09 November 2010

Merubah Paradigma Teksbook menjadi Mindbook

Itulah yang terjadi saat ujian tengah semester pagi ini (9/11/2010) degan sistem openbook yang lebih menekankan pada nilai inprovisasi dalam menjawab soal ujian, penulis sudah melaksanakan teknik openbook tiga tahun yang lalu. Sulitkah soal dengan sistem ujian ini ? 80 % lebih bersifat analisa soal dan selebihnya pengetahuan terhadap mata kuliah. didalamnya ada kemandirian karena kompetensi utamanya dari mata kuliah metodoogi riset ini adalah kemampuan mahasiswa memformulasikan dari masalah menjadi sebuah judul skripsi sesuai dengan jurusannya. tujuannya pembelajaran akan lebih paham bukan sekedar plagaiat dari skripsi kakak tingkatnya yang ada di perpustakaan. Dan pemahaman tentang formulasi masalah kemudian menjadii sebuah judul penelitian.

Ada yang berpendapat bahwa pendidikan di Indonesia merosot akibat lemahnya disiplin para siswa/ mahasiswanya. Teman yang pernah berkunjung kebeberapa  pimpinan perguruan Tinggi Negri terkemuka di  Jawa yang baru saja pulang dari study banding ke kampus - kampus di China,  India, Amerika, Australia dan Eropa.
 
  Beliau melihat, betapa seriusnya para mahasiswa di perguruan tinggi asing  tersebut dalam menuntut ilmu, yang terlihat dari upaya para mahasiswa untuk memahami teksbook wajib mereka. Di kampus yang beliau pimpin, mahasiswa terlihat enggan baca teksbook wajib,  dan cenderung hanya membaca diktat yang telah dibuat oleh dosen dan merupakan 
ringkasan dari teksbook.
 
  Ada beberapa kendala yang dihadapi oleh Mahasiswa Indonesia dalam memahami Teksbook wajib, antara lain kendala bahasa, karena Teksbook wajib umumnya dalam  bahasa inggris atau bahasa Eropa (Jerman, Belanda, Perancis, dsb).
Untuk Mahasiswa India, karena Bahasa Inggris merupakan bahasa kedua mereka,  dalam kehidupan sehari - hari, jadi tidak ada masalah.
Kalau di China, pemerintah menterjemahkan seluruh teksbook, termasuk jurnalnya kedalam tulisan dan bahasa mandarin, sehingga mahasiswa di China tidak punya masalah dalam memahami teksbook wajib.
 Akibatnya Mahasiswa di Indonesia enggan untuk membaca teksbook wajib dan  cenderung membaca diktat yang dibuat oleh dosen yang bersangkutan.
 Ada lagi soal kualitas ujian.
 
  Kalau di beri soal yang sedikit rumit dari dosen, mereka mengeluh dan menuduh  dosennya Killer.
Akibatnya sarjana lulusan perguruan tinggi yang dia pimpin, ternyata banyak yang hanya mengandalkan diktat dari dosen yang bersangkutan dan tidak terlalu 
memahami teksbook wajib mereka.
 
  Dosen juga mengeluh, karena Mahasiswa dengan IP yang tinggi, ternyata belum  tentu memahami mata pelajaran tersebut dengan baik.
Penyebabnya si mahasiswa dapat nilai bagus bukan karena dia telah memahami  masalah yang diujikan dengan baik, tetapi didapat dari hasil menghafalkan soal 
yang pernah keluar, sedangkan dosen punya keterbatasan kreatifitas dalam membuat soal. 

Mahasiswa teksbook
Mahasiswa textbook sebutan mahasiswa yang selalu terfokus pada buku teks dan fotokopian yang diberikan dosennya tanpa adanya improvisasi pengembangan materi perkuliahan, jelas ini hampir kita dapati dikalangan mahasiswa kita yang malas memperluas isi kajian perkuliahan dengan berbagai alasan kurangnya sumber literatur sehingga mereka hanya mengandalkan catatan resmi dari sang dosen dan budaya tekbook itu hal yang sudah biasa dalam sistem pendidikan kita yang selalu berorinetasi hapalan bukan pemahaman. 

Banyak bukti kenapa pembelajaran bahasa di kita kurang begitu berhasil, apa yang kurang dengan pembelajaran bahasa inggeris yang diajarkan sejak TK sampai perguruan tinggi dan hasilnya mereka secara gramatikal menguasai tapi dilihat dari komunikasi masih banyak yang belum begitu menguasai. Kuncinya budaya verbalisme dalam sistem pendidikan kita yang membentuk sampai kita menjadi sarjana sekalipun. sehingga wajar banyak sarjana kita yang secara keilmuan baik tapi kemandiriannya sebagai intelektual dirasa masih jauh. Mereka masih saja menginginkan dunia priyayi yang duduk diatas kursi dan mendapat gaji rutin baik bekerja maupun tidak. Jiwa kemandiriannya sebagai intelektual untuk menciptakan dunia kerja dan wirausaha hanya dimiliki oleh orang luar.

Intinya perlu adanya perubahan paradigma tentang cara pembelajaran kita, hilangkan budaya mendikte, mencatat dan budaya meng-copy, sesering mungkin bedah kasus yang riel yang ada dalam kehidupan nyata, selain penugasan langsung untuk belajar mengamati dan mengadakan riset sehingga terbiasa dengan problem solving akan mematangkan pemahaman para mahasiswa dalam beradptasi antara teori dengan aplikasi di masyarakat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tulisan Lainnya:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *