15 November 2009

TANTANGAN HERMENEUTIKA SEBAGAI INSTRUMEN PENELITIAN SOSIAL

Hermeneutika berasal dari bahasa Yunani; Hermeneutikos yang artinya menjelaskan atau memberikan penjelasan. Selama berabad-abad, Hermeneutika merupakan sub-bagian dari ilmu filologi. Pada awal kemunculan dan perkembangannya, Hermeneutika digunakan untuk menyelesaikan persoalan banyaknya naskah-naskah dan dokumen-dokumen Kristen yang isinya saling bertentangan satu sama lain. Karena itu, Hermeneutika sangat terasa manfaatnya dalam Historiografi.

Pada awal abad keenambelas, Hermeneutika muncul sebagai metode untuk menemukan jawaban atas berbagai kebimbangan dan dengan cepat berubah menjadi sebuah metode ilmiah. Diawali dari perdebatan sengit antara kelompok Protestan vs. Katolik, tentang keaslian Injil dan makna dari beberapa ayat yang saling bertentangan satu sama lain. Kemudian, dalam waktu singkat, ‘kritik filologis’ ini telah menarik perhatian banyak sejarahwan dan filosof. Ketenaran Hermeneutika mulai melesat setelah Lorenzo Valla berhasil membongkar kepalsuan beberapa dokumen gereja yang tidak pernah diragukan keasliannya selama berabad-abad sebelumnya. Setelah itu, Hermeneutika mulai berubah dari posisi awalnya sebagai salah satu cabang dalam filologi. Contohnya, Hermeneutika juga mulai digunakan dalam ilmu hukum untuk membuat interpretasi atas sebuah naskah hukum.

Walau begitu, belum dapat dikatakan bahwa Hermeneutika dapat menjawab semua persoalan dalam seluruh ilmu sosial –khususnya sosiologi. Sejalan dengan tugasnya untuk membuat ‘klarifikasi’, Hermeneutika dipandang sebagai alat yang ampuh dan penting. Dengan sifat dasar kritis yang dimilikinya dan refleksi filosofis atas aktivitas dan hasil yang diperoleh dari beberapa kajian yang menggunakannya, Hermeneutika pun mulai berperan besar dalam menjawab beragam pertanyaan dalam pengetahuan sosial.

Lambat namun pasti, pada awal kehadirannya, Hermeneutika mulai berubah. Hermeneutika mulai merambah beragam jenis naskah lainnya yang tidak anonim. Dalam kajiannya, Hermeneutika juga mulai memperhitungkan berbagai variabel di luar tulisan di dalam naskah –misalnya peri kehidupan penulis naskah. Dalam pengkajian atas otentisitas semacam ini, ilmu semacam filologi tentu lebih sesuai dibanding psikologi. Pada zaman itu, kecenderungan dalam karya tulis tentu tidak sama dengan sekarang, di manapada saat itu, penulis dianggap sebagai ‘pemilik yang sah’ dari sebuah tulisan. Sehingga kritik atas tulisan dapat dipandang sebagai ssuatu yang menyerang pribadi penulisnya.

Pertengahan abad kedelapanbelas merupakan tahapan penting di mana nilai-nilai estetika klasik dicoba untuk dipertahankan. Pada masa itu, seorang Artis masih dipandang sebagai pemandu atas penilaian yang akan diberikan masyarakat pada hasil karyanya. Demikian pula dalam dunia tulis menulis. Seorang penulis akan dipehiungkan intensinya dalam membuat bentuk, struktur, harmoni dan logika inheren dalam tulisannya. Bagi Winckelmann, seorang ahli teoripaling berpengaruhpada masa itu, keindahan –sebagai makna paling dalam dalam suatu karya sastra- merupakan hal yang paling penting dalam sebuah produk artistik. Dan karena itu, estetika tidak memiliki ruang bagi kpribadian seorang penulis. Sontak, opini Winckellmann segera mendapat sambutan sebagaisuatu pencerahan pada masa itu.

Kemudian, Kant menyatakan bahwa seorang artis bertanggung jawb atas segala karya yang dibuatnya –karena ia memikirkan dan merasakan segala kreasinya. Pada 1797, W.H. Wackenroder menulis bahwa untuk menilai suatu karya, seseorang harus berkontemplasi dan memikirkan sang pembuat karya daripada memikirkan hasil karyanya. Tidak lama setelah itu, kaum Novalis menyatakan bahwa ‘jiwa’ dari seorang pembuat karya mewakili karya yang dibuatnya.

Masa Romantisme kemudian mencatat bahwa hasil karya seni –dan bentuk lainnya dari karya-karya manusia- merupakan suatu sistem yang purposif. Naskah, lukisan, pahatan, merupakan perwujudan dari ide, direpresentasikan melalui hasil. Sementara ide itu sendiri tidak dapat dipenuhi oleh suatu karya saja. Ide tersebut hanya dapat dikenali oleh pembuatnya dan hanya pembuatnya pula yang dapat menjelaskan makna dari representasi ide yang mereka buat.

Dalam menilai suatu tulisan, seorang pembaca harus mendalami naskah yag dibacanya. Ini sangat penting dalam menjaga agar makna asli naskah tidak menjauh darinya. Pembaca juga perlu memperkirakan pengalaman spiritual penulis. Dalam melakukan hal-hal semacam ini, seorang pembaca tentu tak mungkin dipandu oleh peraturan-peraturan yang ketat dan rigid. Dalam hal ini, imajinasi pembaca sangat memegang peran penting. Tanpa imajinasi yang dapat merambah rnah pemikiran pembuat karya, pembaca tidak akan pernah menemukan misteri yang berada di balik suatu karya.

Untuk memenuhi hal tersebut, maka Hermeneutika kemudian dikembangkan agar dapat membantu membuat deskripi dan analisis struktural dari suatu naskah. Interpretasi makna juga menjadi fokus utama Hermeneutika. Kemudian, beberapa pertanyaan yang sifatnya metodologis dimunculkan untuk menguji sutu naskah –khususnya naskah ilmu sosial. Dalam hal ini, nampak ketrkaitan Hermeneutika dengan disiplin filologi.

Ilmu sosial berkembang dengan pesatnya sejak abad kedelapan belas hingga awal abad keduapuluh. Pengkajian atas berbagai teori baru yang muncul dalam perkembangan tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Hermeneutika. Fakta dasar dalam kajian-kajian sosial banyak mengalami perubahan. Untuk menemukan jawaban atas beragam pertanyaan yang berkenaan dengan penilainatas sutu disiplin ilmu sosial, meode-meode baru dalam Hermeneutika perlu dikembangkan agar selaras dengan perkembangan tersebut.

Selaras dengan perkembangan yang terjai sejak masa romantisme, kita dituntut untuk dapat memperkirakan tujuan dari suatu naskah. Kemudian setelah itu, kita tidakakan berhenti untukdapat menemukan ‘rancangan’ dan tujuan sbenarnya dari suatu naskah. Dalam ranah ilmu sosial, ini dilakukan dengan tetap memahamkan bahwa desain dan tujuan akan selalu berkenaan dengan kehidupan manusia. Di sinilh pertanyaa di saputar tujuan dan desain akan terus mengemuka. Untuk memahaminya, beberpa elemen dalam upya menjelaskan suatu fenomena harus digunakan sbgai pegangan, yakni; pemahaman atas tujuan, intensi, configurasi pemikiran, kekurangan dan kelebihan, dan konsekuensi. Memahami perilaku manusia memang memerlukan pemahaman pada intensi manusia itu sendiri, inilahyang membedakan ilmu sosial dari ilmu alam.

Karena itu, pemahaman dan upayauntuk memahami itu sendiri merupakan suatu karya. Berbeda dengan pengamatan di dalam disiplin ilmu alam, pegamatan dalam disiplin ilmu sosial yang memerlukan perhitungan unsur estetik dan artistik terkadang menjadi suatu penghalang dalam menciptakan suatu langkah ilmiah. Seorang praktisi Hermeneutika harus dapat memilah pmahaman inrapersonal dalam melakukan suatu kajian sebagai upaya menyaring beberapa kemungkinan interpretasi yang egosentrik. Maka, validitas memegang peran penting dalam menjaga agar faktor-fakor internal tidak memasuki proses.

Singkatnya, ada dua hal yang menjadi tantangan utama bagi Hermeneutika; konsensus dan kenyataan. Dalam menentukan status ilmiah, ilmu-ilmu sosial harus dapat membuktikan bahwa ada sejumlah aturan yang dapat digunakan untuk dan standar kebenaran dalam melakukan interpretasi atas suatu hal seperti halnya beberapa langkah ilmiah yang lazim ditemui dalam disiplin ilmu alam.

Untuk memastikan tantangan yang dihadapi oleh Hermeneutika, ‘makna subjektif’, intensi, motif, dan ‘pengalaman internal’ tidak dapat dimasukkan dalam pengamatan, karena tidak akan sejalan dengan tuuan untuk menghsilkan studi yang ilmiah. Dalam mengamati suatu objek sosial, pengamatan harus dilakukan tidak di atas asumsi-asumsi subjktif semaam itu, karena pembuktian dari pengamatan yang dilakukan tidak akan bersifat jelas seperti halnya di dalam ilmu pasti.

Kriteria dasar yang saya kemukakan ini dilandasi oleh tradisi intelektual Jerman, yang memiliki akar yang sama dengan Perancis. Para tokoh ilmu sosial Perancis biasanya menempatkan karkter subjektif dalam realitas sosial sebagai suatuporsi kecil di dalam pengamatan. Analisis kejiwaan dalam Hermeneutika pun tidak terlalu dipehitungkan oleh para tokoh tersebut. Pra tokoh semacam comte, hingga Durkheim kurang memperhatikan pengaruh yang disebabkan oleh bberapa macam relativitas di dalam pengkajian ilmu sosial. Mereka memandang, sperti halnya dalam dunia pengobatan, relativitas terkadang membantu menentukan obat yang cocok bagi suatu persoalan atau penyakit. Dengan meyakini bahwa kenyataan sosial merupakan suatu ‘benda’ yang ada sebagai ‘entitas’ di luar pengalaman seseorang, mereka memandang bahwa; pertama, seseorang dapat mempelajari realitas sosial tanpa harus melihat proses produksi dari realitas tersebut, dan kedua, hasil yang sama akan didapat oleh siapapun yang melakukan studi ini dengan metode yang tepat. Tentu saja, ini merupakan car pandang terhadap ilmu alam di abad kesembilan belas. Metode yang tepat untuk suatu studi ilmu sosial tentu akan selalu menjadi pertanyaan.

Bagi tradisi intelektual Jerman, di mana refleksiterhadap aktivitas dan problem Hermeneutika memainkan peran penting, ini tentu meupakan suatu tantangan yang harus dijawab. Maka, interpretasi terhadap realitas sosial menjadi suatu ‘percakapan’ antara suatu masa historis dengan masa sesudahnya. Dalam ‘percakapan’ ini, kedua belah pihak masing-masing disebut sebagai ‘pemahaman’ atau ‘interpretasi’ dan memiliki ikatan tradisi tersendiri yang berbeda. Dalam karakterisasi yang dicetuskan oleh Isaiah Berlin, Jerman pada masa romantisme meyakini bahwa karya-karya manusia ‘dapat dirasakan atau terekam dalam intuisi atau dipahami dalam skala terbatas; dapat diambil secara parsial untuk kembali disusun dalam bentuk seutuhnya. Kemudian pada masa reformasi, para pemikir Jerman di era tersebut mulai memperhatikan perbedaan di antara dunia yang mereka geluti dengan universakisme dan rasionalisme yang berlaku di bagian Eropa lainnya.

Selanjutnya, dapat dilihat bahwa disiplin teknis dari Hermeneutika sangat mempengaruhi dan memberikan kedalaman filosofis yang baru terhadap relevansi teoretis dalam filosofi Hegel. Sebelum filosofi Hegel muncul, belum ada sistem filosofi yang dapat meringkas alasan dan objek, pengetahuan dan sejarah, dalam suatukesatuan monolitik; dan dalam menunjukan pemilahan dengan mendekati sempurna. Dalam filosofi Hegel, proses historis merupakan proses pendewasaaan bagi sejarah manusia.

Realisasi dari filosofi Hegel juga terefleksikan dalam filosofi Hermeneutika dalam ide tentang lingkaran Hermeneutika. Memahami makna dipandang bagaikan sutu lingkaran; bukan suatu kemajuan unilinear di antara ssuatu yang lebih baik atau lebih jelek.

Dalam pemaparan yang dibuat oleh wilhelm Dilthey, pengembangan Hermeneutika mencapai iik kulminasinya pada abad kesembilan belas. Menurutnya, sepanjang seseorang mampu mengusung gagasan historis, dan ikatan pemahaman atas tradisi, maka ekspresi dari suatu karya akan dapat terasa. Maka, Hermeneutika akan menghadapi hal ini sebagai salah satu tantangan untuk menyelamatkan suatu disiplin ilmu sosial dari klaim-klaim yang seolah ilmiah.

Kita akan memulai dengan membahas strategi pengkajian yang dikembangkan oleh Marx, Webber dan Manneheim. Ketiga ilmuwan sosial ini ercaya bahwa sejarahakn selalu dapat memahami benuknya sendiri. Ini sejalan dengan beberapa pinsip yang sebelumnya telah dikemukakan olh Hegel. Maka, ketigannya meyakini bahwa pngetahuan sosial yang sebnarnya akan dapat diakses oleh siapapun dalam bentuk yang telah memiliki wujud tetap atau dengan kata lain merupakan transformasi yang selalu mendekati produk masyarakat. Dengan kata lain, ketiganya memandang paduan antara pemahaman dan pengetahuan merupakan akhir dariupaya untuk mendapatkan keduanya dan objek pun harus digeser untuk memenuhi kebutuhan pemaduan tersebut.

Adalah Weber yang membawa tori sosiologis Marx ke dalam relevansi langsung dengan perdebatan Hermeneutika. Sebelumnya,Marx telah mengubah teori histori dan pengetahuan Hegel dari bahasa filosofis ke dalam bahasa sosiologis. Ini dilakukannya jauh sebelum Dilthey menggambarkan suatu metodologi bagi pemahaman atas filosofi Hegel.

Menurut Husserl, diskursus Hermeneutika berkenaan dengan peninggalan Rasionalisme French-Cartesian. Rasionalisme tersebut lambat laun mencapai beberap konskuensi; harapan bahwa makna dapat dipahami telah ditempatkan dlam kemungkinan melepaskan makna dari konteks ikaan tradisi. Husserl menyatkan ‘subjektivitas transendental sebagai suatu lahan, sebgai suatu kesatuan makna yang ekstra-historis. Yang menopang fenomena dalam satu-satunya mode eksistensi yang relevan. Kemudian, nampak bahwa sosiologi yang dikembangkan oleh Talcott Parson merupakan penerapan dari perspsi husserl untukdapat menggapai pemahaman atas tindakan manusia yang memprluas makna kebebasan makna konteks stuktural-historis.

Walau begitu, beberapa prinip Husserl kemudian direvisi oleh Heidgger. Di atas segalanya, anggapan yang fundamental bahwa makna, pemahaman dan interpretasi dapat ditemukan di alam semesta –bukan di alam maya, dunia-eksstensi. Makna tetap penting, dan pemahaman adalahpemenuhan untuk kebutuhan dalam pencarian makna tersebut. Bayang-bayang relativisme dalam menentukan suatukebenaran tidak mungkin akan dapat dikesampingkan di luar koteks ikatan tradisi. Maka, kegagalan bagi seorang peneliti sosial bukan merupakan sesuatu yang perlu ditakutkan. 


Sumber : http://mahardhikazifana.com

24 Oktober 2009

HIPOTESIS NOL SEBAGAI HIPOTESIS PENELITIAN

Ketika kita menggunakan statistika untuk menguji hipotesis maka muncullah dua macam hipotesis berupa hipotesis penelitian dan hipotesis statistika. Tepatnya hipotesis penelitian kita rumuskan kembali menjadi hipotesis statistika yang sepadan. Hipotesis statistika harus mencerminkan dengan baik maksud dari hipotesis penelitian yang akan diuji.

Pada hakikatnya ada dua jenis hipotesis statistika. Jenis pertama adalah apabila data kita berupa populasi yang kita peroleh melalui sensus. Dengan data populasi, hipotesis statistika cukup berbentuk H. Tidak diperlukan hipotesis H0. Misalnya dalam hal rerata, hipotesis statistika itu berbentuk H: mX > 6. Jika data populasi memiliki rerata di atas 6 maka hipotesis diterima dan jika tidak maka hipotesis ditolak. Karena seluruh populasi sudah dilihat maka keputusan ini menjadi kepastian.

Jenis kedua adalah apabila data kita berupa sampel yang kita peroleh melalui penarikan sampel. Biasanya sampel itu berupa sampel acak, baik dengan cara pengembalian maupun dengan cara tanpa pengembalian. Dengan data sampel, hipotesis statistika menjadi H0 dan H1. Misalnya dalam rerata, hipotesis statistika itu berbentuk H0: mX = 6 dan H1: mX > 6. Syaratnya adalah tiadanya pilihan ketiga.

Dalam hal data sampel, sering terjadi bahwa hipotesis penelitian dirumuskan kembali menjadi H1. Pengujian hipotesis dilakukan melalui penolakan H0. Selanjutnya dengan syarat tidak ada pilihan ketiga pada hipotesis, maka penolakan H0 dapat diartikan sebagai penerimaan H1. Jadi pengujian hipotesis penelitian dilakukan melalui cara tak langsung yakni melalui penolakan H0 dan melalui tiadanya pilihan ketiga pada hipotesis.
Kini muncul pertanyaan apakah hipotesis penelitian dapat dirumuskan kembali menjadi H0? Karena jarang terjadi, sejumlah orang merasa ragu. Sekalipun jarang, hal demikian pernah terjadi sementara beberapa penulis menyatakan boleh. Kerlinger (1979) melaporkan hasil penelitian yang menggunakan H0. Myers and Pohlman (1979) mempresentasikan makalah berjudul “Null Hypothesis as a Research Hypothesis.” Selain itu, Wiersma (1995) mencantumkan contoh hipotesis nol sebagai hipotesis penelitian. Gay (1990) menunjukkan walaupun tidak terlalu sering hipotesis berupa tidak beda itu memang ada. Lock, cs (1993) mengatakan bahwa hipotesis dapat ditulis, baik sebagai pernyataan nol (mudahnya disebut hipotesis nol), “Tiada beda di antara …,” maupun sebagai pernyataan terarah menunjukkan jenis hubungan yang diantisipasi.

Kebanyakan penelitian dirumuskan ke hipotesis statistika H1. Tetapi hal ini tidak menutup kemungkinan hipotesis penelitian dirumuskan ke hipotesis statistika H0. Adalah pada tempatnya kalau di sini kita melihat alasan mengapa hipotesis penelitian dapat dirumuskan dalam bentuk H0. Untuk itu kita perlu melihat apa sebenarnya fungsi dan peranan H0 di dalam pengujian hipotesis statistika. Adanya hipotesis H0 lebih merupakan urusan teknik statistika yang menggunakan data sampel daripada urusan hipotesis penelitian. Kita mulai dengan melihat peristiwa kekeliruan sampel.

01 Oktober 2009

Mahasiswa Terbaik Indonesia


Menjadi mahasiswa terbaik indonesia merupakan cita-cita semua mahasiswa di Indonesia, tidak terkecuali saya, maksum priangga. Saya biasa di panggil maksum, anda juga boleh memanggil saya angga. Saya mahasiwa dari GICI Business School, sebuah kampus bisnis terbaik.


Saya memiliki obsesi yang postif untuk menjadi mahasiswa terbaik indonesia. Tentunya untuk menjadi yang terbaik atau mahasiswa terbaik indonesia tidaklah mudah. Belum lagi kuliah saya tinggal 1 tahun lagi.

Ya untuk menjadi mahasiswa terbaik indonesia banyak hal yang harus kita lakukan, pertama yang terpenting adalah, belajar dari yang terbaik. Ya, dengan belajar dari yang terbaik anda juga bisa menjadi yang terbaik, minimal kemungkinan anda manjadi terbaik lebih besar dari pada yang belajar tidak dari yang terbaik.
Cari tahu siapa yang terbaik di bidangnya, tentunya sebagai mahasiswa jika kita ingin menjadi mahasiswa terbaik indonesia harus belajar dari yang terbaik di indonesia, contohnya kita bisa mulai belajar dari pelatih sukses no.1 di Indonesia Tung Desem Waringin, ya cari buku-buku dan cd audionya.

Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah, ATM, amati tiru kemudian modifikasi, setelah anda cari siapa yang terbaik, misalnya di kampus anda, jika anda ingin menjadi mahasiswa terbaik di kampus anda, anda harus tahu dulu siapa yang tahun lalu menjadi mahasiswa terbaik atau mahasiswa teladan. Cari siapa yang terbaik pertama dan kedua, tanyakan apa yang dia lakukan untuk bisa menjadi yang terbaik, catat dengan detail, modifikasi dari keduanya, lakukan mendadak anda akan menjadi mahasiswa terbaik di kampus anda.
Tentunya sebagai mahasiswa jika ingin menjadi mahasiswa terbaik indonesia maka nilai akademik harus rata-rata A atau minimal perbandingan nilai A dan B, jauh lebih banyak nilai A. Jadi, tentunya, pastinya, hahaha, IP(indeks prestasi) harus dekat-dekat dengan 4.

Selain akademik, yang tidak boleh dilupakan, jika ingin menjadi mahasiswa terbaik indonesia adalah aktif dalam organisasi. Ya terutama organisasi kemahasiswaan, sangat bagus apabila anda mendapatkan nilai akademis tertinggi di kampus anda, dan anda aktif atau bahkan menjadi ketua organisasi mahasiswa di kampus anda.

Anda juga harus rajin mengikuti lomba-lomba kemahasiswaan sehingga penghargaan demi penghargaan datang kepada anda,  jadi bukan tidak mungkin jika anda menerapkan ilmu-ilmu yang beru saja anda baca anda akan menjadi mahasiswa terbaik indonesia. Minimal anda bisa menjadi mahasiswa terbaik untuk kampus anda. Atau anda bisa menjadi mahasiswa terbaik untuk diri anda dan orang-orang yang anda sayangi.

Mengutip kata-kataBruce Lee, “knowing is notting, appplying what you know is everything..” lalukan mulai saat ini juga dan hidup anda akan berubah bumi dan langit..

08 September 2009

PERUMUSAN MASALAH DAN PENENTUAN METODE PENELITIAN


Salah satu komponen yang sangat penting dan menentukan kualitas sebuah penelitian ilmiah adalah rumusan masalah. Dalam hal ini yang dimaksud masalah adalah masalah ilmiah penelitian (scientific research problems). Masalah penelitian inilah yang akan dipecahkan atau dicarikan solusinya melalui suatu proses penelitian ilmiah.

Berbeda dengan rumusan-rumusan masalah pada umumnya, seperti laporan-laporan proyek, dalam penelitian ilmiah dituntut untuk memenuhi beberapa kriteria, antara lain masalah dirumuskan dengan kalimat tanya, sebaiknya hindari kata tanya “sejauh manakah” atau “seberapa besarkah”, dsb. Kriteria lain adalah setiap rumusan masalah minimal terdapat dua faktor atau variabel yang dihubungkan atau dibedakan, dan terakhir adalah variabel-variabel tersebut harus dapat diukur dan di-manage (measurable and managable).

Agar dapat diukur maka variabel-variabel tersebut harus konseptual, artinya variabel tersebut harus didukung oleh teori-teori sehingga akan lebih mudah mengukurnya karena indikator-indikatornya jelas dideskripsikan dalam teori-teori yang relevan. Variabel dapat di-manage artinya data dengan mudah dapat dikumpulkan dan tersedianya atau bersedianya responden sebagai unit analisis untuk mengisi instrumen penelitian.

Hal lain yang perlu diperhatikan peneliti adalah dalam menentukan atau memilih variabel. Berdasarkan namanya, variabel memiliki ciri harus bervariasi. Insentif disuatu perusahaan atau institusi untuk golongan yang sama bukan variabel, tetapi fakta karena besarnya sama untuk golongan atau jenjang (level of job) yang sama. Kinerja (performances) adalah variabel karena setiap orang memiliki level of perfomances yang berbeda, demikian juga motivasi kerja atau kepuasan kerja, jelas dapat dipakai sebagai variabel karena tiap orang memiliki variabel tersebut yang bervariasi.

Namun ada juga peneliti kadang keliru menyebut misalnya kebijakan sebagai variabel sebab kebijakan disuatu perusahaan atau lembaga tidak akan dan tidak pernah bervariasi. Jadi dalam hal ini para peneliti harus secara logis menentukan berkaitan dengan apa yang hendak diukur terhadap kata kebijakan tersebut atau apa yang bervariasi terhadap kebijakan itu, seperti mungkin persepsi karyawan terhadap kebijakan atau penilaian atau pemahaman karyawan, jadi dalam hal ini yang bervariasi tentu persepsinya, penilaiannya atau pemahamannya terhadap kebijakan tersebut.

Oleh karena itu, apabila ditanya apa variabelnya maka jawabannya adalah persepsi atau pemahaman, sehingga peneliti dituntut untuk mencari teori-teori tentang persepsi atau pemahaman terhadap kebijakan. Jadi variabelnya bukan kebijakan, karena kebijakan tidak bervariasi. Faktor the naming variable sangat mempengaruhi peneliti dalam menentukan teori-teori yang akan diterapkan dalam sebuah karya ilmiah baik itu skripsi, tesis bahkan disertasi. Demikian juga contoh-contoh lain seperti budaya organisasi, iklim organisasi, konpensasi, rekrutmen, gaji, pemberdayaan, dsb.

Dalam penelitian ilmiah, variabel pada umumnya ada dua yaitu variabel bebas (independent variable) yang dapat mempengaruhi atau lebih dulu terjadi terhadap variabel lain yang disebut variabel terikat (dependent variable). Variabel terikat inilah yang menentukan the main topic seorang peneliti yang mencerminkan spesialisasinya.

Berdasarkan pengalaman membimbing mahasiswa, khususnya mahasiswa program doktor, banyak ditemukan adanya ketidakkonsistenan antara rumusan masalah dengan penentuan metode penelitian. Sebagai contoh, bagaimanakah hubungan antara motivasi kerja dengan produktivitas kerja karyawan? Ternyata metode yang dipilih peneliti survei dengan analisis regresi korelasi, jadi jenis penelitiannya kuantitatif padahal penelitian merumuskan masalah menggunakan kata tanya bagaimanakah yang mencerminkan adanya suatu proses yang ingin dipecahkan peneliti. Dalam hal ini jenis penelitian yang tepat adalah kualitatif.

Apabila kata tanya bagaimanakah diganti dengan apakah sehingga menjadi apakah terdapat hubungan antara motivasi kerja dengan produktivitas kerja karyawan, maka jenis penelitiannya kuantitatif dengan metode survei dan analisisnya regresi korelasi yang bersifat non kausal.
Contoh lain sebagai berikut:
1. Bagaimanakah mengembangkan model instruksional dalam rangka meningkatkan pemahaman konsep-konsep matematika untuk anak SD kelas IV? Jenis penelitian ini dapat berupa developmental research atau R and D yang dilanjutkan dengan pengujian keefektifan model yang telah dikembangkan tersebut melalui eksperimen.

2. Bagaimanakah cultural cohesiveness dapat mempengaruhi dalam proses pengambilan keputusan di institusi X? Jenis penelitian yang dipilih adalah kualitatif dengan langkah-langkah yang lengkap termasuk triangulasi dengan menekankan pada observasi yang unobtrusive, sampai ditemukan sesuatu yang unique. Tanpa uniqeness dan observasi terhadap proses maka penelitian kualitatif hanya sebuah ilusi.

3. Apakah komitmen berpengaruh langsung terhadap efektivitas organisasi? Contoh ini berkaitan dengan studi kausal non eksperimen dengan jenis penelitian kuantitatif, metode survei dengan analisis jalur (path analysis) untuk menguji model. 

4. Apakah terdapat perbedaan hasil belajar genetika antara yang diajar dengan alat peraga dan siswa lain yang diajar dengan ceramah, apabila motivasi belajar siswa dikontrol? Masalah seperti ini harus dipecahkan melalui penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen. Apabila the main effect memiliki dua level demikian juga simple effect dengan dua level, maka disain ekespeimennya adalah 2 x 2 factorial. Eksperimen yang dipilih karena variabel bebasnya dapat dimanipulasi menjadi beberapa level, sehingga memungkinkan peneliti melakukan treatment. Analisnya menggunakan ANOVA two way.


Masalah Penelitian

Seperti diketahui bersama bahwa penelitian adalah merupakan bagian dari pemecahan masalah. Lalu apa sebenarnya masalah penelitian itu? Menurut Notoatmodjo (2002) masalah penelitian secara umum dapat diartikan sebagi suatu kesenjangan (gap) antara yang seharusnya dengan apa yang terjadi tentang sesuatu hal, atau antara kenyataan yang ada atau terjadi dengan yang seharusnya ada atau terjadi serta antara harapan dan kenyataan. 

Pengertian serupa juga dikemukakan oleh Danim (2003) yang menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan masalah penelitian keperawatan adalah suatu kesenjangan atau diskongruensi antara kenyataan dan harapan. Notoatmodjo (2002) menyebutkan bahwa pada hakikatnya masalah penelitian kesehatan adalah segala bentuk pertanyaan yang perlu dicari jawabannya, atau segala bentuk rintangan dan hambatan atau kesulitan yang muncul .

Meskipun masalah penelitian itu selalu ada dan banyak, menurut Notoatmodjo (2002) belum tentu mudah mengangkatnya sebagai masalah penelitian, diperlukan kepekaan terhadap masalah penelitian. Kepekaan ini dipengaruhi oleh minat dan pengetahuan atau keahlian. Minat dan pengetahuan atau keahlian itu dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain :

1. Profesi
Profesi atau bidang pekerjaan seseorang dapat menjadi sumber minat untuk melakukan penelitian. Semakin sering seseorang terpapar dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan profesinya, akan semakin mendorong orang tersebut berminat untuk menyelesaikannya.

2. Spesialisasi
Keahlian khusus seseorang akan menyebabkan orang tersebut lebih peka tehadap masalah yang berkaitan dengan keahliannya. 

3. Akademis
Seseorang yang telah mengalami program pendidikan yang lebih tinggi, biasanya telah mendalami tentang salah satu disiplin ilmu pengetahuan. Dengan penguasaan ilmu ini, orang tersebut cenderung lebih peka mengenali masalah dalam bidang keahliannya.

4. Kebutuhan dan Praktik Kehidupan Sehari-hari
Seseorang yang cenderung menaruh perhatian akan kebutuhan dan praktik kehidupan sehari-hari akan lebih peka terhadap masalah yang muncul.

5. Pengalaman Lapangan
Seseorang yang mempunyai banyak pengalaman lapangan akan menambah kepekaannya terhadap masalah di bidangnya.

6. Bahan Bacaan atau Kepustakaan
Membaca dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berpikir seseorang, sehingga wawasannya akan semakin luas dan semakin mampu menggunakan penalaran dan pola berpikir kritisnya semakin berkembang. Dengan berpikir kritis ini, selanjutnya akan meningkatkan kepekaan seseorang terhadap masalah.

MEMILIH MASALAH PENELITIAN
Hal yang penting dijadikan pegangan dalam memilih masalah penelitian ini adalah bahwa keputusan dan penentuan terakhir adalah terletak pada peneliti itu sendiri. Sebelum memilih masalah, terlebih dahulu peneliti harus menentukan topik penelitian.

Untuk menentukan topik penelitian Narbuko dan Achmadi (2002) menyampaikan bahwa sebelum menentukan topik penelitian, seorang peneliti harus terlebih dahulu menanyakan pada diri sendiri tentang beberapa pertanyaan berikut :
“Apakah topik tersebut dapat dijangkaunya/ dikuasainya (manageble topic)?”
“Apakah bahan-bahan/ data-data tersedia dengan cukup (obtainable data)?”
“Apakah topik tersebut penting untuk diteliti (significancy of topic)?”
“Apakah topik tersebut menarik untuk diteliti dan dikaji (interested topic)?”
Setelah topik ditentukan selanjutnya peneliti harus memilih masalah penelitian yang sesuai dengan topik tersebut. Pertimbangan dalam memilih masalah penelitian agar masalah yang dipilih layak dan relevan untuk diteliti diungkapkan oleh Notoatmodjo (2002), meliputi :
  1. Masalah masih baru. “Baru” dalam hal ini adalah masalah tersebut belum pernah diungkap atau diteliti oleh orang lain dan topik masih hangat di masyarakat, sehingga agar tidak sia-sia usaha yang dilakukan, sebelum menentukan masalah, peneliti harus banyak membaca dari jurnal-jurnal penelitian maupun media elektronik tentang penelitian terkini.
  2. Aktual. Aktual berarti masalah yang diteliti tersebut benar-benar terjadi di masyarakat. Sebagai contoh, ketika seorang dosen keperawatan akan meneliti tentang masalah gangguan konsep diri pada pasien yang telah mengalami hemodialise berulang, maka sebelumnya peneliti tersebut harus melakukan survey dan memang menemukan masalah tersebut, meskipun tidak pada semua pasien.
  3. Praktis. Masalah penelitian yang diteliti harus mempunyai nilai praktis, artinya hasil penelitian harus bermanfaat terhadap kegiatan praktis, bukan suatu pemborosan atau penghamburan sumber daya tanpa manfaat praktis yang bermakna.
  4. Memadai. Masalah penelitian harus dibatasi ruang lingkupnya, tidak terlalu luas, tetapi juga tidak terlalu sempit. Masalah yang terlalu luas akan memberikan hasil yang kurang jelas dan menghamburkan sumber daya, sebaliknya masalah penelitian yang terlalu sempit akan memberikan hasil yang kurang berbobot.
  5. Sesuai dengan kemampuan peneliti. Seseorang yang akan melakukan penelitian harus mempunyai kemampuan penelitian dan kemampuan di bidang yang akan diteliti, jika tidak, hasil penelitiannya kurang dapat dipertanggungjawabkan dari segi ilmiah (akademis) maupun praktis
  6. Sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah. Masalah-masalah yang bertentangan dengan kebijaksanaan pemerintah, undang-undang ataupun adat istiadat sebaiknya tidak diteliti, karena akan banyak menemukan hambatan dalam pelaksanaan penelitiannya nanti.
  7. Ada yang mendukung, Setiap penelitian membutuhkan biaya, sehingga sejak awal sudah dipertimbangkan darimana asal biaya tersebut akan diperoleh. Tidak jarang masalah-masalah penelitian yang menarik akan mendapatkan sponsor dari instansi-instansi pendukung, baik pemerintah maupun swasta.
Berdasarkan beberapa pertimbangan tersebut, sebelum melakukan pemilihan masalah penelitian, maka peneliti harus menjawab beberapa pertanyaan berikut agar masalah yang diteliti layak dan relevan (Notoatmodjo, 2002):
  1. Apakah masalah yang akan diteliti merupakan masalah yang sedang hangat di dalam masyarakat saat ini?
  2. Apakah masalah tersebut benar-benar aada di dalam masyarakat?
  3.  Sejauh mana masalah tersebut dirasakan? Apakah penduduk atau masyarakat merasakan masalah tersebut?
  4. Apakah masalah tersebut mempengaruhi kelompom tertentu, misalnya ibu hamil, bayi, atau anak balita?
  5. Apakah masalah tersebut berhubungan dengan masalah sosial, kesehatan ataau ekonomi yang luas?
  6. Apakah masalah tersebut berhubungan dengaan kativitas program yang sedang berjalan?
  7. Siapa lagi yang tertarik atau terlibat dalam masalah tersebut?
Dengan beberapa pertimbangan dan pertanyaan tersebut, diharapkan akan dapat dirumuskan masalah penelitian yang layak dan relevan, sehingga masalah penelitian memberikan manfaat, baik secara teoritis maupun aplikatif.

SUMBER MASALAH PENELITIAN 
Menurut Turney dan Noble (1971, dalam Danim, 2003) sumber masalah penelitian empiris dapat berasal dari
1. Pengalaman pribadi
2. Keterangan yang diperoleh secara kebetulan
3. Kerja dan kontak profesional
4. Pengujian dan pengembangan teori yang ada
5. Analisis literatur profesional dan hasil-hasil penelitian sebelumnya.

Telah disebutkan sebelum Bagian ini bahwa titik awal suatu kegiatan penelitian adalah upaya membuat rumusan masalah penelitian. Rumusan masalah penelitian bisa dibuat oleh seorang peneliti melalui beberapa kemungkinan latar belakang yang dibuat :

(1) Setelah menyadari adanya suatu permasalahan kehidupan yang sedang dihadapi manusia atau masyarakatnya. Masalah kehidupan yang sedang hangat dibicarakan dalam buku ini disebut ”topik masalah” Topik masalah inilah yang menyadarkan seorang pemikir untuk berperan memecahkan sejumlah rumusan masalah penelitian yang terkait dengan topik masalah itu tadi.

(2) Setalah menyadari potensi permasalahan di masa datang setidaknya menurut pandangan dan pertimbangan teoritis dari suatu bidang keilmuan. Potensi permasalahan itu perlu diantisipasi pemecahannya. Sehubungan dengan itu diperlukan penelitian terhadap butir-butir permasalahan yang secara khusus telah dirumuskan.

Dari suatu topik masalah penelitian dapat dirumuskan satu atau lebih butir masalah penelitian. Ada lima tipe topik masalah penelitian yang dapat digarap oleh seorang peneliti. Mahasiswa S1 dianjurkan memilih masalah tipe 1 atau 2 pada tabel dibawah ini :

Tipe Alasan mengapa dipermasalahkan

Tipe 1 Keperluan mendeteksi penyebab terjadinya suatu fenomena yang merugikan atau menguntungkan agar gejala dan akibat lanjutannya dapat diatasi atau dipacu

Tipe 2 Keperluan Memperbaiki kesalahan kebijaksanaan peruahaan (pemerintah) yang tengah berjalan agar kelemahan-kelemahan yang ada dapat diatasi

Tipe 3 Keperluan meramalkan akibat positif dan negatif dari suatu kebijaksanaan baru, langkah dini dapat diarahkan untuk menaikkan yang positif dan menihilkan yang negatif.

Tipe 4 Keperluan mengkuantitatifkan strategi kebijakan yang masih konsepsional sehingga dapat menjadi operasional.

Tipe5 Keperluan membuat pendekatan baru atau alternatif guna meningkatkan ketelitian pengukuran mengenai cara pengukuran yang telah dirumuskan oleh teori lain atau peneliti sebelumnya

Dari suatu topik yang menarik untuk diteliti diperlukan langkah merumuskan masalah. Adapun langkah untuk merumuskan masalahan penelitian dapat menggunakan satu atau dua dari teknik berikut :
(1) Teknik pengenalan Beda Garis Fenomena Ideal terhadap Garis Fenomena Nyata (teknik BEGFI-GAFETA)
(2) Teknik pengenalan Efek Benturan Dua Arus Fenomena Berlawanan Arah (Teknik EBDA-FENOBA)

Dalam memilih rumusan masalah penelitian yang akan dijadikan awal penelitian, maka perlu diperhatikan ketentuan sebagai berikut ; Ciri-ciri pernyataan Masalah Penelitian yang baik

1) Masalah yang dipilih harus mempunya nilai penelitian
a. Masalah harus mempunyai keaslian
b. Masalah harus menyatakan suatu hubungan
c. Masalah harus merupakan hal yang penting
d. Masalah harus dapat di uji
e. Masalah harus mencerminkan suatu pertanyaan

2) Masalah yang dipilih dengan bijak, artinya :
a. Data serta metode untuk memecahkan masalah harus tersedia
b. Biaya untuk memecahkan masalah, secara relatif harus dalam batas-batas kemampuan
c. Waktu memecahkan masalah harus wajar
d. Biaya dan hasil harus seimbang
e. Administrasi dan sponsor harus kuat
f. Tidak bertentangan dengan hukum dan adat

3) Masalah dipilih dengan kualifikasi peneliti
a. Menarik bagi peneliti
b. Masalah harus sesuai dengan kualifikasi peneliti
Seorang mahasiswa harus bersungguh-sungguh dalam upaya mengidentifikasi dan merumuskan ”masalah penelitian”. Upaya membuat skripsi atau tesis untuk gelar kesarjanaannya, tak lain mempraktekkan kegiatan penelitian secara mandiri. Ketika itu dia bertindak sebagai peneliti pemula dan ia sebenarnya sedang digodok menjadi seorang ”Problem solver” (pemecah masalah kehidupan) yang efektif.

Manfaat Penelitian Skripsi Mahasiswa yang Terbimbing Baik

1) Bagi Lembaga
 Orisinilitas karya tulis sarjana yang ditelurkan lebih terjamin dan lebih terasakan
 Mutu Sarjana yang diluluskan lebih tinggi dan handal
 Kegiatan akademik di Kampus akan lebih hidup dan berbobot

2) Bagi Mahasiswa
 Mendapat pengalaman meneliti yang berharga
 Mendapat pembinaan diri menuju pribadi berkualitas
 Mempersembahkan hasil karya yang dapat membanggakan

3) Bagi Dosen Pembimbing
 Menambah penalaran ilmu khususnya pengetahuan terapan
 Menambah khasanah data dan informasi yang terpercaya
 Menambah tajam wawasan keilmuan dan prestasi akademik

Tulisan Lainnya:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *