selanjutnya akan meningkatkan kepekaan seseorang terhadap masalah.

MEMILIH MASALAH PENELITIAN
Hal yang penting dijadikan pegangan dalam memilih masalah penelitian ini adalah bahwa keputusan dan penentuan terakhir adalah terletak pada peneliti itu sendiri. Sebelum memilih masalah, terlebih dahulu peneliti harus menentukan topik penelitian.

Untuk menentukan topik penelitian Narbuko dan Achmadi (2002) menyampaikan bahwa sebelum menentukan topik penelitian, seorang peneliti harus terlebih dahulu menanyakan pada diri sendiri tentang beberapa pertanyaan berikut :
“Apakah topik tersebut dapat dijangkaunya/ dikuasainya (manageble topic)?”
“Apakah bahan-bahan/ data-data tersedia dengan cukup (obtainable data)?”
“Apakah topik tersebut penting untuk diteliti (significancy of topic)?”
“Apakah topik tersebut menarik untuk diteliti dan dikaji (interested topic)?”
Setelah topik ditentukan selanjutnya peneliti harus memilih masalah penelitian yang sesuai dengan topik tersebut. Pertimbangan dalam memilih masalah penelitian agar masalah yang dipilih layak dan relevan untuk diteliti diungkapkan oleh Notoatmodjo (2002), meliputi :
  1. Masalah masih baru. “Baru” dalam hal ini adalah masalah tersebut belum pernah diungkap atau diteliti oleh orang lain dan topik masih hangat di masyarakat, sehingga agar tidak sia-sia usaha yang dilakukan, sebelum menentukan masalah, peneliti harus banyak membaca dari jurnal-jurnal penelitian maupun media elektronik tentang penelitian terkini.
  2. Aktual. Aktual berarti masalah yang diteliti tersebut benar-benar terjadi di masyarakat. Sebagai contoh, ketika seorang dosen keperawatan akan meneliti tentang masalah gangguan konsep diri pada pasien yang telah mengalami hemodialise berulang, maka sebelumnya peneliti tersebut harus melakukan survey dan memang menemukan masalah tersebut, meskipun tidak pada semua pasien.
  3. Praktis. Masalah penelitian yang diteliti harus mempunyai nilai praktis, artinya hasil penelitian harus bermanfaat terhadap kegiatan praktis, bukan suatu pemborosan atau penghamburan sumber daya tanpa manfaat praktis yang bermakna.
  4. Memadai. Masalah penelitian harus dibatasi ruang lingkupnya, tidak terlalu luas, tetapi juga tidak terlalu sempit. Masalah yang terlalu luas akan memberikan hasil yang kurang jelas dan menghamburkan sumber daya, sebaliknya masalah penelitian yang terlalu sempit akan memberikan hasil yang kurang berbobot.
  5. Sesuai dengan kemampuan peneliti. Seseorang yang akan melakukan penelitian harus mempunyai kemampuan penelitian dan kemampuan di bidang yang akan diteliti, jika tidak, hasil penelitiannya kurang dapat dipertanggungjawabkan dari segi ilmiah (akademis) maupun praktis
  6. Sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah. Masalah-masalah yang bertentangan dengan kebijaksanaan pemerintah, undang-undang ataupun adat istiadat sebaiknya tidak diteliti, karena akan banyak menemukan hambatan dalam pelaksanaan penelitiannya nanti.
  7. Ada yang mendukung, Setiap penelitian membutuhkan biaya, sehingga sejak awal sudah dipertimbangkan darimana asal biaya tersebut akan diperoleh. Tidak jarang masalah-masalah penelitian yang menarik akan mendapatkan sponsor dari instansi-instansi pendukung, baik pemerintah maupun swasta.
Berdasarkan beberapa pertimbangan tersebut, sebelum melakukan pemilihan masalah penelitian, maka peneliti harus menjawab beberapa pertanyaan berikut agar masalah yang diteliti layak dan relevan (Notoatmodjo, 2002):
  1. Apakah masalah yang akan diteliti merupakan masalah yang sedang hangat di dalam masyarakat saat ini?
  2. Apakah masalah tersebut benar-benar aada di dalam masyarakat?
  3.  Sejauh mana masalah tersebut dirasakan? Apakah penduduk atau masyarakat merasakan masalah tersebut?
  4. Apakah masalah tersebut mempengaruhi kelompom tertentu, misalnya ibu hamil, bayi, atau anak balita?
  5. Apakah masalah tersebut berhubungan dengan masalah sosial, kesehatan ataau ekonomi yang luas?
  6. Apakah masalah tersebut berhubungan dengaan kativitas program yang sedang berjalan?
  7. Siapa lagi yang tertarik atau terlibat dalam masalah tersebut?
Dengan beberapa pertimbangan dan pertanyaan tersebut, diharapkan akan dapat dirumuskan masalah penelitian yang layak dan relevan, sehingga masalah penelitian memberikan manfaat, baik secara teoritis maupun aplikatif.

SUMBER MASALAH PENELITIAN 
Menurut Turney dan Noble (1971, dalam Danim, 2003) sumber masalah penelitian empiris dapat berasal dari
1. Pengalaman pribadi
2. Keterangan yang diperoleh secara kebetulan
3. Kerja dan kontak profesional
4. Pengujian dan pengembangan teori yang ada
5. Analisis literatur profesional dan hasil-hasil penelitian sebelumnya.

Telah disebutkan sebelum Bagian ini bahwa titik awal suatu kegiatan penelitian adalah upaya membuat rumusan masalah penelitian. Rumusan masalah penelitian bisa dibuat oleh seorang peneliti melalui beberapa kemungkinan latar belakang yang dibuat :

(1) Setelah menyadari adanya suatu permasalahan kehidupan yang sedang dihadapi manusia atau masyarakatnya. Masalah kehidupan yang sedang hangat dibicarakan dalam buku ini disebut ”topik masalah” Topik masalah inilah yang menyadarkan seorang pemikir untuk berperan memecahkan sejumlah rumusan masalah penelitian yang terkait dengan topik masalah itu tadi.

(2) Setalah menyadari potensi permasalahan di masa datang setidaknya menurut pandangan dan pertimbangan teoritis dari suatu bidang keilmuan. Potensi permasalahan itu perlu diantisipasi pemecahannya. Sehubungan dengan itu diperlukan penelitian terhadap butir-butir permasalahan yang secara khusus telah dirumuskan.

Dari suatu topik masalah penelitian dapat dirumuskan satu atau lebih butir masalah penelitian. Ada lima tipe topik masalah penelitian yang dapat digarap oleh seorang peneliti. Mahasiswa S1 dianjurkan memilih masalah tipe 1 atau 2 pada tabel dibawah ini :

Tipe Alasan mengapa dipermasalahkan

Tipe 1 Keperluan mendeteksi penyebab terjadinya suatu fenomena yang merugikan atau menguntungkan agar gejala dan akibat lanjutannya dapat diatasi atau dipacu

Tipe 2 Keperluan Memperbaiki kesalahan kebijaksanaan peruahaan (pemerintah) yang tengah berjalan agar kelemahan-kelemahan yang ada dapat diatasi

Tipe 3 Keperluan meramalkan akibat positif dan negatif dari suatu kebijaksanaan baru, langkah dini dapat diarahkan untuk menaikkan yang positif dan menihilkan yang negatif.

Tipe 4 Keperluan mengkuantitatifkan strategi kebijakan yang masih konsepsional sehingga dapat menjadi operasional.

Tipe5 Keperluan membuat pendekatan baru atau alternatif guna meningkatkan ketelitian pengukuran mengenai cara pengukuran yang telah dirumuskan oleh teori lain atau peneliti sebelumnya

Dari suatu topik yang menarik untuk diteliti diperlukan langkah merumuskan masalah. Adapun langkah untuk merumuskan masalahan penelitian dapat menggunakan satu atau dua dari teknik berikut :
(1) Teknik pengenalan Beda Garis Fenomena Ideal terhadap Garis Fenomena Nyata (teknik BEGFI-GAFETA)
(2) Teknik pengenalan Efek Benturan Dua Arus Fenomena Berlawanan Arah (Teknik EBDA-FENOBA)

Dalam memilih rumusan masalah penelitian yang akan dijadikan awal penelitian, maka perlu diperhatikan ketentuan sebagai berikut ; Ciri-ciri pernyataan Masalah Penelitian yang baik

1) Masalah yang dipilih harus mempunya nilai penelitian
a. Masalah harus mempunyai keaslian
b. Masalah harus menyatakan suatu hubungan
c. Masalah harus merupakan hal yang penting
d. Masalah harus dapat di uji
e. Masalah harus mencerminkan suatu pertanyaan

2) Masalah yang dipilih dengan bijak, artinya :
a. Data serta metode untuk memecahkan masalah harus tersedia
b. Biaya untuk memecahkan masalah, secara relatif harus dalam batas-batas kemampuan
c. Waktu memecahkan masalah harus wajar
d. Biaya dan hasil harus seimbang
e. Administrasi dan sponsor harus kuat
f. Tidak bertentangan dengan hukum dan adat

3) Masalah dipilih dengan kualifikasi peneliti
a. Menarik bagi peneliti
b. Masalah harus sesuai dengan kualifikasi peneliti
Seorang mahasiswa harus bersungguh-sungguh dalam upaya mengidentifikasi dan merumuskan ”masalah penelitian”. Upaya membuat skripsi atau tesis untuk gelar kesarjanaannya, tak lain mempraktekkan kegiatan penelitian secara mandiri. Ketika itu dia bertindak sebagai peneliti pemula dan ia sebenarnya sedang digodok menjadi seorang ”Problem solver” (pemecah masalah kehidupan) yang efektif.

Manfaat Penelitian Skripsi Mahasiswa yang Terbimbing Baik

1) Bagi Lembaga
 Orisinilitas karya tulis sarjana yang ditelurkan lebih terjamin dan lebih terasakan
 Mutu Sarjana yang diluluskan lebih tinggi dan handal
 Kegiatan akademik di Kampus akan lebih hidup dan berbobot

2) Bagi Mahasiswa
 Mendapat pengalaman meneliti yang berharga
 Mendapat pembinaan diri menuju pribadi berkualitas
 Mempersembahkan hasil karya yang dapat membanggakan

3) Bagi Dosen Pembimbing
 Menambah penalaran ilmu khususnya pengetahuan terapan
 Menambah khasanah data dan informasi yang terpercaya
 Menambah tajam wawasan keilmuan dan prestasi akademik

26 Agustus 2009

KENAPA MENUNDA SKRIPSI ANDA?


Sebab saya pun adalah orang yang senang menunda-nunda pekerjaan. Seringkali saya baru akan memulai mengerjakan tugas diakhir batas tenggat waktu. Sebab rasa-rasanya saya baru dapat berpikir jernih ketika under preasure mengejar deadline. Memang sepertinya tidak ada masalah dengan menunda-nunda sebab toh pada akhirnya tugas selesai juga.Banyak orang yang sering menunda-nunda rencananya. 

Dan banyak alasan bisa melatarbelakanginya, baik itu menunggu saat yang tepat, atau merasa kurang mantap. Namun procrastination atau menunda-nunda adalah salah satu gejala yang cenderung merugikan. Kadang-kadang menunda-nunda sesuatu itu dapat menjadi hal yang positif. Sebab sesuatu yang akan berakibat buruk menjadi tertunda pula.

Sebagai contoh: saya mencintai seorang perempuan yg sangat saya kagumi, akan tetapi rasa-rasanya saya tidak dapat berbuat apa-apasebagai berikut jika saya menyampaikannya bahwa saya sayang dia mungkin dia akan menjawab: maaf saya telah punya pacar! AAA TIIDAAAK! Lebih baik saya tunda-tunda sampai situasi aman dan terkendali istilah ABRI-nyamah. Tetapi tidak semua penundaan membawa maslahat malah seringkali banyak mudharatnya.

Akan tetapi mengapa manusia sering menunda-nunda sesuatu?
Mari kita lihat pendapat psikolog Dr. Lenora M. Yuen, dari California University.

Perfeksionis
Pefeksionis adalah salah-satu penyebab utama penundaan, yaitu sikap yang disebabkan oleh pikiran yang tidak realistis. Dosen saya bercerita tentang seorang mahasiswa yang belum juga menyelesaikan sekripsinya selama 1 tahun. “Padahal dia itu telah mempunyai segudang catatan, tetapi itu tidak akan membuatnya lebih baik,” sebab menurut dosen saya. “Itu terlalu banyak, lebih dari yang dia butuhkan.”

Takut Salah
Penundaan sering kali datang dari ketakutan, lebih tepatnya rasa takut salah. Orang yang seperti ini tidak akan pernah mengetahui kemampuan mereka yang sesungguhnya karena sifatnya yang sering menunda-nunda sesuatu.

Cepat Frustasi
Setiap manusia pada umumnya dapat memahami betapa menyenangkannya dapat menyelesaikan tugas. Tetapi memikirkan pekerjaan bisa sangat tidak tertahankan. Sehingga berakhir tanpa tindakan dan malah Frustasi.

Pemarah
Beberapa orang seringkali menunda-nunda sesuatu ketika mereka marah kepada orang lain (atau lembaga yang bersangkutan). Orang sering marah apabila memilki terlalu banyak hal yang harus dikerjakan, sehingga menunda-nunda adalah jalan untuk mengatakan, “Ini terlalu banyak.”

Tidak Dapat Mengatakan Tidak
Ketika teman mengatakan “Main yu?” maka seorang procrastinatior cenderung untuk tdk bisa mengetakan tidak. Atau mereka mengalami kesulitan untuk mengatakan: “Jika saya main nanti skripsi saya tertunda…” (Oh no. belagu bgt.)

Lebih Senang Bekerja Dalam Tekanan
Orang seperti ini biasanya mengaku akan lebih baik bekerja di dalam tekanan, atau mereka lebih menyukai saat-saat akhir. Namun hal ini bisa manjadikan banyak masalah. (Efek dari interaksi kita dengan orang lain)

Tidak Memiliki Batas Waktu
Ketika kita berkerja tanpa batas waktu, kita bisa mengatakan pada diri kita sendiri “Nanti ajalah dipikir dulu caranya.” Maka mungkin kita tidak akan pernah dapat menyelesaikannya dengan cara hanya memikirkannya.

Memiliki Hal Kecil yang Harus Dilakukan
Hal-hal kecil merupakan penyebab banyaknya penundaan. Hal itu membuat kita sulit bekerja.

Maka apa yang harus dilakukan?

Mengindentifikasi Masalah
Jika Anda seorang procrastinator atau takut akan salah. Maka temukanlah pola kenapa Anda menunda-nunda suatu pekerjaan. Sehingga Anda dapat mengungkap pekerjaan apa yang selalu Anda tunda. Atau memerlukan keterampilan baru (penguasaan materi) guna terbebas dari rasa takut. Atau Anda dapat tidak mengambil pekerjaan yang dapat membuat Anda marah jika mengerjakannya. (Tapi skripasimah wajib!)

Membuat Komitmen
Buatlah komitmen untuk berubah. (Siap. Grak.)

Atur Waktu Memulai
Jika kebanyakan orang menandai batas akhir waktu skripsi. Maka bagi seorang procrastinator menjadwalkan waktu untuk memulai sesuatu sangatlah penting. Hal ini berguna untuk mengetahui lama (atau pendeknya) waktu yang diperlukan untuk menyusun skripsi. Agar tdk berlarut-larut. (Sip lah!)

Menjadwalkan Batas Akhir Kerja
Buatlah potongan ditengah jadwal yang panjang dlm menyelesaikan tugas Anda, misal: enam bulan untuk menyelesaikan skripsi Anda; satu hari khusus untuk main PS! (Yes.)

Mengatur Jadwal
Atur secara teliti berapa waktu yang diperlukan setiap harinya untuk mengerjakan skripsi. Tuliskan janji di kalendar Anda. Lakukan apa yang telah Anda janjikan guna memberikan rasa berhasil terhadap Anda.

Hentikan Pekerjaan Besar Guna Melakukan Hal Kecil
Jika tujuan Anda menyusun sebuah skripsi, maka jangan berfikir harus menyelesaikan 200 halaman, akan tetapi paragraf demi paragraf, satu kata setiap kali.

Berpikir Terlebih Dahulu
Jika Anda memiliki prioritas hal penting dan hal sepele untuk dikerjakan. Maka kerjakanlah hal-hal yang dianggap sepele terlebih dahulu, guna selanjutnya hanya mengerjakan hal yang penting dan mengesampingkan yang sepele. Save file skripsi Anda jika terasa lelah, atau matikan komputer, atau diamlah jika jika tidak ada hal yang lebih baik untuk dikerjakan.

Kerjakan Hal yang Terburuk Terlebih Dahulu
Buatlah jadwal mingguan pertama Anda untuk mengerjakan hal yang paling dibenci oleh Anda. Sehingga akan terlihat lebih mudah selanjutnya. (Siap grak!)

Perbaiki Lingkungan Anda
Buatlah sesuatu yang membosankan terasa lebih menyenangkan. Misalanya dengan memutar musik atau mengundang teman untuk berdiskusi dan berkerjasama. Musik dan percakapan dapat membantu memudahkan pekerjaan Anda, namun demikian akan sedikit memperlambat kinarja Anda. Atau pergilah ke tempat yang sunyi.

Berikan Diri Anda Hadiah
Berikan diri Anda hadiah bagaimanapun jalannya. Si Unyil mengaku hanya karena ia akan menghadiahi dirinya sendiri ia dapat menyelesaikan skripsi sarjananya dengan makanan favoritnya setiap kali ia menyelesaikan beberapa paragraf. (Yes lintuh atuh uy!)

Berkelompok dan Minta Dukungan Teman
Beritahu teman-temanmu apa yang menjadi tujuanmu. Hal ini akan menjadi tekanan yang positif dan dengan berkelompok Anda mungkin akan mendapat bantuan.

Menjaga dan Mencatat Setiap Saat yang Tepat
Catat berapa banyak waktu yang dihabiskan selama Anda melakukan penundaan, berapa banyak Anda menelepon, berapa kali Anda duduk di pertemuan. Dengan demikian Anda dapat melihat berapa banyak waktu yang telah Anda habiskan untuk hal-hal yang kurang berguna.
Buatlah permainan guna mengalahkan sifat menunda-nunda. Biasakan diri Anda untuk tidak hanya memandang hasil akhir tetapi lebih pada sebuah proses keberhasilan kecil yang berturut-turut. Ini adalah ringkasan guna menolong Anda untuk mengalahkan sifat menunda-nunda:
1. Menyatakan tujuan.
2. Atur waktu yang rasional untuk menyelesaikannya.
3. Beri tanda deadline di jadwal Anda.
4. Temukan seseorang yang dapat memberikanmu saran dan motifasi.
5. Berjanjilah pada diri sendiri untuk memberikan hadiah setiap kali Anda menyelesaikan tiap bagian selama proses pengerjaan.

Maka kapan Anda akan memulai skripsi?

SKALA PENGUKURAN

Ada empat tipe skala pengukuran dalam penelitian, yaitu nominal, ordinal, interval dan ratio.

A. Nominal
Skala pengukuran nominal digunakan untuk mengklasifikasikan obyek, individual atau kelompok; sebagai contoh mengklasifikasi jenis kelamin, agama, pekerjaan, dan area geografis. Dalam mengidentifikasi hal-hal di atas digunakan angka-angka sebagai symbol. Apabila kita menggunakan skala pengukuran nominal, maka statistik non-parametrik digunakan untuk menganalisa datanya. Hasil analisa dipresentasikan dalam bentuk persentase. Sebagai contoh kita mengklaisfikasi variable jenis kelamin menjadi sebagai berikut: laki-laki kita beri simbol angka 1 dan wanita angka 2. Kita tidak dapat melakukan operasi arimatika dengan angka-angka tersebut, karena angka-angka tersebut hanya menunjukkan keberadaan atau ketidakadanya karaktersitik tertentu.

Contoh:
Jawaban pertanyaan berupa dua pilihan “ya” dan “tidak” yang bersifat kategorikal dapat diberi symbol angka-angka sebagai berikut: jawaban “ya” diberi angka 1 dan tidak diberi angka 2.

B. Ordinal
Skala pengukuran ordinal memberikan informasi tentang jumlah relatif karakteristik berbeda yang dimiliki oleh obyek atau individu tertentu. Tingkat pengukuran ini mempunyai informasi skala nominal ditambah dengan sarana peringkat relatif tertentu yang memberikan informasi apakah suatu obyek memiliki karakteristik yang lebih atau kurang tetapi bukan berapa banyak kekurangan dan kelebihannya.

Contoh:
Jawaban pertanyaan berupa peringkat misalnya: sangat tidak setuju, tidak setuju, netral, setuju dan sangat setuju dapat diberi symbol angka 1, 2,3,4 dan 5. Angka-angka ini hanya merupakan simbol peringkat, tidak mengekspresikan jumlah.

C. Interval
Skala interval mempunyai karakteristik seperti yang dimiliki oleh skala nominal dan ordinal dengan ditambah karakteristik lain, yaitu berupa adanya interval yang tetap. Dengan demikian peneliti dapat melihat besarnya perbedaan karaktersitik antara satu individu atau obyek dengan lainnya. Skala pengukuran interval benar-benar merupakan angka. Angka-angka yang digunakan dapat dipergunakan dapat dilakukan operasi aritmatika, misalnya dijumlahkan atau dikalikan. Untuk melakukan analisa, skala pengukuran ini menggunakan statistik parametric.
Contoh:
Jawaban pertanyaan menyangkut frekuensi dalam pertanyaan, misalnya: Berapa kali Anda melakukan kunjungan ke Jakarta dalam satu bulan? Jawaban: 1 kali, 3 kali, dan 5 kali. Maka angka-angka 1,3, dan 5 merupakan angka sebenarnya dengan menggunakan interval 2.

D. Ratio
Skala pengukuran ratio mempunyai semua karakteristik yang dipunyai oleh skala nominal, ordinal dan interval dengan kelebihan skala ini mempunyai nilai 0 (nol) empiris absolut. Nilai absoult nol tersebut terjadi pada saat ketidakhadirannya suatu karakteristik yang sedang diukur. Pengukuran ratio biasanya dalam bentuk perbandingan antara satu individu atau obyek tertentu dengan lainnya.

Contoh:
Berat Sari 35 Kg sedang berat Maya 70 Kg. Maka berat Sari dibanding dengan berat Maya sama dengan 1 dibanding 2.

E. Validitas
Suatu skala pengukuran dikatakan valid apabila skala tersebut digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Misalnya skala nominal yang bersifat non-parametrik digunakan untuk mengukur variabel nominal bukan untuk mengukur variabel interval yang bersifat parametrik. Ada 3 (tiga) tipe validitas pengukuran yang harus diketahui, yaitu:

a. Validitas Isi (Content Validity)
Validitas isi menyangkut tingkatan dimana item-item skala yang mencerminkan domain konsep yang sedang diteliti. Suatu domain konsep tertentu tidak dapat begitu saja dihitung semua dimensinya karena domain tersebut kadang mempunyai atribut yang banyak atau bersifat multidimensional.

b. Validitas Kosntruk (Construct Validity)
Validitas konstruk berkaitan dengan tingkatan dimana skala mencerminkan dan berperan sebagai konsep yang sedang diukur. Dua aspek pokok dalam validitas konstruk ialah secara alamiah bersifat teoritis dan statistik.

c. Validitas Kriteria (Criterion Validity)
Validitas kriteria menyangkut masalah tingkatan dimana skala yang sedang digunakan mampu memprediksi suatu variable yang dirancang sebagai kriteria.

F. Reliabilitas
Reliabilitas menunjuk pada adanya konsistensi dan stabilitas nilai hasil skala pengukuran tertentu. Reliabilitas berkonsentrasi pada masalah akurasi pengukuran dan hasilnya.

SCHEDUL PENULISAN PROPOSAL SKRIPSI


#1“Printer yang jebol gara-gara ngeprint terlalu banyak, hardisk yang ikut-ikutan jebol, sulit ketemu dosen, dicorat-coret dan dikasih catatan disana-sini hingga ditolak bimbingan sampai 2 bulan tanpa alasan.”

Sering kali dirasakan setiap mahasiswa yang lagi menyusun skripsi.
#2 “Menulis skripsi itu mudah. Betul sekali jika ada yang memiliki pendapat itu. Mengapa mudah? Karena prinsip tulis menulis karya ilmiah relatif sama dengan prinsip ketika kita belajar mengarang di SD. Hanya saja penulisan skripsi menuntut persyaratan keakuratan dan pengolahan data yang relatif ketat, di mana untuk memenuhinya…sang mahasiswa dituntut untuk rajin browsing dan belajar baik dari perpustakaan, internet, atau sumber lain. Selain itu, secara teknis tidak ada masalah lain.”

Ada juga yang berani bilang seperti itu…
Na sekarang kita ikuti yang kedua supaya tidak yang terjadi pengalaman seperti yang pertama. Saran saya hendaknya penulis menggunakan jadwal penulisan proposal/skripsi. Sangat baik jika jadwal tersebut juga diberikan kepada dosen pembimbing, dengan begitu akan sama-sama tahu dan akan mengondisikan semua kegiatan berlangsung dengan baik dan lancar.
Di bawah ini contoh jadwal proposal. Silahkan dimodifikasi sendiri sesuai dengan selera.

RENCANA KERJA PENULISAN PROPOSAL SKRIPSI

Bulan
Minggu ke
Kegiatan yang dikerjakan
Realisasi
I
Menentukan topik
II
Menentukan topik
III
Konsultasi topik
IV
Revisi topik dan penulisan latar belakang
I
Merumuskan masalah dan tujuan penelitian
II
Merumuskan Hipotesis (jika ada)
Merumuskan Manfaat penelitian teoritis;
praktis
III
Konsultasi Hipotesis (jika ada) dan Manfaat penelitian teoritis dan praktis
IV
Menulis Asumsi Penelitian (jika diperlukan);
Menulis Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian; dan Definisi Istilah atau Definisi Operasional (jika diperlukan)
I
Konsultasi Asumsi Penelitian, Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian; dan Definisi Istilah atau Definisi Operasional
II
Merancang kepustakaan
Merumuskan Metodologi penelitian
III
Konsultasi kepustakaan dan Metodologi penelitian
IV
Menulis pustaka acuan
I
Draf proposal siap diseminarkan
II
Seminar Proposal
III
Merevisi proposal
IV
proposal yang telah direvisi siap ditindaklanjuti

Tulisan Lainnya:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *