13 September 2015

RESENSI BUKU



Judul buku : Sekolah Saja Tidak Pernah Cukup
Penerbit      : PT. Gramedia Pustaka Utama
Penulis       : Andrias Harefa
Halaman     : xi + 177
Kategori     : perilaku manusia pembelajar.

Semua orang ingin berubah. Ya, kita tentu sangat setuju dengan pernyataan tersebut. Tetapi kita juga tahu bahwa tak banyak orang yang bisa melakukannya, apalagi menyelesaikannya. Selain banyak yang tidak bisa melihat kesempatan itu, sebagian besar lainnya justru tidak bergerak. Jika pun bergerak tetapi gagal menyelesaikan misi mulia itu. Sehingga perubahan itu tak kunjung terjadi.

Menurut versi majalah dan lembaga survei di amerika orang-orang terkaya di dunia  dijadikan tolak ukur untuk membedakan antara mereka (winners?) dengan para pecundang (losers). Tetapi untuk menjadi kaya raya dan sukses dalam bisnis, orang tidak perlu harus memiliki gelar akademis.

Tanpa keberanian dan kemampuan untuk menerobos pola pikir dan kebiasaan universitas, orang tidak dimungkinkan untuk mencapai prestasi puncak seperti yang dicapai oleh orang-orang yang sukses tanpa gelar akademis.paling-paling ia akan menjadi bagian dari kelas menengah yang mungkin cukup mapan, tetai belum mencapai puncak prestasi (peak performance).

Sesungguhnya menjadi kaya dan sukses dalam berbisnis, pertama-tama memang tidak ditentukan oleh ada atau tidak adanya gelar kesarjanaan, tetapi lebih ditentukan oleh faktor-faktor lain. Dan orang-orang yang kaya raya selalu mendemontrasikan hal-hal seperti:

Pertama, ide, keyakinan dan visi kuat mengenai masa depan masyarakat dunia dan bagaimana menangguk keuntungan dari semua hal itu; kedua, mereka mamiliki sensitivitas terhadap kebutuhan pasar; ketiga, mereka sangat kreatif untuk menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar; keempat, mereka mengambangkan keberanian untuk mengambil risiko dalam usia muda (risk-taker); kelima, mereka memiliki kebiasaan bekerja keras, yang bafi mereka justru menyenangkan karena pilihan kerja mereka bertalian erat dengan minat dan bakat  atau talenta pribadi; keenam, mereka memiliki toleransi terhadap kegagalan dan tidak menganggapnya sebagai hal yang “haram” atau “najis”, tetapi justru perlu untuk dapat sungguh-sungguh berhasil; ketujuh, mereka pantang menyerah dan mendemontrasikan ketekunan bekerja yang luar biasa; dan seterusnya. Itulah beberapa paktor yang lebih dominan daripada atribut tempelan yang diberikan universitas ( gelar akademis ).

Para agen dan perintis perubahan adalah orang-orang yang selalu menerobos batas-batas konvensional karena dipandu oleh keyakinan, visi dan misi hidup mereka yang relatif jelas. Mereka adalah pengambil risiko yang suka ‘menjemput’ tantangan karena merasa tahu dan yakin dapat meminimalisasi risiko-risiko tersebut  ( bukan gambler yang lebih banyak mengandalkan peruntungan, hoki, atau nasib baik semata).
Sudah waktunya, juga di indonesia, visi, misi, dan strategi pendidikan ditata ulang dengan secara seksama memeriksa asumsi-asumsi yang selama ini dipegang teguh tanpa sikap kritis yang seharusnya menjadi jiwa akademis. Universitas harus berhenti memproduksi beo-beo dan mesin penghafal yang melecehkan potensi manusia sebagai satu-satunya ciptaan yang diciptakan o;eh sang pencipta dengan dianugrahi daya cipta untuk mencipta dalam proses belajar berbakti, beriman dan bertakwa hanya kepada sang pencipta.
Persekolahan formal tidak pernah cukup membekali angkatan muda untuuk menapaki kehidupan di awal abad 21 ini

Robert T. Kiyosaki dalam buku “Rich Dad, Poor Dad” ia menjabarkan enam pelajaran berikut : pertama, orang kaya tidak bekerja untuk mendapatkan uang, tetapi membuat uang bekerja untuk mereka; kedua, untuk dapat membuat uang bekerja bagi kita, kita harus melek secara finansial (financial literacy), mampu membaca angka dan memaknainya dengan jitu; ketiga, berupaya untuk menciptakan bisnis sendiri, dan tidak puas dengan hanya menjadi karyawan(dengan bayaran dan fasilitas yang bagaimmanapun juga); keempat, ketauhilah sejarah perpajakan dan kekuasaan dari perusahaan; kelima, orang kaya menginvestasikan uangnya; keenam, bekerjalah untuk belajar jangan bekerja untuk mendapatkan uang.

Orang-orang muda perlu diajar dan dilatih untuk mulai memahami cara mmendapatkan penghasilan pada usia sedini mungkin, sesaat mereka belajar menghitung, membaca dan menulis. Tujuannya bukan menjadi kaya secepat mungkin, tetapi memppelajari bagaimana uang “bekerja” atau bagaimana uang dapat “dipekerjakan” sebagai budak manusia, sehingga ia bisa terhindar dari kecendrungan menjadi budak uang.

Menjadi kaya itu sendiri hanyalah salah satu pilihan bagi manusia. Sekalipu orang dimungkinkan untuk menjadi kaya, ia dapat memilih untuk tidak menjadi demikian. Sebagai contoh Nabi Muhammad SAW dan yesus kristus memilih mengajarkan pentingnya beriman dan bertakwa kepada ALLAH dalam keadaan kaya maupun miskin, dibandingkan memilih memperkaya diri sendiri.

Satu hal yang pantas kita syukuri adalah kenmyataan bahwa ditengah maraknya sentimen kedaerahan dan berbagai wujud primordialisme sebagai dampak pelaksanaan desentralisasi pemerintahan dan otonomi daerah, kampus relatif masih merupakan tempat yang aman dimana kegiatan lintas-agama, lintas-suku, lintas-bahasa, lintas budaya, dan lintas-generasi dilaksanakan.Pengetahuan dikaitkan tidak hanya dengan tindakan, tetapi dikaitkan dengan kajian tentang pekerjaan, analisis pekerjaan, dan rekayasa pekerjaan atau untuk memperbaiki pekerjaan. Ini dirintis oleh Frederick Winslow Taylor (1856-1915).

Driyarkara menmgatakan pendidikan itu sendiri hakikatnya adalah proses pemanusiawian manusia muda, proses “humanisasi”, yang tentu saja tidak boleh dibonsaikan demi kepentingan pasar saja.
Resep klasik “ jika kamu mau sukses di masa depan, bellajarlah disekolah terkenal” rasanya sudah tidak berlaku lagi. Sekolah paling elite pun tidak mampu lagi membekali murid-muridnya dengan pengetahuan dan pegangan yang memadai untuk menghadapi tantangan jaman ini.

Sesungguhnya pemujaan terhadap “ sertifikat akademis” adalah dampak dari pemujaan sekolah sebagai satu-satunya lembaga “pendidikan”. Dan dalam banyak kasus  kita sudah saksikan bagaimana gelar akademis sedikit sekali menggambarkan kemampuan pemiliknya. Kalau proses-proses pembelajaran berbasiskan keluarga, komunitas, perusahaan, dan masyarakat dapat diselenggarakan dengan relatif memadai, maka proses perekrutan kerja harus pula dibebaskan dari kewajiban memiliki “sertifikat akademis”.

Untuk masa yang sangat lama kita telah mencoba hidup dalam masyarakat yang menganggap dan memperlakukan sekolah sebagai satu-satunya tempat belajar. Hasilnya adalah apa yang sekarang kita petik. Sebagai masyarakat dan negara bangsa, indonesia makin dekat dengan apa yang dulu disebut Bung Karno sebagai “banggsa kuli-babu” kita nyaris tidak memiliki kelompok asyarakat yang oleh Romo Mangunwijaya disebut “bermental swasta”.

19 Maret 2015

Grounded Research


                                              
Para ahli ilmu sosial, khususnya sosiolog, berupaya menemukan teori berdasar data empiris, bukan membangun teori secara deduktif logis. Itulah yang disebut grounded theory dan model penelitiannya disebut grounded research. Penemuan teori dari data empirik yang diperoleh secara sistematis dalam penelitian sosial, merupakan tema utama dari metodologi penelitian kualitatif model grounded reseat. Grounded theory ditemukan pada tahun 1967 oleh Barney G. Glaser dan Anselm L. Strauss dengan diterbitkannya buku berjudul The Discovery of Grounded Theory.

PERTAMA  kali grounded research diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1970-an, dengan diselenggarakannya pelatihan penelitian ilmu sosial bagi ilmuan Indonesia di Surabaya, Ujung Pandang, dan Banda Aceh. Pelatihan ini berlangsung selama dua semester, dengan beberapa narasumber asing, seperti Lance castle dan Stuart A. Schegel. Awal tahun 1980-an, Lembaga Penelitian Ilmu-ilmu Sosial (LPIIS) bekerjasama dengan FISIP UI, dan beberapa perguruan tinggi di luar Jawa, melakukan hal yang sama. Perkembangan tersebut terus berlangsung hingga kini, dan bukan hanya dalam kajian sosiologi, tetapi juga sudah banyak meluas dalam penelitian bidang komunikasi, kesehatan, psikologi, dan pendidikan.

Pelaksanaan Grounded Research
Pelaksanaan dalam grounded research bertolak belakang dengan penelitian kuantitatif pada umumnya, yang bergerak dari level konseptual teoritik ke level empirikal. Grounded research bergerak dari level empirikal menuju level konseptual teoritikal.

Dalam penelitian ini, peneliti langsung terjun ke lapangan tanpa membawa rancangan konseptual, proposisi[3], dan teori tertentu. Secara provokatif, sering dikatakan agar peneliti masuk ke lapangan dengan “kepala kosong”[4], tanpa membawa apapun yang sifatnya apriori, apakah itu konsep, proposisi, ataupun teori. Hal ini disebabkan, dengan membawa konsep, proposisi, teori yang bersifat apriori, dikhawatirkan terjebak pada kecenderungan studi verifikatif yang memaksakan level empirikal menyesuaikan diri dengan level konseptual teoritikal.

Berdasarkan keadaan “kepala kosong” inilah, diharapkan peneliti dapat sepenuhnya terpancing kepada kenyataan berdasarkan data lapangan itu sendiri, baik dalam mendeskripsikan apa yang terjadi, maupun menjelaskan kemengapaannya. Dengan demikian, apa yang ditemukan berupa konsep, proposisi, dan teori, benar-benar berdasarkan data yang dikembangkan secara induktif.

Tekait proses tersebut, terdapat tiga unsur dasar yang perlu dipahami dan tidak bisa saling dipisahkan, yaitu konsep, kategori, dan proposisi[5]. Konsep diperoleh melalui konseptualisasi data. Peristiwa atau kejadian diperhatikan dan dianalisis sebagai indikator potensial dari fenomena yang kemudian diberikan nama/lebel secara konseptual. Berikutnya, dibandingkan dengan kejadian yang lain, apabila terdapat keserupaan, maka diberikan nama dengan istilah yang sama. Begitupula berlaku dengan peristiwa yang berbeda.

Unsur kedua adalah kategori. Kategori adalah kumpulan yang lebih tinggi dan abstrak dari konsep. Kategori diperoleh melalui proses analisis yang sama dengan cara membuat perbandingan dengan melihat persamaan dan perbedaan. Kategori merupakan landasan dasar penyusunan teori. Unsur ketiga adalah proposisi. Proposisi menunjukkan adanya hubungan konseptual, yakni suatu pernyataan berdasarkan hubungan berbagai konsep yang mengandung deskripsi sistem pemahaman tertentu yang relevan dengan kondisi di lapangan. Pembentukkan dan pengembangan konsep-konsep, kategori, dan proposisi merupakan suatu keharusan dalam proses penyusunan teori, atau melalui proses interaktif.

Ada lima tahap dalam menghasilkan teori pada grounded research, yakni (1) disain penelitian, (2) pengumpulan data, (3) display data, (4) analisi data, dan (5) membandingkan dengan literatur[6]. Dari lima tahap ini, sembilan langkah perlu dilakukan, yakni (1) peninjauan ulang literatur teknis, (2) pemilihan kasus, (3) pembuatan panduan pengumpulan data yang akurat, (4) terjun ke lapangan, (5) penyusunan data, (6) analisis data yang berhubungan dengan kasus awal, (7) percontohan teoritik, (8) penyelesaian penelitian, dan (9) perbandingan teori yang muncul dengan literatur yang sudah ada.

Grounded research memang tidak terlalu mudah dilakukan terutama oleh peneliti pemula, sebab memiliki model analisis data yang terus-menerus, selama data di lapangan masih tetap dikumpulkan. Proses open coding merupakan bagian dari analisis data, dimana peneliti melakukan identifikasi, penamaan, kategorisasi dan penguraian gejala yang ditemukan dalam teks hasil dari wawancara, observasi, dan catatan harian peneliti itu sendiri. Berikutnya adalah axial coding. Tahap ini, adalah menghubungkan berbagai kategori penelitian dalam bentuk susunan property (sifat-sifat) yang dilakukan dengan menghubungkan kode-kode, dan merupakan kombinasi cara berfikir induktif dan deduktif.

Tahap selanjutnya adalah, selective coding, yakni memilih kategorisasi inti, dan menghubungkan kategori-kategori lain pada kategori inti. Selama proses coding ini, diadakan aktivitas penulisan memo teoritik. Memo bukan sekedar gagasan kaku, namun terus berubah dan berkembang atau direvisi sepanjang proses penelitian berlangsung. Itulah inti penemuan grounded theory yang digagas sejak tahun 1967.

Teori yang merupakan hasil dari kajian data, yang merumuskan keterkaitan fenomena yang dapat menjelaskan kondisi yang relevan di lapangan, dilakukan pengulangan sejak pada proses pengumpulan data sampai menghasilkan proposisi, hingga merasa jenuh (data baru tidak ditemukan). Dengan kata lain, adalah mengkonfirmasi, memperluas, dan mempertajam kerangka kerja teoritik, serta mengakhiri proses penelitian bilamana, peningkatan atau penambahan yang diperoleh tidak berarti.

Kualitas grounded theory sangat ditentukan oleh langkah-langkah yang dilakukan secara baik, benar, dan disiplin. Proses yang benar akan menjamin ditemukannya teori yang benar pula. Dengan demikian, ada semacam koherensi antara input, proses, dan output. Disamping itu, seperti pada penelitian lainnya, pengujian ditentukan oleh validitas, reliabilitas, dan kredibilitas dari data, juga ditentukan oleh proses penelitian dimana teori dihasilkan, serta data empirisnya sebagai bagian integral dari penemuan atau teori yang dihasilkan.

Penutup 
Grounded research merupakan salah satu bentuk penelitian yang banyak membutuhkan keprofesionalan seorang ilmuan, terutama kejujuran. Ketelitian dan kesabaran juga sebagai modal utamanya. Di sisi lain, praktisi-praktisi dalam golongan ini, adalah komunitas ilmuan yang telah memahami substansi teori secara mendalam, terutama grand theory. Merekalah yang mungkin menghasilkan teori dengan baik, oleh karena mereka sangat memahami prosesnya.

Catatan :

[1]
Ada berbagai perbedaan redaksional dalam menterjemahkan arti Grounded Theory. Moleong (2005) mengartikannya dengan istilah Teori Dari Bawah, Salim (2006) menyebutnya Teori Beralas, Muhadjir (2002) menterjemahkan dengan nama Teori Berdasar Data, dan hampir serupa, Bungin (2007) mengistilahkannya: Teori Berdasarkan Data. Oleh karena substansinya sama, maka penulis merujuk sesuai dengan nama aslinya dalam bahasa Inggris.
[2] Muhadjir, Noeng, Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi IV, Yogyakarta: Rake Sarasin, hlm. 120
[3] Awalnya Glaser dan Strauss menggunakn sebutan hipotesis. Akan tetapi, istilah proposisi dianggap paling tepat, dan luas serta utuh cakupannya, sebab proposisi menunjukkan adanya hubungan konseptual, sedangkan hipotesis lebih menunjuk kepada hubungan yang terukur. Salim, Agus, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial: Buku Sumber Untuk Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006, hlm.184.
[4]
Istilah “kepala kosong” menjelaskan bahwa peneliti menyingkirkan sikap, pandangan, keberpihakkan terhadap teori atau mazhab ilmu tertentu, yang dikhawatirkan menjadi bahaya besar bagi penyusunan teori, dan sepenuhnya berpedoman kepada apa yang ditemukannya di lapangan. Peneliti memiliki desain atau perencanaan penelitian hingga tuntas, namun kesemuanya itu bersifat fleksibel, bahkan boleh jadi tidak dipakai sama sekali dalam proses penelitian.
[5] Moleong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi, Bandung: Remaja Rosdakarya, hlm.72.
[6] Salim, Agus, Op.Cit., Hlm.185-186. Pendapat Glaser dan Strauss ini, kemudian di perluas lagi oleh Naresh R. Pandit (1996) menjadi sembilan fase/tahap.

Daftar Pustaka
Bungin, Burhan, 2007, Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial lainnya, Jakarta: Kencana.
Moleong, Lexy J., 2005, Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi, Bandung: Rosdakarya.
Muhadjir, Noeng, 2002, Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi IV, Yogyakarta: Rake Sarasin.
Salim, Agus, 2006, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial: Buku Sumber Untuk Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: Tiara Wacana.

09 Desember 2014

10 Strategi Jitu Buat Kamu yang Sedang Berjuang Menyelesaikan Skripsi

 Oleh : Meredian Alam*

Skripsi, oh skripsi… Nggak bisa dipungkiri lagi kalau yang namanya skripsi itu horor banget di kalangan mahasiswa. Baru dengar namanya aja, kamu mungkin enggan banget buat ngebahas lebih lanjut. Tapi mau bagaimana lagi, kalau kamu ingin menyandang gelar sarjana, kamu harus menghadapi yang namanya skripsi.

SALAH SATU pembaca Hipwee, Meredian Alam, ingin berbagi kiat-kiat jitu untuk menjalani skripsi dengan bahagia. Memangnya bisa ya ngerjain skripsi tapi tetap bahagia? Baca langsung saja yuk bagaimana trik rahasianya!

Bagi sebagian mahasiswa – terlepas dari asal jurusan mereka – menjalani skripsi adalah masa-masa yang menyeramkan dan penuh tantangan. Bahkan, tak sedikit di antara mahasiswa yang akhirnya memutuskan drop-out karena tidak kuat menghadapi dosen pembimbing yang terlalu ‘killer’ atau terlalu banyak ekspektasi padamu. Kalau kamu menganggap skripsi adalah periode tersuram dalam hidup selain putus dari pacar atau gagal move on, santai saja, kamu tidak sendiri!

Banyak mahasiswa yang mengalami situasi yang sama. Dari semua ini, perlu dimaknai skripsi itu adalah perjalanan hidup yang bisa dilalui dengan segenap keceriaan dan suka cita. Nah, sebelum skripsi pastikan deh kamu harus memilih topik penelitian yang ‘elo banget’ dan sesuai dengan minatmu. Bagi sebagian besar mahasiswa, skripsi dilewati selama 6 sampai 9 bulan atau 1-2 semester (ada juga yang kurang) tergantung dari jurusan. Dan setiap jurusan pun punya aturan yang berbeda-beda.

Menjalani 6-9 bulan Skripsi adalah masa turun-naik, bahkan bagi sebagian orang dianggap masa yang menjauhkan diri dari ‘peradaban luar’ karena area gaulnya cuma kos/rumah-kampus-perpustakaan-kos/rumah. Jangan salah, sebenarnya ada strategi yang bisa dilakukan agar skripsimu selalu ‘having fun’.

1. Jangan Bekerja Tanpa Target. Atur Jadwal dan Tujuanmu Serinci Mungkin

Jadwal membantu untuk mencapai targetmu
Jadwal membantu untuk mencapai targetmu via s101.photobucket.com

Sejak proposal skripsimu disetujui oleh jurusan, pastikan kamu membuat jadwal bulanan yang berisi target atau capai-capaian kecil. Jadwal bulanan ini bisa dirancang sampai bulan dimana kamu harus mengumpulkan draft terakhir untuk diuji.

Jadwal bulanan ini berisi apa yang harus dikerjakan dalam seminggu atau jumlah hari tertentu. Bagi anak ilmu sosial atau humaniora, bisa diisi dengan jadwal mengumpulkan data (misalnya wawancara), dilanjutkan dengan transkrip wawancara, koding, dan analisis. Selama rentang itu, bisa juga disisipkan hari-hari khusus untuk berkonsultasi dengan dosen pembimbing.
Dengan jadwal ini sebenarnya kita dilatih untuk mendisiplinkan dan mengontrol diri. Hampir 90 persen mahasiswa yang lulus tepat waktu dan sesuai dengan target masing-masing, mengakui bahwa timeline ini sangat membantu mereka dalam mengatur kegiatan selama penelitian.

2. Karena Kamu Akan Banyak Menghabiskan Waktu di Kamar, Kenapa Tak Mendekorasi Kamarmu Jadi Lebih Ceria?

Dekorasi kamar juga membantu
Dekorasi kamar yang bagus bikin kamu lebih semangat via dre4m1and.co.vu

Selama skripsi, 60-95 persen biasanya mahasiswa menghabiskan waktunya di kamar. ‘Merendam’ diri di dalam kamar kadang kala menghadirkan rasa bosan yang luar biasa. Bahkan dari beberapa orang, mereka mengalami klaustrofobia minor atau kemunculan rasa takut terhadap ruangan. Tapi tidak perlu khawatir dan panik, ada cara untuk mengatasi gejala ini. Salah satunya adalah dengan mendekor kamar sesuai dengan ‘soul’-mu.

Mengganti warna kamar dengan tone warna yang lebih ceria adalah awal solusi yang istimewa. Selanjutnya, bisa ditambahkan juga ornamen ‘unyu-unyu’ yang paling kamu sukai, misalnya di dinding dipasang bingkai tumbuhan, foto artis kesayangan, pacar atau anggota keluarga, kota-kota dunia paling diidam-idamkan, atau cermin yang unik. Menempelkan poster-poster dengan gambar kesayangan juga ide yang menarik, agar kamu lebih bersemangat.

Selain itu, memasang kata-kata penyemangat di dekat meja belajar atau di lokasi yang paling sering dilihat juga perlu. Beberapa orang menyukai aroma bunga tertentu, dan kamar bisa juga dilengkapi dengan wewangian yang paling membuat kamu nyaman.

3. Menulis di Dekat Jendela Bisa Bikin Mood Jadi Lebih Baik, Lho..

menulis di dekat jendela
Menulis di dekat jendela via reviewtouchscreenmonitor.blogspot.com

Menulis dekat jendela dibandingkan dalam ruangan tertutup total akan menghadirkan mood yang baik. Hal ini karena udara yang masuk lewat jendela akan membuatmu lebih segar dan tidak panik. Beberapa orang yang pernah saya temui mengakui, menulis dekat jendela itu bisa melancarkan inspirasi dalam menulis — karena mereka terhindar dari rasa ‘stuck’ atau mampet ide.

4. Nggak Cuma Pacaran Aja yang Butuh Komitmen, Menulis Juga!

Komitmen untuk menulis
Komitmen untuk menulis via www.collegeamerica.edu

Seperti halnya pacaran (ceileee…) menulis skripsi itu memperlukan komitmen. Kalau gak menulis, jelas skripsinya dijamin ga bakalan kelar. Hampir sebagian besar orang mengakui, menulis adalah hal paling menantang dalam perjalanan akademik mereka. Salah satu cara agar skripsimu berhasil adalah membangun komitmen pribadi.

Seperti ini mudahnya: ada 7 hari dalam seminggu, luangkan Senin sampai Jum’at selama setidaknya 2-3 jam untuk menulis. Ini bisa dilakukan di pagi hari, siang hari, atau sore hari, tergantung fleksibilitas waktu yang dimiliki. Apabila jurusanmu menentukan bahwa skripsimu harus 20.000-40.000 kata, berarti setidaknya per hari bisa memproduksi 500-1000 kata. Di luar jam itu, aktivitas lain bisa dilakukan, misalnya me-review data lapangan, membaca artikel atau buku, atau kegiatan laboraturium jika jurusanmu adalah jurusan eksakta.


5. Jangan Lupa Berikan ‘Me Time’ untuk Diri Sendiri

me time dengan berkebun
me time dengan berkebun via brujula.com.gt

Tak dipungkiri, lelah dan penat adalah wajar bagi setiap orang. Apalagi buat kamu yang lagi dalam proses skripsi. Perlu diingat, mental dan fisik kita perlu istirahat untuk relaks. Luangkan waktu 1 hari per-minggu (lebih baik Sabtu-Minggu) untuk relaksasi. Berlibur ke pantai bareng teman satu kost, atau anggota keluarga atau pacar bisa menjadi pilihan.

Selain itu, beberapa orang menghabiskan ‘me time’ mereka dengan melukis, memasak, bercocok tanam di kebun, atau aktivitas di luar ruangan yang bikin pikiran dan hati segar kembali. Dalam 2 hari ini, tinggalkan sejenak skripsimu dan biarkan tubuh dan pikiranmu menikmati semesta.

6. Jauhkan Semua Hal Penyebab Distraksi

jauh-jauh dari ponsel
                                         jauh-jauh dari ponsel via www.adressa.no

Gangguan seringkali terjadi selama menulis, dan berasal dari diri sendiri. Misalnya, sedikit-sedikit ngeliat handphone, BBM, atau buka Facebook dan Youtube. Sebagian orang tidak merasakan bahwa ini adalah distraksi atau gangguan yang menyebabkan mereka sulit berkonsentrasi atau mengembangkan ide saat menulis. Selama proses menulis, pastikan kamu punya waktu khusus untuk membuka Facebook, E-Mail, Youtube, atau lain sebagainya dalam sehari. Tentu saja kurang dari satu jam.

Bagi sebagian besar Facebook sudah menjadi semacam ‘teman akrab’ di tengah beraktivitas, tapi tidak jarang pula karena Facebook targetmu tidak tercapai dan akhirnya tidak produktif. Untuk mengontrol rasa ketergantungan mereka terhadap BBM, WA, dan LINE, sangat bagus jika selama menulis fasilitas ini dideaktifkan sementara. Selain itu, cara untuk mencegah agar keluar dari distraksi selama menulis adalah dengan menyingkiran barang-barang yang kamu anggap menganggu — apapun itu.

 7. Jangan Mengabaikan Tidur dan Lakukan Aktivitas Fisik yang Cukup

Jangan lupa aktivitas fisik
Jangan lupa aktivitas fisik via www.tumblr.com

Walaupun skripsi terkadang menjadi periode yang mengisolasi diri, metabolisme tubuh perlu dijaga. Menurut beberapa pakar fisiologi, setiap hari tubuh manusia minimal memerlukan 30 menit aktivitas fisik untuk menjamin kelancaran metabolismenya. Olahraga di pagi hari keliling komplek rumah atau bersepeda bisa menjadi aktivitas rutin yang murah sekaligus menyehatkan.

Menjadi bugar dan sehat tidak perlu menghabiskan 1-2 jam di fitness centre atau club olahraga, apalagi jika kamu harus menempuh jarak cukup jauh dengan berkendaraan. Kegiatan fisik di dalam ruangan seperti push-up dan sit-up dilengkapi dengan lari di tempat pun sudah menjadi pilihan yang baik. Alternatif lainnya adalah dengan membeli dumbel 5-10 kilo yang bisa menemani olahraga di dalam ruanganmu dan membuatmu lebih segar.

Duduk berjam-jam di depan laptop atau komputer secara tidak sengaja membuatmu lelah, tapi ini akan berdampak negatif bagi punggung dan fisik secara umum. Setiap satu jam sekali usahakan melakukan gerakan fisik ringan di ruanganmu.

Selain kegiatan fisik, tidur cukup perlu diperhatikan. Tidur kurang dari 6-7 jam perhari  akan berdampak pada daya konsentrasi kita. Kita pun akan pusing dan lebih susah melihat dengan jelas. Untuk itulah tubuh memerlukan istirahat cukup 6-7 jam perhari untuk mengembalikan metabolisme dan relaksasi pikiran.

8. Jangan Anggap Remeh Air Putih. Cairan Ini Bisa Menambah Konsentrasimu

Jangan sepelekan minum air putih
Jangan sepelekan minum air putih via www.salhazain.com

Air putih? Sepertinya barang sepele, bukan? Tapi air putih punya khasiat besar bagi kamu yang lagi ngerjain skripsi. Mengkonsumsi air putih 8 gelas per hari bermanfaat untuk membuang racun dari dalam tubuh dan menyegarkan tubuh kembali. Selain itu, air putih berkhasiat untuk menambah konsentrasi dalam belajar.

Dengan mengonsumsi air putih 2 gelas setelah bangun tidur di pagi hari, kamu akan mengawali hari-hari skripsimu dengan semangat dan bebas penyakit. Air putih dapat merangsang tubuh mengeluarkan hormon dopamin yang berfungsi untuk mengurangi efek stres dalam tubuh. Salah satu tanda stres yang mudah diketahui secara fisik adalah muka kusam dan memucat, tengkuk terasa berat dan pegal, kepala sering mengalami pusing dan migrain, dan menurunnya tingkat konsentrasi.

9. Perbanyak Konsumsi Makanan Berserat

Makanan berserat menambah energi
Makanan berserat memperkuat ketahanan tubuh via adormaryable.blogspot.com

Bila dikonsumsi secara rutin, menu makanan berserat dapat meningkatkan metabolisme tubuh dan memperkuat ketahanan tubuh selama beraktivitas. Selama menjalani masa-masa skripsi, kebanyakan mahasiswa akan dihadapi pada situasi nonfisik seperti menghabiskan banyak waktu menulis, membaca literatur, dan/atau bekerja di laboratorium. Ini sangat menguras energi untuk berpikir dan mencerna informasi.

Untuk mempertahankan kondisi tubuh, beberapa buah yang sangat direkomendasikan untuk kamu adalah apel, apokat, stroberi, brokoli, wortel, kacang-kacangan, dan pisang. Nasi bagi kita yang dibesarkan di Indonesia barangkali sulit ditinggalkan, tapi mengonsumsi nasi yang berlebihan di pagi dan siang hari biasanya akan menyebabkan kantuk dan rasa malas, sehingga target aktivitas seharian akan sulit dicapai.

Namun, tidak perlu khawatir. Menu lain yang mengandung lebih banyak serat dan energi layak dicoba untuk memulai hari-harimu, seperti: pisang, oatmeal, dan apel hijau. Oatmeal karena mengandung lebih banyak serat bisa mengurangi rasa lapar selama 9-12 jam jika dikonsumsi semangkuk per harinya. Mengkonsumi oat meal tentu saja sangat bervariatif dan lezat. Kamu bisa mencampurkan dengan susu coklat dan pisang atau menaburinya dengan buah-buah kesukaan untuk mendapatkan rasa yang lebih lezat.

10. Biar Kamu Tetap Waras, Jangan Lupa Untuk Tetap Bergaul Dengan Teman-Teman

Bertemu dengan teman
Bercengkrama dengan teman via fairfieldunited.ca

Di sisa waktu sibuk beraktivitas selama sehari menulis skripsi, jangan lupa untuk selalu meluangkan waktu bercengkrama, berbagi tawa, atau mencurahkan hati dengan teman, sahabat, atau kekasih. Selama skripsi secara natural mahasiswa dituntut untuk ‘berdialog’ dengan ide dan gagasannya sendiri, dan wajar apabila menemui masa-masa tertekan.

Tekanan mental selama skripsi ini dialami oleh mayoritas mahasiswa di seluruh dunia, dan apabila tidak diatasi dengan baik akan berdampak para menurunnya motivasi, depresi, dan perasaan tidak bergairah atau loyo dalam menjalani rutinitas. Ngopi atau ngeteh bareng di serambi rumah atau kosan adalah aktivitas simpel yang bisa dilakukan untuk menanggulangi permasalahan ini.

Barangkali perlu meluangkan waktu 1-2 jam per hari untuk sekedar ngobrol ringan dengan teman atau pacar untuk melegakan pikiran. Mengenai masalah yang kamu alami kaitannya dengan skripsi, barangkali kita tidak bisa berharap mereka bakal ngasih solusi 100% tepat sasaran, tapi setidaknya dengan berbagi ini dapat menyalurkan ‘energi’ negatif dalam tubuh.

Menjalani skripsi itu bukan cuma perkara isi otak saja. Banyak hal lain yang juga harus kamu perhatikan, seperti saran-saran dari Meredian Alam di atas. Nah, supaya skripsi lancar dan kamu tetap bahagia, langsung parktikan cara-cara di atas ya! Semangat dan pantang menyerah. Baju toga sedang menunggumu!

*mahasiswa University of Newcastle Australia. Ia bisa kamu sapa langsung melalui blog pribadinya works.bepress.com/meredian_alam/.
Sumber Tulisan :http://www.hipwee.com

Tulisan Lainnya:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *